Korban smackdown kebanyakan dari sekolah yang - maaf - tidak terkenal? Sebenarnya bukan masalah sekolah di sekolah elit atau bukan, tapi lebih ke masalah pengawasan ortu terhadap pola tonton anaknya. Kalau mau dikaitkan dengan level sekolah (yang bersekolah di sekolah tidak elit kebanyakan adalah dari kalangan kurang mampu, dengan demikian orang tuanya pun kebanyakan dari kalangan yang kurang berpendidikan, karenanya analisa serta level kesadaran akan bahaya sebuah tontonan pun kurang)sepertinya menjadi kurang tepat karena toh ada juga korban yang adalah anak anggota DPRD.
Jadi kembali lagi ke masalah pengawasan orang tua terhadap pola tonton anaknya, pendampingan sangat dibutuhkan, terutama pada usia 5- 10 tahun , dimana anak-anak sangat mudah sekali mengingat dan meniru apa yang didengar atau dilihatnya. Saya pribadi lebih prihatin dengan sinetron Indonesia yang jauh dibawah standar mutu pendidikan. Walaupun sinetron tersebut diberi embel-embel sinetron rohani, tapi menurut saya isinya malah tidak memberikan contoh yang baik, dengan banyaknya adegan2 kasar, kata- kata kasar serta perbuatan2 yang mencerminkan kejahatan. Anak kita toh belum bisa mencerna pesan yang ingin disampaikan oleh sinetron tersebut, mereka hanya menagkap apa yang mereka tonton selama 45 menit, ketimbang pesan rohani yang hanya disisipkan selama 3 menit saja di akhir acara. Atau sinetron-sinetron remaja yang jam tayangnya pada saat anak-anak masih menonton, yang banyak mengumbar adegan2 irasional dan kata- kata kasar pula - ada satu cuplikan sinetron yang saya benci, sinetron INTAN di RCTI : pada saat Meriam Belina memegang pisau dan mengancam bunuh diri di meja makan jika anak laki2nya tidak menggugurkan anak yg dikandung oleh pacarnya - di situ sang aktris berteriak-teriak "gugurkan Elo! gugurkaaaan!", sebuah adegan yang sangat tidak pantas untuk dijadikan cuplikan, karena anak-anak berulang kali menontonnya. Selain sinetron yang menampilkan adegan2 berlebihan serta kata2 kasar yang tidak pantas, saya juga melihat jam tayang iklan-iklan orang dewasa juga masih sering kali ditempatkan pada jam anak menonton. Contoh yang sangat jelas adalah iklan ON Klinik yang menawarkan layanan konsultasi bagi pria yang bermasalah dengan seks. Kemarin siang putri saya yang baru berumur 5 tahun bertanya pada saya : "Mama, mama udah ngerti belom artinya 'ejakulasi'?" tentu saja saya sangat terkejut mendengar pertanyaan tersebut, kemudian saya bertanya dari mana dia mendengar kata itu, dan dia menjawab : "Dari iklan ON Klinik" Anak-anak kita sekarang adalah anak-anak yang cerdas, mereka lebih peka dibanding orangtuanya. Jika mereka menemukan kosa kata baru, mereka akan segera mengingatnya dan menirunya. Jadi menurut saya, ketimbang ribur-ribut soal Smackdown, apalagi mengait-ngaitkan Smackdown dengan Amerika sehingga pada akhirnya menjustifikasi tindakan anarkis segelintir orang antiamerika - which is absurd and irrational - ada lebih banyak bahaya acara di televisi yang datangnya dari negeri kita sendiri. Kita memang mungkin sulit untuk menghentikan produksi sebuah tayangan, karena jika demikian ada rejeki orang lain yang kita hentikan, dan lagipula tidak semua orang tidak suka dengan tayangan2 tersebut, tapi yang paling realistis justru dimulai dari kesadaran kita sendiri sebagai orang tua untuk mau mendampingi putra-putri kita pada saat menonton dan memberikan arahan yang benar dan bisa mereka terima dengan nalar mereka. Atau jika kita suami istri yang bekerja dan tidak memiliki banyak waktu untuk mendampingi anak2 kita, mungkin kita bisa memberikan mereka buku-buku cerita edukatif atau banyak juga VCD/DVD edukasi atau apapun yang bisa mengurangi kebiasaan menonton mereka dan menggantinya dengan kegiataan2 yang lebih mendidik. Kesimpulannya, TV tidak bisa disalahkan untuk apa yang terjadi pada anak kita, "Udah bagus nontonnya gratis, gak disuruh bayar, masih protes aja!" mungkin itu yang dikatakan oleh stasiun TV menanggapi protes yang sepertinya makin marak karena orang Indonesia masih berpegang teguh pada prinsip "tuturut munding" (senang ikut-ikutan) Pendampingan yang diperlukan oleh anak-anak kita. Untuk sinetron, cuplikan sinetron dan iklan2 dewasa; seperti iklan kondom atau klinik konsultasi tadi, mungkin KPI bisa memberikan saran mengenai jam tayang terbaik, jadi tidak ada pihak yang dirugikan, yang senang nonton sinetron tetap bisa menonton acara favoritnya, dan anak-anak bisa tetap terjaga "kepolosannya" Saatnya belajar untuk tidak menyalahkan kondisi eksternal, untuk tidak melihat diri kita lah yang selalu menjadi korban keadaan. Bersikap lebih proaktif dan selalu berorientasi pada solusi dan bukan pada masalah itu sendiri. Kita semua hidup di dunia yang tidak ideal, bahkan kita sendiri juga bukan manusia yang ideal bagi dunia ini. Namun ketika kita bisa menjadikan ketidak idealan yang ada untuk tetap berpiki dan bergerak maju, saat itulah kita menjadi seorang yang ideal. Salam Hangat, Yovita Almi --- In [email protected], Peppita Poerwowidagdo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Yang saya heran, sejauh ini kenapa kebanyakan anak korban smackdown berasal dari sekolah yang... ya gitu deh. Maksud saya, sekolah elit/ternama kok tidak terdengan kabar korban smackdown ya? Apa ditutup-tutupi atau memang tidak ada? > Saya pribadi tidak keberatan bila smackdown ditayangkan sekitar jam 23.00. Anak saya toh sudah tidur sejak jam 21.00. > Dan sesekali ketika ia nonton (bila besoknya libur, bolehlah tidur agak larut), tentunya saya awasi sambil mengingatkan bahwa itu cuma boleh dilakukan di TV oleh orang dewasa. Dan kalau mau main smackdown, sama mama aja di atas kasur empuk. > > !Lebih ngeri sinetron indonesia, yang mengumbar kata2 kasar dan tidak pantas, bahkan dalam cuplikan iklannya.! > > Sejauh ini, di sekolahnya tidak ada yg bermain smackdown, sekalipun peminat & pembeli atributnya (foto, sabuk2an, dsb) bejibun. > > Nanti jadinya, bila ada anak nekad menangkap ular karena melihat Panji melakukannya di TV, apakah akan juga dilarang acara edukasi itu? > > Salam damai. > > > Gege Morven <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Yang saya herankan, mengapa harus menyalahkan orang > lain sebelum bertanya, apakah saya sudah benar-benar > memperhatikan perkembangan anak saya, apa yang > ditonton dan apa yang menjadi minatnya? > > Enggak heran kalau nanti ada anak yang kesundut rokok > atau kepotong tangannya karena pisau, masyarakat sini > beramai-ramai menuntut pabrik pisau dan rokok ditutup. > > Kalau mau lebih teliti, Smackdown bukanlah > satu-satunya program televisi yang memiliki dampak > kurang baik. Berbagai tayangan kriminal seringkali > mendeskripsikan suatu tindak kriminal dengan terlalu > jelas dan vulgar sementara banyak sinetron yang sering > menayangkan orang-orang yang saling memaki-maki. Tidak > heran kalau semakin banyak anak-anak yang dengan mudah > memaki orang lain. > > Rgrds, > Gege > > __________________________________________________________ > Do you Yahoo!? > Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta. > http://new.mail.yahoo.com > > > > > > --------------------------------- > Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited. >
