GODAM MENYALUUTIN KEDOGOLAN KANG BUDIH,

iyah..tukh..komentaranmu pas sakkalih,

begituh KTP enggak nyantumin ugamak,

MANGKA SELAMETLAH SI SAKSI YEHOWAH

YANG KELENGER KEPATOK ULER IJOH.

YANG KAGAK MAOK DI INPUSIN DARAH ORANG LAEN,

TATAPI BEGITUH SI LONTEH LAPAR PINGSAN KELEMESAN,

namun berhubung di KTP nyah disengbut Moslimah,

mangka MODIARLAH SI LONTEH MOSLIMAH ITUH

kerana dibiarken begituh hajah,

kulantaran  yang ada ditempat ituh, 

CUMAN DAGING BABIH.hajah,???

nantikan jingkalao ditulungin sama kita kita,

disengbutlah, kita lagih menghina Moslimah

dengen mencekokin daging babi?

padahal niat kita kita khan banggus?

suNGpaya si lonteh ituh enggak modiar??? gimana tuh?

lalu sakbenernyah,khan Tanpa kolom ugamak,

MALAHAN  UGAMAK ISLAM ENGGAK TERCEMONGIN,

Kerana bancih2 serta lonteh jalanan yang

dikandangin hansip2 ituh,

banyakan KTPNYAH BERUGAMAK ISLAM KHAN??

AYOH..JANGAN TELMI LAH..melaenken berobahlah

lebih beradab lagih..

khan..para bangsat bangsa saat inihpun

di KTPnyah jelas..bertunglisanken ISSSLAMM ??

APAH MAS BUDIH ENGGAK MALUH TUH?

BAHUWA MAYORITAS PENGHUNI PENJARAH ITUH MOSLIM?

DAN MAYORITAS LONTEH JALANAN ITUH MOSLIMAH?

JUST..BE SMART AS GREEN SNAKE AS ALWAYS BE!!!


--- In [email protected], "rahmad budi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Betul bos
> Jadi, nanti kalau ada korban kecelakaan mati dan tidak jelas 
agamanya
> oleh rumah sakit dibakar saja biar nggak bau.
> 
> Gak usah dimandiin ato dikafanin karena toh gak jelas muslim atau 
bukan
> 
> Lalu kalau ada orang mau kawin, karena gak jelas agamanya maka 
disuruh
> kawin di Catatan Sipil saja, jangan di masjid atau gereja atau 
vihara
> Gak jelas sih...
> 
> Emang negara ini sebaiknya dibuat nggak jelas
> Seperti Godang Limang Gemblung ining
> 
> 
> 
> 
> On 11/30/06, godamlima <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   KTP GEBLEG DENGEN KOLOM KEPERCAYAAN.
> > 29 nop 2006,rabu
> >
> > Niat mulia Departemen Dalam Negeri seharusnya mendapatkan 
dukungan
> > semua pihak termasuk tokoh-tokoh agama. Kita berharap RUU 
Adminduk
> > yang hampir final digodok tim perumus DPR, memiliki nafas 
Pancasila
> > yang tidak lagi diskriminatif terhadap aliran kepercayaan, karena
> > bukankah penghayat kepercayaan adalah juga warga negara Indonesia
> > yang memiliki hak-hak sipil yang sama dengan kita?
> > Penulis adalah Direktur Eksekutif Reformed Center for Religion 
and
> > Society
> > ________________________________________
> > KOMENTARANKU,
> > Ituh mah bukan niat muliah koh!! Ituh mah niat gebleg!
> >
> > >>>>>>>>>>>>>>>>>
> >
> > Emang nagara dedel duwel Indon inih keterlaluan,
> >
> > Penguasanyah dimenta buat menghapusken kolom ugamak.
> >
> > Eh,malah menambah keruwetan dengen mencantumken
> >
> > Kelompok kepercayaan di kolom KTP nyah.
> >
> > JADI BENER2 PETRUKLAH JADI RAJAH,
> >
> > Yang artinyah, para penguasah ituh memang
> >
> > Enggak punyak nalar SAKURANG CENDEKIAWAN.
> >
> > Dimana permangsalahan ugamak,
> >
> > KOK MANGSIH DIPERTAHANKEN ADA PADA KTP?
> >
> > Inih menunjukken, INDON TETEP KANAK KANAK BLOON.
> >
> > Sementara tunglisan di bawah inihpun
> >
> > HEHEH..KELIATAN GEBLEGNYAH JUGAK.
> >
> > Kerana yang paling bener sihÂ…
> >
> > KOLOM UGAMAK DI KTP ITUH DIPUPUS ABIS!!!
> >
> > ITUHLAH YANG ARTINYAH REPORMASIH BENERAN,
> >
> > Bukan Repormasih ala Cina Stephent Tong yang arogan ituh.
> >
> > >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
> >
> > Kepercayaan Masuk Kolom KTP
> > Benyamin F Intan
> > etelah Konghucu diakui sebagai agama, kini giliran aliran
> > kepercayaan mendapatkan simpati pemerintah, pasalnya Menteri 
Dalam
> > Negeri akan memasukkan aliran kepercayaan sebagai agama dalam 
kolom
> > Kartu Tanda Penduduk (KTP). "Aliran kepercayaan bisa masuk kolom
> > agama seperti agama yang diakui pemerintah," kata Dirjen
> > Administrasi dan Kependudukan Depdagri A Rasyid Saleh, 
sebagaimana
> > dikutip media massa 1 November 2006.
> > Berita ini tentunya menjadi angin segar bagi aliran kepercayaan 
yang
> > telah begitu lama dimasukkan dalam ruang tertutup karena tidak
> > memenuhi syarat definisi agama versi Departemen Agama, padahal
> > definisi itu sendiri belum mendapatkan kesepakatan dari semua 
pihak.
> > Seperti kita ketahui, penolakan pemerintah terhadap aliran
> > kepercayaan sebagai bukan agama, dikarenakan definisi tentang 
agama
> > yang mengharuskan dipenuhinya beberapa hal ini. Antara lain,
> > memiliki kitab suci, memiliki nabi, percaya pada Tuhan Yang Maha
> > Esa, adanya pengakuan internasional, memiliki tata ibadah.
> > Karena aliran kepercayaan (berjumlah ratusan di Indonesia) tidak
> > memenuhi ketentuan tersebut, sehingga jadilah aliran kepercayaan
> > bukan sebagai agama, tetapi budaya, dan tempatnya juga bukan di
> > Departemen Agama tetapi dibina oleh Departemen Pendidikan dan
> > Kebudayaan.
> > Tindakan memasukkan aliran kepercayaan dalam kolom agama di KTP,
> > mendapatkan dukungan dari Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia 
(MUI)
> > Ami dan yang menganggap bahwa tindakan Menteri Dalam Negeri itu
> > adalah upaya pemerintah mewadahi kelompok aliran tertentu yang
> > menolak ikut induk agamanya. Dukungan Amidan tentunya didasarkan
> > penyelidikan yang mendalam sebagai seorang tokoh agama. Sebelum
> > rencana pemasukan aliran kepercayaan dalam kolom agama di KTP,
> > pemuatan kolom agama pada KTP telah mendapatkan kritik dari 
berbagai
> > pihak, karena terbukti menimbulkan diskriminasi. Salah satunya
> > adalah karena pemeluk agama di luar agama resmi negara di-
haruskan
> > memilih kelima agama resmi yang ada-setelah pengakuan Konghucu 
kini
> > menjadi enam agama.
> > Karena adanya diskriminasi yang diakibatkan pencantuman agama 
dalam
> > kolom KTP, maka diusulkan kolom agama dalam KTP dihilangkan. Yang
> > muncul kemudian adalah pengakuan aliran kepercayaan sebagai agama
> > dalam KTP, bukan penghapusan kolom agama dalam KTP seperti kritik
> > yang banyak dia-jukan.
> > Angin segar yang dihembuskan oleh kementerian dalam negeri untuk
> > memasukkan aliran kepercayaan sebagai agama dalam kolom KTP,
> > ternyata masih tertahan tembok tebal. Pasalnya, Rancangan Undang-
> > Undang Administrasi dan Kependudukan (RUU Adminduk) yang hampir
> > final di DPR, memang masih tetap mengatur pencatatan agama di 
KTP,
> > tetapi tidak mengatur pencatatan aliran keper- cayaan.
> > Aliran kepercayaan masih harus menunggu pintu-pintu bagi masuknya
> > angin segar kebebasan tersebut. Kenyataan ini terlihat karena ada
> > beberapa tokoh agama yang menolak dengan tegas tindakan 
pemerintah
> > tersebut. Tidak tanggung-tanggung, Wakil Sekretaris Umum 
Persekutuan
> > Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Weinata Sairin turut mengajukan
> > keberatannya, ia mengatakan bahwa suatu aliran bisa masuk 
kategori
> > agama jika memenuhi persyaratan tertentu. Tentu yang dimaksud 
Sairin
> > adalah kriteria Menteri Agama tentang apa yang disebut agama.
> > Bagi Sairin, aliran kepercayaan adalah bagian dari agama, 
kemudian
> > ia juga mengkhawatirkan terjadinya pencatatan ganda dengan agama
> > induk, karena sebelumnya penganut aliran kepercayaan harus 
memilih
> > agama resmi yang diakui pemerintah. Suara Sairin ini tentunya
> > bersifat pribadi karena pasti tidak semua lembaga gereja lain
> > menyetujui sikapnya terhadap aliran kepercayaan yang 
menganggapnya
> > bukan agama.
> > Penolakan untuk memasukkan aliran kepercayaan dalam kolom agama 
di
> > KTP juga datang dari Ketua Nahdlatul Ulama Ahmad Bagja. Ia
> > mengatakan aliran kepercayaan bukanlah agama dan tak bisa diakui
> > sebagai agama.
> > Menurutnya, pemerintah mencampuradukkan agama dan budaya apabila
> > tetap memasukkan aliran kepercayaan ke agama.
> > Menurut Ahmad, selama ini tak ada keberatan dari penganut
> > kepercayaan tentang kolom agama dalam KTP.
> > Pernyataan ini tidak tepat karena terlalu banyak suara yang telah
> > meneriakkan diskriminasi terhadap aliran kepercayaan, sehingga 
Gus
> > Dur dan tokoh-tokoh agama lainnya juga telah mengingatkan bahwa
> > tidak ada seorangpun yang berhak apa yang diyakini seseorang itu
> > agama atau bukan, jika seseorang mengakui apa yang dipercayai
> > sebagai agama, maka orang lain tidak boleh mengatakan bahwa itu
> > bukan agama. Kontroversi mengenai pemasukan aliran kepercayaan
> > bukanlah hal yang baru.
> > Usaha aliran kepercayaan untuk diakui sebagai agama merupakan 
jalan
> > panjang perjuangan aliran kepercayaan. Sementara berbagai nasib
> > pahit dialami para penghayat kepercayaan seperti pencitraan 
buruk,
> > dianggap komunis, dipaksa menganut agama tertentu, atau anak 
mereka
> > dianggap sebagai anak haram. Dan banyak perkawinan yang tidak
> > dicatatkan di kantor catatan sipil karena dianggap tidak memeluk
> > agama, dan anak-anak dari hasil perkawinan dianggap sebagai anak
> > kumpul kebo, akibatnya sejumlah pegawai negeri sipil penghayat
> > aliran kepercayaan tidak mendapat tunjungan anak atau istri.
> > Tragis, aliran kepercayaan yang memiliki saham yang tidak kecil
> > dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia harus dipinggirkan dan
> > kehilangan hak-hak sipilnya hanya karena terganjal definisi agama
> > Departemen Agama.
> > Bingkai Pancasila
> > Pertanyaan kita, apa sesungguhnya yang ada di balik penolakan 
yang
> > berlebihan terhadap dimasukkannya aliran kepercayaan dalam kolom
> > agama di KTP? Akar masalahnya, menurut penulis, adalah karena 
kita
> > tidak berpijak atas landasan Pancasila. Dalam bingkai Pancasila,
> > negara tidak mempunyai wewenang untuk menentukan mana yang agama 
dan
> > mana yang tidak, mana agama yang benar dan mana agama yang sesat,
> > mana agama yang bisa diakui dan mana agama yang harus dilarang.
> > Wewenang yang semestinya hanya ada pada Tuhan dan penganut agama
> > yang bersangkutan ini tidak boleh diambil alih oleh negara.
> > Pensubordinasian agama oleh negara tidak boleh terjadi. 
Ironisnya,
> > agama-agama sering memberikan otoritas tersebut kepada negara,
> > contohnya pelarangan "ajaran sesat" oleh pemerintah yang 
dilakukan
> > atas rekomendasi agama-agama. Kejadian serupa terjadi ketika para
> > tokoh agama menolak aliran kepercayaan dalam kolom agama di KTP.
> > Sadar atau tidak, telah melimpahkan otoritas religious legitimacy
> > yang sangat kuat lagi kepada pemerintah, kekuatan yang mana 
membuat
> > pemerintah lebih terdorong lagi mensubordinasikan agama.
> > Negara Pancasila tidak mengenal prinsip subordinasi, apakah
> > itu "pensubordinasian agama di bawah negara" dalam bentuk agama
> > negara ataupun "pensubordinasian negara di bawah agama" dalam 
bentuk
> > negara agama. Hubungan agama-negara dalam bingkai negara 
Pancasila
> > seharusnya tidak tumpang tindih, meminjam perkataan Abraham
> > Kuyper, "a free (Religion) in a free State" (Lectures on 
Calvinism,
> > hal. 99, 106).
> > Penolakan pencantuman aliran kepercayaan pada kolom agama di KTP
> > bukan hanya menggambarkan pensubordinasian agama di bawah negara,
> > tapi juga menimbulkan diskriminasi yang sangat serius, karena 
agama
> > telah dijadikan alat penentu untuk membedakan perlakuan terhadap
> > warga negara. Padahal negara seharusnya "buta warna" dalam hal 
ini.
> > Menjadikan agama sebagai alat penentu dalam kebijakan negara 
sangat
> > bertentangan dengan jiwa Pancasila yang inklusif dan non-
> > diskriminatif.
> > Niat mulia Departemen Dalam Negeri seharusnya mendapatkan 
dukungan
> > semua pihak termasuk tokoh-tokoh agama. Kita berharap RUU 
Adminduk
> > yang hampir final digodok tim perumus DPR, memiliki nafas 
Pancasila
> > yang tidak lagi diskriminatif terhadap aliran kepercayaan, karena
> > bukankah penghayat kepercayaan adalah juga warga negara Indonesia
> > yang memiliki hak-hak sipil yang sama dengan kita?
> > Penulis adalah Direktur Eksekutif Reformed Center for Religion 
and
> > Society
> > ________________________________________
> >
> >  
> >
> 
> 
> 
> -- 
> Si vis pacem Parabellum ---
> 
> Rahmad Budi H
> Republika
> Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel
> 0856 711 2387
>


Kirim email ke