--- In [email protected], Betha Aris <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > --- Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Tidak ada paksaan dalam beragama. Silahkan mereka > > memilih agama apapun, > > sepanjang perjalanan spiritual mereka membawa > > langkahnya ke arah sana. > > Memang betul, agama atau keyakinan adalah salah satu > hak setiap pribadi, begitu juga kita (e.g sebagai > ummat beragama juga wajib mentolerir keadaan > tersebut). Tetapi satu hal yang sangat tidak terpuji > ketika penyebaran agama kepada orang lain yang SUDAH > beragama. Dari sana secara implisit terdapat sebuah > pemaksaan keyakinan. > > > Silent on the Middle >
Memang ini konyol sekali. tak jarang berdering bell di rumah saya. ketika saya tanya "siapa" dan "mau apa", dijawab "nama saya anu, saya ingin berbicara dengan anda soal iman". Hahhh, saya pikir, kenal saya juga belum, bicara lewat alat pembuka pintu, sudah mau berbicara soal iman.. Saya katakan, kalau mau "mengimankan" orang, tanya dahulu, apakah orang itu beriman atau tidak. ketika sampai pada kata "Injil", ujung ujungnya, dia katakan, apakah saya memakai Injil yang benar. Lhooo.. Seharusnya mungkin sebaliknya ya? kalau orang mau masuk agama kita, kita harus yakinkan dia, untuk benar benar memahami agamanya sendiri terlebih dahulu.. Salam Danardono
