Bukan tema religius yang menjadi masalah dalam membanjirnya sinetron2 (bodoh) sejenis. Bukan sama sekali. Tetapi penyajian sinematografinya yang sangat buruk, isi ceritanya yang sangat jauh dari realitas, adegan2nya yang sangat vulgar, sangat bodoh.
Dalam sinetron Hidayah kemarin, ada adegan dari sinetron bertema "Suami Penjual Istri", dimana seorang mucikari pria menggilir para piaraannya. Adegan itu diperlihatkan dengan gamblang. Ada suara jeritan, ada adegan si mucikari sedang membuka busananya. Pokoknya digambarkan dengan cukup jelas (seolah penonton bodoh). Lalu, kecenderungan sinetron sekarang kalau tidak berisi: -hantu2an, -mistik2an, -siluman2an, -selingkuh2an, -kriminil2an, juga berisi cerita tentang tokoh wanita yang (hampir maupun sudah) diperkosa. Entah mengapa masalah kejahatan dan brutalisme seksual, sudah terlampau sering membayangi skenario sinetron kita. Meski dibalut oleh nilai2 religi (yang sering kali digambarkan dengan adegan tokoh sedang bersholat dan berdoa), seringkali kadung menggambarkan kejahatan, seksualitas dan hantu2an dengan porsi besar dan vulgar. Saya lebih suka sinetron religi (bernafas Islam) seperti Rahasia Ilahi, yang ditayangkan pada medio bulan puasa, 2 tahun yang lalu (yang diperankan oleh Anjasmara). Sinetron itu lebih bagus dari segi cerita, menghibur, lucu, dan sarat nilai daripada sinetron2 yang sekedar mengingatkan kalau orang jahat pasti dapat hukuman, dan orang baik dapat pahala. Gimana nih? Kejahatan tidak berkurang dengan sinetron2 yang sekedar menggambarkan kenaasan pembuat kejahatan, pemerkosa, pendurhaka ortu, penjual istri, dst. Nasib mereka bisa ditebak: berakhir di liang lahat dengan penuh belatung, tali pocongan tidak bisa dibuka, jenazah tak dapat diangkat, atau mati terkubur tanah beserta ortu yang didurharkai. Realistiskah penggambaran dalam sinetron2 tersebut? Malah sebaliknya, adegan2 vulgar itu menginspirasi orang untuk menirunya, bukannya bertobat. Gimana nih? Halo penggagas sinetron? Halo KPI? Salam Abdi Christ
