Bung Gelass, salam saya Abdi Christ. 

Siaran Tinju berbeda dengan Smack down. Kalau kita lihat siaran tinju,
kita tau segmen pemirsanya memang orang dewasa. 

Tetapi kalau kita lihat smack down, riuh meriah dari penonton di
stadion mereka, kita melihat bahwa smack down dikemas sebagai acara
entertainment, semua umur -bukan sport.

Lihatlah jerit2 penonton yang meneriakkan nama2 pegulat jagoan mereka.
Ada berbagai usia yang berada di tribun penonton. Dengan melihat
adanya penonton sebaya, anak2 akan menginsyafi bahwa tayangan
kekerasan dalam smack down juga halal untuk mereka tiru. Itulah
kefatalan dalam acara smack down itu.

Sebagai bentuk entertainment -meski katanya dipermainkan oleh pegulat
dan profesional- smack down jelas punya pertaruhan yang berbahaya
dengan melegalkan suatu bentuk acara hiburan sarat kekerasan seperti itu. 

Di Amrik sendiri, acara ini sedari pertama muncul juga sudah dicecar
disana-sini. Apa orang Amrik yang pintar itu tidak tahu teori
agresivitas dalam ilmu psikologi yang mengatakan bahwa anak2 dapat
belajar dari apa yang ia lihat dari tayangan TV?

Di negrinya saja, smack down sudah dikecam, apalagi di negeri kita,
yang katanya penuh nilai2 tradisi yang luhur?

Kelihatannya, suatu saat kita harus mengembalikan tayangan2 yang lebih
sarat nilai ke dalam dunia pertelevisian kita, menegaskan bentuk2
acara yang tidak mendidik untuk tidak ditayangkan sama sekali.

Salam
Abdi Christ 



--- In [email protected], stefen gelass <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>                     Saya tidak setuju dengan pelarangan acara
Smackdown di TV. Maaf, bukannya saya tidak bersimpati dengan para
korban dan keluarganya dan saya pun sama sekali bukan penggemar acara
tersebut, sungguh. Namun saya hanya cemas bahwa pelarangan acara
Smackdown akan menjadi pintu bagi pelarangan-pelarangan acara lainnya
yang mungkin dinilai membawa impact buruk bagi masyarakat. Kita tahu
memang banyak sekali acara "sampah" di TV, namun jangan dipungkiri
bahwa "sampah" itu ada penggemarnya juga. Saya hanya ingin mengatakan,
berhentilah menyalahkan TV! Katakanlah acara Smackdown mengandung
unsur kekerasan, memengaruhi anak-anak, lalu timbullah korban.
Bagaimana nanti kalau ada film yang menampilkan adegan kekerasan
(jangan prejudice bahwa semua adegan kekerasan dalam film itu pasti
tidak baik karena banyak film bertema kekerasan yang sangat
berkualitas macam Scarface, Godfather, bahkan film seri CSI yang
cerdas itu dan sebagainya), lalu ditiru anak-anak dan
>  menimbulkan korban, lalu orangtuanya protes dan dilaranglah semua
film yang ada kekerasannya di TV. Maka akan semakin terbataslah
kesempatan kita menyaksikan film-film bermutu yang ada adegan
kekerasannya. Bagaimana pula dengan siaran olahraga tinju misalnya?
Cabang olahraga yang diakui namun tak dapat dipungkiri jelas ada unsur
kekerasannya. Saya ingat, sewaktu kecil saya dan teman-teman sebaya
begitu menggandrungi siaran olahraga tinju ketika Elyas Pical sedang
jaya-jayanya. Namanya anak-anak, sehabis nonton Ely meng-KO Caesar
Polanco saya dan teman-teman menggelar "adu tinju" dengan sarung tinju
seadanya dan tanpa mengindahkan bobot tubuh untuk menentukan lawan.
Saya mendapat lawan yang lebih muda namun bobotnya lebih besar dari
saya. Saya pun kena hook telak dan KO. Untungnya saya tidak apa-apa.
Dan tak ada seorang teman pun yang mengalami nasib yang lebih buruk
selain KO sejenak. Tetapi seandainya waktu itu ada diantara kami yang
gegar otak atau lebih parah lagi, lalu
>  orangtua kami menuntut ke TVRI agar siaran tinju tidak disiarkan,
atau bahkan lebih parah lagi, olahraga tinju dilarang sama sekali
seperti di Swedia, apakah itu suatu tindakan yang adil? Bagaimana pula
dengan siaran olahraga cabang bela diri yang lain? Sekali lagi, kenapa
menyalahkan TV? Kan sudah ada batasan-batasannya seperti waktu tayang,
rating umur dsb, jadi kalau stasiun TV-nya melanggar ketentuan itu,
inilah yang bisa dikenakan sanksi atau semacamnya. Namun pelarangan
atau penghentian acara, ini saya rasa betul-betul tidak adil.
Menyalahkan acara TV untuk suatu tragedi sudah menjadi lagu lama yang
berulang-ulang. Habis nonton film merangsang lalu memerkosa, habis
nonton film perampokan lalu dapat ide merampok dan sebagainya. Habis
nonton acara sirkus dan akrobat lalu anak kita meniru dan celaka.
Apakah solusinya melarang semua itu agar tidak terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan? Tidakkah yang lebih tepat adalah kontrol diri
sendiri, pengawasan keluarga dan
>  semacamnya? Sebaiknya dampingi saja anak-anak kita kalau nonton
acara Smackdown dan sebagainya, selama menonton berikan penjelasan
bahwa pertandingan ini dilakukan oleh orang profesional, sebagaimana
halnya pertunjukan sirkus, yang tidak boleh dicoba-coba, ataupun kalau
mau mencoba ya perlu kursus bela diri khusus dulu dan sebagainya.
Melarang hanya akan menambah populer acara-acara semacam itu dan akan
menjadi kegiatan ilegal yang justru menambah "keasyikkan" bagi
anak-anak. Dan untuk acara-acara "sampah" yang lainnya, tinggal jangan
ditonton kalau memang kita rasakan tidak ada manfaatnya. Kalau tidak
ditonton kan lama-lama mati sendiri programnya. So stop blaming TV.
Just take a look in the mirror.
>  
>  
> ---------------------------------
> Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
>


Kirim email ke