Menneg Pora: Stop Smack Down! Luhur Hertanto - detikcom
Jakarta - Desakan agar pemerintah resmi ikut turun tangan menghentikan tayangan smack down dari siaran nasional televisi terus bermunculan. Lingkungan pemerintah juga meminta hal yang sama. Setelah Menneg Pemberdayaan Perempuan (PP) Meutia Hatta, kali ini giliran Menneg Pemuda dan Olahraga (Pora) Adhyaksa Dault yang bersuara. "Kalau acara televisi membahayakan anak-anak kita, saya minta ke Wapres, pemerintah agar bisa melarangnya. Bukan jam tayang yang diundur, tapi sebaiknya dilarang sama sekali," tegas Adhyaksa kepada wartawan seusai diterima Wapres Jusuf Kalla (JK) di Kantor Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (29/11/2006). Menurut Adhyaksa, pelarangan smack down bukan hanya tayangan di televisi. Tapi juga terhadap peredaran VCD rekaman acara kekerasan tersebut yang ternyata diminati anak-anak. "Karena VCD itu kan murah, cuma lima ribu perak. Memang awalnya di televisi," imbuhnya. Labih lanjut, dikatakan dia, untuk antisipasi kejadian sejenis di masa yang akan datang, diperlukan sistem kontrol yang lebih kuat. Yaitu dengan memberikan kewenangan pada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) selaku lembaga teknis mengambil tindakan yang diperlukan termasuk menjatuhkan sanksi. "Kita harus punya sistem yang lebih kuat lagi, dan KPI harus bisa masuk dalam hal ini," ujar dia. Sayangnya, menurut Adhyaksa, atas dua usulannya di atas belum ada jawaban yang jelas dari Wapres tentang tindak lanjutnya. "Beliau tadi katakan akan membicarakannya lebih jauh lagi," ujarnya. Smack Down Bukan Olahraga Adhyaksa juga menegaskan bahwa smack down bukan merupakan olah raga yang bertujuan kejuaraan. Tapi sekedar acara teatrikal yang para juaranya ditentukan sebelumnya. "Smack down bukan olah raga, bela diri pun tidak. Ini sekedar hiburan untuk fun," kata dia. Layaknya acara teaterikal lainnya, gerakan para pemain telah diatur berdasar skenario dan koreografi yang ditetapkan. Mereka pun harus jalani latihan yang panjang sebelum tampil mempertontonkan aksi laganya. "Itu yang tidak diketahui anak-anak, dan dikiranya kejuaraan olah raga," imbuhnya. Adhyaksa mengaku merupakan salah satu pihak yang memendam kejengkelan dengan tayangan smack down yang terus memakan korban. Anak salah seorang staf ahli di departemen yang ia pimpin, mengalami patah rahang akibat diangkat lalu dibanding oleh teman bermainnya. "Menurut temannya, dia bercanda saja mau menerapkan smack down," ujar dia. (lh/asy) Source : http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/11/tgl/29/tim e/162210/idnews/714221/idkanal/10
