GODAM LANGSUNG MENOHOK PULAK,

hehehe,Jeng Yuyun,

tepatlah andah menohoh mas kawakan inih,

yang ternyata BANYAK BANGHASA BULUSNYAH?

Sakhingga sakmodel yang daku bilangken,

ah..inih senior kok penuh muslihatnyah yah?

kok sakbagae wartawan, enggak nampak

kemurnian isi kolbunyah?

atawa bener jugak sakmodel yang beliao

kataken sendirih..

BAHUWA TAK MUDAHLAH UNTUK SAK-URANG WARTAWAN

ENGGAK TERJEBAK OLEH KOLBUNYAH yang jatoh 

kesengsem oleh KECINTAANNYAH...terhadep

uler ijoh mingsalnyah?

SAKHINGGA TUNGLISANNYAHPUN, ada uler di balik batunyah?

dan pleonasmeh yang digunaken utk babu babu Indon ituh,

jelas menunjukken ADA PERMAENAN KATA YANG JAUH

DARI KEJUJURAN JURNALISTIK BUKAN?

nb. saluuut utk kejelihan jeng yuyun

yang begituh bahenol menohok wartawan

lulusan UI inih.. heheh UI yang laen?

ULER IJOH!!!



--- In [email protected], yuyun <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Satrio, komentar sedikit ya:
> 
> TKW adalah kepanjangan dari Tenaga Kerja Wanita (Saya kira Pak 
Satrio pasti
> tahu). Dari tulisan ini, saya mencoba menerka bahwa Pak Satrio 
sedang
> menceritakan tentang Pekerja Rumah Tangga asal Indonesia di 
Yunani. Ada
> semacam "politik bahasa" bahwa TKW selalu dikaitkan dengan PRT 
padahal tidak
> selalu dan tidak perlu demikian. Saya juga mengamati bahwa dari 
pihak
> pemerintah juga kerap mengunakan kata yang berasosiasi 
dengan "kelompok
> orang" sebagai pengganti dari "profesi". Saya rasa 
ini 'misleading'. Mudah
> mudahan para wartawan tetap menggunakan kata-kata dalam Bahasa 
Indonesia
> dengan bijak.
> 
> Terimakasih,
> Yuyun
> 
> 
> On 11/29/06, Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > BERDANSA DENGAN TKW DI ATHENA
> >
> > Oleh Satrio Arismunandar
> > (News Producer – Trans TV)
> >
> > Tugas sebagai wartawan yang meliput berita, terkadang banyak 
cerita
> > sampingannya. Entah mau dinilai positif, ataupun negatif. Itu 
saya alami
> > ketika bertugas meliput obyek-obyek pariwisata di Athena, 
Yunani, pada 25
> > Oktober – 4 November 2006. Saya selaku news producer, didampingi 
Lestariana
> > Sinaga alias Tary (reporter), dan Vincentia Yunita alias Ipung 
(camera
> > person).
> >
> > Ceritanya, ketika sedang mengambil gambar di salah satu alun-
alun kota tua
> > dan eksotis tersebut, kami bertemu dengan sejumlah tenaga kerja 
wanita (TKW)
> > asal Indonesia, yang bekerja di Yunani. Ngobrol punya ngobrol, 
ternyata ada
> > sekitar 300-400 TKW yang mencari nafkah di sini. Gaji mereka 
cukup lumayan
> > untuk ukuran Indonesia. Minimal tiap bulan mereka bisa 
mengantongi bersih
> > 500 – 600 euro, atau sekitar Rp 6 juta. Wow! Lebih besar dari 
gaji sebagian
> > besar wartawan di News Trans TV.
> >
> > Tary, Ipung dan saya sepakat, kehidupan para TKW di Yunani ini 
menarik
> > dijadikan bahan liputan. Kalau kisah TKW di negara Arab, 
Malaysia, atau Hong
> > Kong, sudah cukup banyak diketahui. Tapi kehidupan TKW di Yunani 
amat jarang
> > diliput, dan tingkat pendapatan mereka tampaknya jauh lebih baik 
ketimbang
> > TKW kita di negeri-negeri lain. Perlakuan kaum majikan Yunani 
kepada mereka
> > pun sangat baik. Tidak pernah terdengar kasus pemukulan, 
penyiksaan atau
> > pemerkosaan terhadap TKW asal Indonesia. Rupanya masalah 
penegakan hukum dan
> > HAM cukup baik di negeri anggota Uni Eropa ini.
> >
> > Kami diberitahu bahwa akan ada acara halal-bihalal di KBRI 
Athena pada
> > hari Minggu, 29 Oktober. Pada hari libur itu, para warga 
Indonesia di
> > Athena, yang mayoritas bekerja sebagai TKW, akan berkumpul di 
KBRI. Mengapa?
> > Karena hari libur (Sabtu dan Minggu) adalah hari yang paling 
memungkinkan
> > mereka berkumpul dan bersilaturahmi.
> >
> > Kami berniat meliput acara itu, maka kami pun datang ke KBRI 
hari Minggu
> > siang. Wah! Ternyata sudah sangat ramai. Ruang aula KBRI penuh 
sesak, tak
> > sanggup menampung para warga RI. Acara dimulai dengan sambutan, 
doa, dan
> > ritual saling maaf-memaafkan yang biasa. Sebagai tamu, oleh 
pihak KBRI, saya
> > dipersilakan duduk di jajaran kursi depan. Sementara Tary dan 
Ipung
> > melakukan tugasnya meliput acara. Akhirnya, tibalah acara 
hiburan.
> >
> > Musik pun dimainkan dengan lagu Poco-Poco. Seorang TKW berambut 
panjang
> > dan temannya yang lain, dengan semangat langsung turun berdansa 
di panggung.
> > Kalau melihat caranya berdansa, tampaknya dia cukup sering 
berdansa. Suasana
> > jadi makin meriah.
> >
> > Eh, Pak Andre, salah satu staf KBRI berseru: "Rekan dari Trans 
TV! Ayo,
> > jangan malu-malu! Silahkan ikut berdansa!" Yang dimaksud "rekan 
dari Trans
> > TV" itu adalah saya, karena Tary dan Ipung sedang ada di 
pinggiran,
> > mengambil gambar dan mencatat.
> >
> > Si TKW yang gaya dansanya cukup dinamis itu langsung menarik-
narik tangan
> > saya, agar turut berdansa! Celaka! Apalagi staf KBRI yang lain 
ikut
> > memanas-manasi. "Ayo! Ayo! Jangan malu-malu!" Sementara itu dua 
atau tiga
> > TKW lain sudah turun pula ke lantai dansa. Suasana makin riuh. 
Tapi belum
> > ada satu cowok pun yang turut berdansa.
> >
> > Di sinilah akhirnya, saya berpikir, batas hubungan antara 
wartawan dan
> > nara sumber makin menipis. Teori bahwa wartawan harus "menjaga 
jarak" dengan
> > urusan para nara sumber, sulit saya pertahankan.
> >
> > Pertama, suka atau tidak, faktanya saya adalah tamu di KBRI, 
walaupun
> > kedatangan saya sebetulnya untuk maksud meliput acara halal-
bihalal. Sebagai
> > tamu, ada dorongan untuk menghormati atau bersopan santun dengan 
pihak tuan
> > rumah. Rasanya kurang sreg kalau terus-menerus bersikap kaku dan 
tidak
> > membaur.
> >
> > Kedua, saya tidak ingin ada kesan di kalangan para TKW ini, yang 
notabene
> > merupakan mayoritas warga RI yang tinggal di Athena, 
bahwa "wartawan Trans
> > TV merasa dirinya terlalu tinggi untuk menari atau turut 
bergembira bersama
> > para TKW." Manusia kan pada dasarnya sama saja, apapun status 
sosialnya.
> > Entah dia Producer Trans TV atau TKW.
> >
> > Maka, akhirnya, saya pun ikut menari bersama para TKW. Setelah 
saya
> > "turun", barulah ada cowok lain, tampaknya seorang pekerja 
swasta Indonesia
> > di Yunani, yang juga turut menari. Saya menari sebisanya dengan 
gaya disco
> > tahun 1970-an, meski musiknya berirama Poco-Poco, larena memang 
cuma gaya
> > itu yang saya bisa! Saya terus menari bersama para TKW, sampai 
lagu itu
> > habis.
> >
> > Seusai acara menari itu, Ipung berkomentar positif. Katanya pada 
saya:
> > "Karena elu tadi mau ikut berdansa, hal itu telah membuat 
breaking the ice
> > (maksudnya: mencairkan suasana)." Suasana jadi lebih akrab, 
tidak kaku dan
> > berjarak seperti awalnya. "Ah, apa iya?" ujar saya, kurang yakin.
> >
> > Tapi, percaya atau tidak, berdansa dengan para TKW menjadi salah 
satu
> > pengalaman berkesan buat saya, dari liputan jurnalistik ke 
Yunani. Tentunya,
> > selain melihat keindahan Acropolis dan peninggalan peradaban 
Yunani kuno,
> > yang sudah ribuan tahun usianya itu…. ***
> >
> >
> >
> >
> > 
_____________________________________________________________________
_______________
> > Do you Yahoo!?
> > Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
> > http://new.mail.yahoo.com
> >
> >
> > Web:
> > http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
> >
> > Klik:
> >
> > http://mediacare.blogspot.com
> >
> > atau
> >
> > www.mediacare.biz
> >
> > Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
> > [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
>


Kirim email ke