Sebenarnya hanya ada dua-tiga kampus yg demonya seringkali bikin susah orang satu kota Makassar, kebetulan ketiga kampus ini berdomisili di jalan2 utama. Ketiga kampus ini adalah kampus Universitas Muslimin Indonesia (UMI), IKIP Negeri Makassar dan IAIN Sultan Alauddin (lupa nama baru IKIP dan IAIN, padahal baru 2 hari lalu dikasih tahu).
Yg paling sering dan paling merepotkan adalah demo mahasiswa2 kampus UMI yg menguasai jalan poros utama Makasar-airport-Maros. Walaupun ada jalan alternatif yg relatif sepi, ttp kendaraan umum untuk rakyat kecil umumnya lewat jalan depan kampus UMI yg lebih padat pemukiman dan perkantoran. ungkin saja rektor dan pejabat2 UMI 'takut' sama mahasiswa2-nya sendiri. Sebab sewaktu ada demo2 mahasiswa UMI bikin susah rakyat kecil, rektor dan pejabat kampus UMI biasanya pura2 tak tahu menahu demo tsb (padahal semua orang yg keluar-masuk kampus UMI pasti melihat demo2 tsb). Ttp begitu polisi menyerbu kampus untuk mengejar mahasiswa UMI yg demo dg cara kasar, rektor dan pejabat UMI yg lain ikut2-an protes ke polisi dg mengatas-namakan HAM dsb. Emangnya bikin macet jalan selama ber-jam2 dan membuat banyak penumpang kendaraan umum terpaksa jalan kaki ber-kilo2 meter tidak melanggar HAM? Beberapa kampus, termasuk Unhas dan satu STIMIK terbesar di Makassar, berada di jalan yg sama dg kampus UMI, ttp mahasiswa2 kedua kampus besar ini jarang sekali demo bakar2 ban sampai bikin macet kampus. Hanya kalau bicara tawuran antar fakultas di Unhas, sudah beberapa kali ada tawuran Unhas (bahkan pernah merembet sampai membakar laboratorium teknik perkapalan), beritanya beberapa kali dimuat di Media Indonesia, bahkan di salah satu editorialnya. Salam --- In [email protected], "IrwanK juga" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya kira sudah harus ada yang menyampaikan kritik langsung kepada Mahasiswa > di Makassar soal ini. Karena kalau tidak akan merusak nama (semua) mahasiswa > yang tidak ikut campur berdemo mengangkat isu yang berbau SARA ini.. > Karena bagaimanapun juga peran Mahasiswa dalam demo yang benar" penting > (mis: saat Reformasi) tidaklah bisa disangkal keberadaannya.. > > Yang paling disayangkan adalah kalau demo tersebut digerakkan kalangan > tertentu.. > ibaratnya mempersiapkan 'bara api', yang suatu waktu siap dibesarkan.. > Situasinya mungkin agak mirip dengan demo" di berbagai tempat (atau bahkan > bom) > pada saat ada tuntutan terhadap keluarga Cendana.. > CMIIW.. > > Wassalam, > > Irwan.K
