Radio Nederland Siaran Indonesia - Ranesi.
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/cina_incar_afrika061106
Cina Terus Incar Afrika 
Erwin Tuil

06-11-2006


Dalam empat tahun mendatang Cina akan mengeluarkan dana sebesar sembilan milyar 
euro untuk pembangunan Afrika. Separuhnya merupakan pinjaman dan kredit, 
separuh lain dalam bentuk penanaman modal. Sehatkah hubungan Cina Afrika?

Mitra alamiah
KTT Cina Afrika di ibukota Beijing diakhiri dengan penandatanganan 16 
kesepakatan dagang senilai satu setengah milyar euro. Walaupun KTT ini 
semata-mata punya makna simbolis, pesan yang ingin disampaikan para pemimpin 48 
negara Afrika dan tuan rumah Cina juga jelas. Cina dan Afrika adalah mitra 
alamiah. Mereka saling paham dan saling menghargai dan itu membuat kontak 
negara negara-negara Barat menjadi lebih mudah.

Afrika punya banyak minyak, bahan tambang lain dan kayu, tetapi tidak punya 
uang dan pengetahuan untuk mengolah sumberdaya alamnya. Cina punya uang dan 
pengetahuan yang dengan senang hati menawarkannya. Maklum perekonomian Cina 
sangat membutuhkan minyak dan bahan tambang lain.

Tidak peduli HAM
Bagi Beijing, KTT Cina Afrika adalah kesempatan tulus yang juga membahas 
kepentingan kedua pihak. Para kritisi barat meragukannya. Alasannya, Cina tidak 
berminat pada masalah hak-hak azasi manusia, demokrasi, pemerintahan yang baik 
dan keterbukaan. Tanpa ini semua maka Afrika tidak akan maju, demikian para 
pengecam itu.

Contoh terpenting politik luar negeri Cina yang kontroversial adalah masalah 
Sudan. Negara itu diancam karena pelanggaran hak-hak azasi manusia yang berat 
di provinsi Darfur. Tetapi Cina tidak ingin menerapkan sanksi terhadap Sudan. 
Sebagai negara penghasil minyak, Sudan banyak mengekspor ke Cina dan sebagai 
gantinya Sudan memperoleh kredit dan senjata.

Penulis dan pakar Cina James Kynge punya penjelasan sederhana. Cina begitu 
butuh banyak minyak dan bahan mentah lain sehingga tidak bisa pilih-pilih 
negara mana yang dijadikan mitranya.

Tidak menggembirakan
Bagaimanapun juga tidak bisa dibantah bahwa Cina memang sudah memompakan dana 
bermilyar-milyar dolar ke benua Afrika. Akhir pekan silam Beijing berjanji 
memberi bea siswa pada 19 ribu mahasiswa Afrika untuk kuliah di Cina. Bagi 
beberapa negara Afrika, hambatan dagang ke Cina disingkirkan sebagian. Beijing 
juga menjanjikan bantuan kesehatan dalam skala besar.

Sekilas neraca perdagangan Cina-Afrika tampak sehat. Impor dan eskpor tidak 
banyak berubah. Tetapi apabila diamati lebih lanjut, maka gambaran yang ada 
tidaklah menggembirakan. Cina mengimpor minyak, biji-bijian, dan kayu dari 
Afrika. Sebaliknya Afrika mendatangkan barang-barang elektronika, pakaian, 
mainan, dan sepatu dari Cina.

Namun banyak ladang minyak dan pertambangan di Afrika yang memasok bahan-bahan 
mentah untuk menopang pertumbuhan ekonomi Cina itu, berada di tangan para 
pengusaha Cina. Memang Cina melakukan alih teknologi tapi pekerjaan-pekerjaan 
kotor dan berat dilakukan oleh penduduk setempat.

Konflik
Ini seringkali menimbulkan konflik perburuhan. Awal tahun ini, para pekerja 
tambang Zambia berkelahi dengan pihak majikan, karena upah dan kondisi kerja. 
Untuk mencegah konflik semacam itu maka sejumlah perusahaan Cina mendatangkan 
karyawannya sendiri. Jadi mereka tidak butuh penduduk setempat lagi.

Masih harus ditunggu apakah Cina menjadi berkat atau laknat bagi Afrika. Untuk 
saat ini banyak negara yang tampaknya gembira dengan raksasa ekonomi baru yang 
tidak suka menggurui ini.

Attachment: 12406263
Description: Binary data

Kirim email ke