AS dibawah Bush melibas Saddam karena khawatir
diktator Iraq itu kembali membuat senjata pemusnah
massal yang diberikan kepada teroris yang akan
menggunakannya di kota-kota Amerika dengan korban yang
jauh lebih besar dari serangan terror 11 September. 

Setelah ternyata tidak ditemukan senjata pemusnah
massal, AS merasa memiliki tanggungjawab internasional
untuk menjaga agar Iraq jangan menjadi negara yang
tercabik-cabik dan menjadi sarang persembunyian
teroris seperti Afganistan sebelum dan sewaktu
dikuasai Taliban. 

Bush berpendapat, mendorong dan memajukan demokrasi di
berbagai negara Timur Tengah: Iraq, Libanon,
Palestina, Mesir, Yordania, Kuwait, Arab Saudi, dengan
sednirinya akan menciptakan kestabilan di seantero
Timur Tengah. 
Masalahnya hanya, upayanya itu ternyata tidak bisa
terwujud dengan cepat karena menghadapi banyak kendala
antara lain dari mereka yang berkukuh hendak
mempertahankan status quo. 

Kalau permusuhan antar sekte, AS bukannya tidak tahu,
malah tahu benar. Bahkan itulah yang digunakan sewaktu
menyerbu Iraq dengan men-drop pasukan elit Special
Forces yang menyamar sebulan-dua bulan sebelum serbuan
dilancarkan untuk melakukan kasak-kusuk di belakang
layar di tingkat lokal. Coba lihat ketika ribuan tank,
panser dan kendaraan berat pengangkut pasukan
melakukan gerakan kilat dari Kuwait ke Bagdad
melintasi Iraq selatan, mereka praktis tidak ditentang
di wilayah Syiah itu kecuali di Nassiriyah. Dan
pasukan Amerika sama sekali tidak berusaha merebut
kota-kota syiah yang dilewati. Tujuan mereka langsung
istana Saddam di Bagdad. 

Kalau kesalahan, menurut saya blunder yang dilakukan
Bush di Iraq adalah membubarkan angkatan bersenjata
dan kepolisian Iraq yang berkekuatan 320 ribu anggota
tak lama setelah AS menduduki Iraq (di masa Paul
Bremmer menjadi gubernur/administrator AS di sana).
Pembubaran atas tuntutan pihak Syiah ini tanpa
disertai pensiun atau santunan apapun juga. Bayangkan
sakit hati mereka.

Selain itu atas tuntutan Syiah juga, Partai Baath yang
berideologi sosialisme Arab dinyatakan sebagai partai
terlarang dan mereka yang pernah terdaftar sebagai
anggotanya ditendang dari tatanan politik dan
pendidikan Iraq. Posisi mereka digantikan oleh orang
Syi'ah atau Kurdi. Lalu dibentuk angkatan bersenjata
dan kepolisian yang sama sekali baru dengan dilatih
oleh pasukan koalisi. (Di kemudian hari sejumlah
kolonel dan jenderal bintang satu dan bintang dua yang
tidak terlalu dekat dengan Saddam ditarik masuk
kembali.)

Inilah yang menjadi peniup bara permusuhan yang sudah
lama ada antara Sunni dan Syiah. Karena sebagian besar
tentara dan pegawai anggota partai yang dipimpin
Saddam itu adalah Sunni.

Banyak yang menuduh AS menyerang Iraq karena minyak.
Nyatanya semua kontrak yang berkait dengan perminyakan
yang ditandatangani Saddam dengan kontraktor dari
negara-negara lain, baik penambangan maupun eksplorasi
tetap dihormati oleh AS. Menyerbu Iraq ternyata tidak
menyebabkan harga turun di pompa bensin Amerika, malah
membubung. 

Dalam hal pembangunan kembali Iraq, dananya disediakan
satu konsorsium yang terdiri dari belasan negara dan
pelaksanaannya juga dilakukan oleh mereka bersama
pemerintah Iraq. Bukan AS sendiri. Demikian sisi
pandang saya dan apa yang saya ketahui.

--- helsing744 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Agaknya pepatah yg mengatakan "jangan mengukur sepatu
orang lain dgn sepatu sendiri" sangat relevan dalam
hal ini.

As yg "sok tahu" masalah dalam negeri Irak semula
berniat ´baik hati´ untuk membantu rakyat Irak keluar
dari diktator super buas Saddam Hussen.

Niat AS sendiri memang bagus, tapi kalkulasi yg
dilakukan AS ternyata melesat jauh dari, estimasi
mereka pada keadaan pasca perang bisa dikatakan salah
total, mereka BUTA pada latar belakang religius 
rakyat Irak, sengketa antara Sunni, Syiah dan Kurdi
sama sekali tidak diperhitungkan oleh AS, finally, As
kelabakan menghadapi suasana chaos perang sipil di
Irak antar sekte, disini posisi As semakin terpojok,
mau membela salah satu sekte (sunni atau syiah) jelas
sangat tidak menguntungkan AS,mau menumpas mereka
jelas tidak bisa.

Sekarang, masyarakat internasional dan rakyat AS
sendiri malah mencibir AS / Bush, tuduhan biang kerok
atas chaos di Irak tak bisa mereka tepis.

Bagi saya, senang melihat Saddam Hussen si maniac
darah yg rakus harta, kedudukan dan hormat ini
tersingkir dari tahta tapi menangis melihat kondisi
rakyat Irak sekarang ini.

Mustinya, AS dulu cukup mengirim CIA atau Nick Carter
-special agent AXE- untuk menyingkirkan Saddam Hussen
dan membantu rakyat Irak dgn diam2 (dgn dana segar
misalnya) guna mewujudkan tatanan masyarakat 
yg demokratis dan makmur.

Masalah "bagi hasil minyak" kan bisa dibicarakan
belakangan?

Regards,



 
____________________________________________________________________________________
Want to start your own business?
Learn how on Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/r-index

Kirim email ke