Smack down memang tidak memberikan kontribusi yang baik bagi anak-anak.
Tetapi bukan berarti tayangan semacam itu adalah biang keladi dari
peristiwa-peristiwa kekerasan yang menimpa dan dilakukan oleh anak-anak.

Anggota DPR itu berteriak tentang Smack down khan setelah anaknya jadi
korban. Tetapi tidak terdengar gaungnya sebelum anaknya cidera.

Yang penting tetapi kurang diperhatikan adalah bagaimana pendidikan di
dalam keluarga itu sendiri. Jika program televisi tidak berisi acara
smack down tetapi sang bapak kerap memukul istri dan anaknya apakah ini
juga tidak berdampak buruk pada kehidupan anak-anak? Dalam tingkat yang
sederhana saja, jika anak nangis lantaran kecakar kucing peliharaan atau
anjing, maka orangtua akan mengatakan: siapa yang nakal? lalu
menenangkan si anak dengan memukul anjing atau kucing tersebut! Bisa
dibayangkan hari kemudian, jika si anak dapat mudah melayangkan
tangannya kepada anjing dan kucing tersebut. Intinya, kekerasan
digunakan untuk menyelesaikan masalah.

Gak usah jauh-jauh ke smackdown. Seringkali kita sibuk mencari akar
persoalan di sekitar kita dengan tendensi sikap anti-Barat. Akibatnya, 
ya seperti smackdown itu. Padahal kekerasan di dalam negeri jauh lebih
ngeri dampaknya terhadap anak-anak ketimbang tontonan semacam itu.








--- In [email protected], "OYR79.com" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
>
> Saya melihat Smackdown sebagai bom waktu buruknya kualitas siaran
televisi
> kita, yang baru saja meledak. Karena sebetulnya, Smackdown hanyalah
imbas
> dari tayangan-tayangan televisi yang tidak memerhatikan mutu edukasi
> melainkan terlalu mengedepankan segi entertain dan komersial.
>
> Jadi, kesalahan tidak melulu ada di pihak Lativi selaku yang
menayangkan
> Smackdown dan solusi memindahkan jam tayang bukanlah solusi yang
paling
> tepat, meskipun cukup bisa untuk membatasi.
>
> Dalam siaran Liputan 6 SCTV, salah seorang anak SD diwawancarai soal
> tayangan Smackdown. Ia kemudian menjawab bahwa ia menonton Smackdown
pada
> waktu puasa dari tengah malam sampai subuh. Nah, kalo sudah begini,
berarti
> tayangan jam berapa pun tidak menjamin akan bebas dari jangkauan anak.
>
> Belum lagi, ketika sedang berjalan-jalan di salah satu toko VCD dekat
tempat
> tinggal saya. Saya melihat si penjual VCD memajang VCD Smackdown
persis di
> samping VCD Teletubbies. Jadi, ditayangkan atau tidak oleh televisi,
> Smackdown tetap bisa dijangkau melalui VCD "bajakan"
>
> Kuncinya kini ada di orang tua. Bagaimana ia dapat mengawasi tayangan
apa
> yang dikonsumsi oleh anak-anaknya sendiri.
>
> Dalam ulasan Editorial Media Indonesia di MetroTV, saya melihat adanya
> kecenderungan pihak orang tua untuk selalu memersalahkan stasiun
televisi.
> Tetapi di samping itu mereka juga mengritik tayangan sinetron-sinetron
> lainnya yang mengandung unsur kekerasan dan tindakan amoral lainnya.
Hanya
> saja, pihak MetroTV & Media Indonesia tidak ingin melirik ke bahasan
tentang
> sinetron-sinetron dan tayangan-tayangan televisi lainnya, sebab diakui
atau
> tidak, banyak juga tayangan berita yang tidak pantas untuk anak-anak,
yang
> juga disiarkan oleh MetroTV.
>
> Bedanya, tayangan berita itu kan gak dikasih label SU, BO, dsb, dan
mungkin
> anak-anak masih malas nonton berita. Tapi... who knows?
>
> Intinya yang ingin saya garis bawahi di sini adalah kenapa Smackdown
> mendadak jadi kambing hitam ketidakterkontrolannya prilaku anak
sekarang?
>
> Jika media massa, khususnya pertelevisian, mau jujur dan mau terbuka.
> Smackdown itu hanyalah puncak dari peniruan-peniruan lainnya yang
dilakukan
> oleh anak-anak. Kenapa anak-anak mau menonton sampai larut malam?
Karena
> mereka telah dibentuk dengan sikap membangkang yang juga salah satunya
> akibat pengaruh tayangan TV lainnya. Jadi, nasihat orang tua pun
dianggap
> sambil lalu.
>
> Meski demikian, kesalahan tidak 100% terletak pada media massa. Toh,
> anak-anak bisa menonton lewat VCD atau DVD atau media lain. Kontrol
yang
> dilakukan oleh semua pihak sangatlah penting, mulai dari orang tua,
> lingkungan sekitar, guru dan masyarakat umum. Semuanya ikut memberi
andil
> dalam membentuk karakter anak.
>
> Jadi, anggap saja Smackdown sebagai malaikat maut yang telah membuka
> selubung kurangnya kontrol kita terhadap anak-anak.
>
> Sekarang tinggal berpikir solusinya. Gak perlu lagi mengungkit-ungkit
yang
> sudah berlalu
>
>
>
> _____
>
> This message is FREE from virus when I sent.
>
>
> Virus Database (VPS): 0651-0, 27/11/2006
> Tested on: 29/11/2006 20:48:39
>
>
>
>
>
> _____
>
> This message is FREE from virus when I sent.
>
>
> Virus Database (VPS): 0651-0, 27/11/2006
> Tested on: 29/11/2006 21:56:30
>
>
>
>
>
> _____
>
> This message is FREE from virus when I sent.
>
>
> Virus Database (VPS): 0651-0, 27/11/2006
> Tested on: 29/11/2006 23:36:18
>



Kirim email ke