Bung Joko dan teman2 korban Orba di Eropa,

 

Mohon maaf seribu maaf, dengan mempergunakan kata „kelayaban“ saya tidak 
bermaksud menghina atau merendahkan derajat teman2 sekalian (termasukdiri saya 
sendiri). Saya hanya – kalau tidak salah – mengulang istilah yang dipergunakan 
oleh Presiden RI tahun 2000 (Gus Dur). Gus Dur mempergunakan istilah tsb untuk 
kita yang dicabut paspornya oleh rezim Orba dan terpaksa sampai sekarang 
berdomisili di luar negeri.

 

Saya harap dengan penjelasan ini, mis-understanding bisa kita clear-kann.

 

Wassalam,

 

wrw

 

   _____  

Von: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Im Auftrag von Joko Surendro
Gesendet: Sunday, November 26, 2006 1:27 PM
An: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Betreff: Re: [nasional-list] Kunjungan Menkumdang & HAM Dr. Awaludin Hamid ke 
Eropa

 

Atas informasi Dr. Wirantaprawira tsb di bawah perlu kita berterima kasih.

Tapi dengan disisipkannya sebuah kata KELAYABAN bagi orang-orang yang dicabut 
paspornya dan yang terhalang pulang lainnya berkaitan timbulnya perisstiwa 
1965, adalah suatu penghinaan terhadap mereka.

Ini adalah pendapat dari kawan-kawan kita di Eropa yang termasuk dalam orang 
kategori tersebut. Jadi saya hanya sekedar menuturkan kembali di milis ini, 
sebagai rasa solidaritas saya.

 

Kalau Dr. Wirantaprawira (maaf, mohon jangan dicampur adukkan dengan MD 
Kartaprawira) tidak tahu arti kata "kelayaban" (bahasa Jawa), maka jangan 
sembarangan menggunakannya. Kata "kelayaban" biasanya diartikan ngluyur, 
jalan-jalan ke mana-saja tanpa tujuan tertentu, hanya iseng-iseng melulu.

 

Jadi sebuah perkataan "kelayaban" dari  Dr. Wirantaprawira sudah melukai hati 
mereka yang puluhan tahun menderita untuk mempertahankan hidupnya dan idealis 
perjuangan untuk nusa dan bangsa Indonesia, yang karena dicabut paspornya 
sehingga tidak bisa pulang kembali ke Indonesia. Apakah Dr. Wirantaprawira 
mengetahui hal ini?

 

Mereka bukanlah semacam orang-orang (mahasiswa) yang saat peristiwa 1965 bisa 
pulang kembali ke tanah air (karena mendukung politik Suharto), tapi kemudian 
kembali dengan segala jalan berkelayaban di Eropa dengan maksud untuk 
mendapatkan penghidupan yang lebih nyaman, sebab di Indonesia tidak mendapatkan 
apa-apa yang dicita-citakan.

 

Jadi saya sayangkan penempelan kata "kelayaban" kepada mereka-mereka yang 
dilanggar hak asasinya oleh rejim Orde Baru berkaitan timbulnya peristiwa 1965.

 

Mohon maaf kepada semuanya yang merasa tersinggung. Penulis hanya menyatukan 
solidaritasnya kepada nasib kawan-kawan yang ditempeli kata "kelayaban" 
tersebut di atas.

 

Salam,

J.Surendro

 

 


----- Original Message ----- 
From: Dr. Wirantaprawira 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, November 23, 2006 7:17 PM
Subject: [nasional-list] Kunjungan Menkumdang & HAM Dr. Awaludin Hamid ke Eropa


Teman2 Ex-Mahid dan korban2 Orba yang kelayaban di Eropa,

Menurut berita terlampir ini, Menkumdang & HAM Dr. Hamid Awaludin, sekitar 
tanggal 7 Desember 2006 yang akan datang akan mengikuti Konferensi „EU – 
Indonesia Day - Pluralism and Democracy: Indonesia Perspectives“ di HQ Uni 
Eropa di Brussel.

Sehubungan dengan „janji“ beliau mengenai sosialisasi UU Kewarganegaraan RI 
yang baru, yang bersangkutan dengan persoalan pencabutan sewenang-wenang 
kewarganegaraan RI kita, kemungkinan besar Menkumdang & HAM Dr. Hamid Awaludin 
sebelum atau sesudah menghadiri konferensi tsb diatas akan berkunjung ke 
Netherlands atau ke Perancis. Harap kita siap2 saja untuk „menyambut“ 
kedatangannya di KBRI setempat.

Mari kita persiapkan bersama segala pertimbangan, saran2, keberatan2 dan unek2 
kita yang ada hubungannya dengan pemulihan kewarganegaraan kita tanpa solusi 
pelanggaran HAM dan tanpa pencabutan undang2 dan peraturan2 hukum yang 
diskriminatif terhadap korban2 Orba.

Wassalam,

Willy R. Wirantaprawira

************-*********-********

The European Commission and the European Institute for Asian Studies
are pleased to invite you to

EU-Indonesia Day
Pluralism and Democracy: Indonesian
Perspectives

Thursday, 7 December 2006
9.00 18.15 hrs

European Commission, Charlemagne Building - Meeting Room S4
Rue de la Loi, 170 1049 Brussels

The conference addresses challenges facing Indonesia as an emerging democracy 
and prospects for EU-Indonesia relations for the next few years. The 
“EU-Indonesia Day” will assemble around 100 participants (officials, diplomats, 
parliamentarians, academics, NGOs, think tanks) from EU and Asian countries.
Panels to be held during this event:

Panel 1: Religion and Politics
Panel 2: Democracy and Conflict Resolution
Panel 3: Indonesia in the new East Asian Context
Please find the draft agenda and registration form attached. 
Please confirm your attendance before 1 December 2006, 
by e-mail: [EMAIL PROTECTED], 
or by fax:++32 4 344 28 08

For enquiries with regard to the meeting, please contact:
Vincent DEPAIGNE, European Commission, Brussels
[EMAIL PROTECTED]

Security requirements in EU buildings require participants to bring along their
invitation and valid ID card. Please allow ample time to enter the Charlemagne 
Building on the morning of the 7th security clearance can cause some delays.

European Institute for Asian Studies
European Commission,
DG External Relations

EU-Indonesia Day1
Pluralism and Democracy: Indonesian Perspectives

7 December 2006
European Commission, Charlemagne Building - Meeting Room S4
Rue de la Loi, 170 1049 Brussels

09:20 Welcome by Seamus Gillespie, Head of Unit (SE Asia), European Commission
09:30 Opening speech: H.E. Dr Benita Ferrero-Waldner, Commissioner for external 
Relations
Keynote address: H.E. Dr Hamid Awaluddin, Minister of Justice and Human Rights 
(tbc)
10:15 Coffee
10:30 Panel 1: Religion and Politics

Independent Indonesia was created neither as a strictly secular nor as a Muslim 
State.
Today, the identity question re-emerges. Are politics becoming more influenced 
by
religion and is religious tolerance the hallmark of Indonesia?s Islam under 
threat?
Are religious forces, from majority Islam and from the other minority religions,
responding properly to the challenges to nurture the values of democracy and 
pluralism?
To what extent can Europe contribute?

Moderators:
Gadis Arivia, Lecturer, Philosophy Department of Universitas Indonesia
Nico Schulte-Nordholt, Professor, University of Twente

Panelists:
o Ma’aruf Amin (Indonesia Council of Ulamas, MUI),
o Din Syamsuddin (Muhammadiya)
o Syafii Anwar (International Centre for Islam and Pluralism, ICIP, Jakarta)
o Prof Franz v. Magnus-Suseno, Driyarkara Philosophical University, Jakarta
o Olivier Roy, Centre for International Studies and Research (CERI), 
Sciences-Po,
Paris

Closing Statement:
Hervouanjean, Deputy Director General External Relations
12:30 Lunch offered by the European Commission
1 Full list of speakers to be confirmed

European Institute for
Asian Studies
European Commission, DG External Relations

14:00 Panel 2: Democracy and Conflict Resolution
Within a short span, Indonesia has undergone a most remarkable transition from 
authoritarian to democratic government. In addition, violent domestic conflicts 
have been addressed. What are the forces behind such changes and what forces 
are opposing change? Can conflict resolution ࠬa indon鳩enne serve as a model for 
other conflicts in the region? Again, the question of a possible European 
contribution will be raised.

Moderators:
Willem van der Geest, Director, European Institute for Asian Studies
Wiryono Sastrohandoyo, Member of the Board, Centre for Strategic and 
International
Studies (CSIS), Jakarta

Panelists:
o Nursyahbani Katjasungkana and/or Djoko Susilo (Members of Parliament,
Jakarta)
o Aguswandi (Tapol) and/or Asmara Nababan, (former Secretary General of 
KomnasHAM, the national human rights commission; Director of Demos, Centre for 
Democracy and Human Rights Studies)
o Ati Nurbaiti (Jakarta Post) or Goenawan Moehamad, founder of Tempo
o J Kristiadi (Centre for Strategic and International Studies, CSIS, Jakarta)
o Gerry van Klinken (Royal Netherlands Institute of SE Asian and Caribbean 
Studies, KITLV)
o Romain Bertrand, Centre for International Studies and Research (CERI), 
Sciences-Po, Paris
o John Quigley, Editor, EurAsia Bulletin, European Institute for Asian Studies

16:00 Coffee

16:15 Panel 3: Indonesia in the new East Asian Context

Indonesia?s foreign policies seem again more assertive in the Southeast Asian 
context andbeyond. At the same time, an East Asian architecture is taking 
shape, building on olderand newer patterns, with China and India rising as 
regional superpowers. What visionsdo exist for the future and to what extent 
can Jakarta work with them to its advantage?
How can Europe contribute to the discussion, in particular within the ASEAN/ASEM
context?

Moderators:
Geoffrey Barrett, ASEM Coordinator, European Commission
Rodolfo C. Severino Jr., former Secretary-General of ASEAN

Panelists:
o Mr Dian Triansyah Djani, Department of Foreign Affairs, DG for ASEAN 
Cooperation
o Dr Rizal Sukma, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta
o Dr Sebastian Bersick, European Institute for Asian Studies
17:45 Concluding session
Mr Wiryono Sastrohandoyo, Member of the Board, Centre for Strategic and 
International Studies (CSIS), Jakarta
18:15 End of Conference

-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.430 / Virus Database: 268.14.14/547 - Release Date: 11/22/2006 
5:41 PM


[Non-text portions of this message have been removed]

  

   _____  

Want to start your own business? Learn how on HYPERLINK 
"http://us.rd.yahoo.com/evt=41244/*http:/smallbusiness.yahoo.com/r-index"Yahoo! 
Small Business.

 


--
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.430 / Virus Database: 268.14.16/552 - Release Date: 11/26/2006 
11:30 AM



-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.430 / Virus Database: 268.14.16/552 - Release Date: 11/26/2006 
11:30 AM
 

Kirim email ke