Kita seringkali berada pada situasi dimana kita "ngga tau mau ngapain". Kemudian keresahan karena "we have nothing to do", bergerak menjadi sebuah ancaman yang menggerogoti harga diri kita (terutama pria). Akibatnya, kita sering merasa tolol. Tidak berguna, bodoh, dan depresi.
Suatu penelitian tentang self-esteem mengatakan bahwa: "Male's self-esteem depends on what he did." Harga diri pria terletak pada apa yang bisa kita lakukan. Itu pengalaman saya. Saya adalah orang yang selalu depresi, tertekan dengan kenyataan bahwa saya seringkali tidak mampu mencapai prestasi yang baik. Kumpul skripsi tidak sempurna, merasa terancam dan kalah. Kata teman saya, pria seringkali terikat dengan satu hasrat untuk 'dibutuhkan'. Bila berpacaran dengan wanita mandiri, pria2 model ini mungkin akan selalu merasa tidak berharga-patah semangat-dan depresi berat. Karena dalam banyak hal, kebutuhannya untuk 'dibutuhkan' oleh lawan jenisnya (yang mandiri) tidak terpenuhi. Saya juga mengalami banyak masalah dengan harga diri. Impian dan kesuksesan membuat saya mengejarnya untuk menjadi pembuktian bahwa diri saya berharga, keren, cool, bermutu, dst. Bisa pakai baju rapih ke kampus, merasa menjadi pria sejati, keren, dst. Kutub dalam diri saya, saya pusatkan pada bagaimana supaya diri saya menjadi berharga, dan lebih berharga dari sekarang. Itu yang menyebabkan ide2 seperti kesuksesan, perfeksionisme, keren, dst, menjadi sasaran utama saya. Sasaran yang melelahkan. Membuahkan rasa serba tidak puas yang kronis. Kadang juga menjadi sasaran yang meremukkan diri saya dan jiwa saya. Jujur saja, menulis dalam blog ini, berusaha menjadi pengaruh untuk orang lain, juga salah satu pengejaran saya akan keberhargaan diri saya. Saya masih mengijinkan kelemahan itu untuk tetap menguasai saya saat ini. Pikiran2 orang yang dikuasai oleh ambisi untuk pembuktian diri, selalu dipenuhi oleh ketidakpuasan. Orang seperti itu pasti akan menderita: insomnia, stress karena standar ideal tidak tercapai, exhaustion (kelelahan), tidak berdaya, berpikir pendek: bunuh diri. Itu adalah hal2 yang sering saya alami. Kebalikan dari pengejaran ambisi untuk menjadi 'seseorang', adalah penghancuran 'image' dengan melakukan tindakan2 sedemikian rupa supaya diri kita nampak buruk. Saya sering merokok. Pada saat saya merokok, saya ingin menunjukkan pada dunia, bahwa saya ini buruk, tidak berharga. Selain karena dorongan nafsu, dorongan terkuat untuk tindakan negatif adalah karena pikiran yang terdepresi karena self image yang negatif. Image sempurna maupun buruk, adalah ambisi pembuktian diri yang sama2 fatal akibatnya. Sifat kronis dalam upaya pembuktian diri dengan mengejar image yang sempurna, sama mengerogotinya dengan upaya menghancurkan image diri kita. Namun, ada sebuah kebenaran yang memerdekakan: Harga diri kita tidak tergantung dari apa yang kita lakukan. Harga diri kita tidak tergantung dari siapa diri kita. Harga diri kita tidak tergantung dari apa yang kita capai dalam kehidupan ini. Harga diri kita tidak tergantung dari apakah anda bisa menulis indah dalam blog ini (seperti saya). Melainkan: Diri kita berharga, bahkan sebelum kita melakukan apa-apa, menjadi siapa, dan mencapai apa dalam hidup ini. Keberhargaanmu adalah nilai intrinsik yang tidak pernah terpengaruh oleh apa yang akan kamu capai, perbuatanmu, dan memiliki image tertentu. Ini adalah kebenaran yang faktual, selalu up to date, dan tidak terpengaruh oleh pikiranmu tentang apa yang seharusnya kamu menjadi. Tidak terpengaruh oleh apa yang akan kamu lakukan atau tidak. Tidak terpengaruh oleh standar keberhargaan diri yang sering kita rasakan bertebaran di dunia ini. Kita berharga di mata-Nya. Tanpa harus terhantui oleh ambisi untuk membuktikan (atau menghancurkan) diri, kita secara hakiki berharga. Pernyataan diri kita berdasarkan pernyataan Pencipta kita, sudah cukup untuk membuktikan keberhargaan diri kita. Dia sudah melekatkan label keberhargaan pada diri kita, tanpa kita perlu melakukan apa, mencapai apa, dan menjadi siapa. Posisi kita dalam pandangan-Nya adalah posisi yang aman. Di dalam kebenaran bahwa Tuhan menghargai hakiki kita dalam segala keadaan, akan membuat kita senantiasa puas, meski kita mengalami kegagalan. Hal ini membuat kita nyaman menjadi manusia biasa, dimerdekakan dari ambisi menjadi superman.
