Salam kenal,

Saya AGAK setuju dengan Stefen Gelass...

Memang kita tidak bisa selalu menyalahkan program TV, begitu pula dalam kasus 
Smack Down ini.
Menurut saya yang kebagian PR paling banyak adalah KPI karena mereka yang 
seharusnya menertibkan jam tayang program2 tertentu di TV. Selain itu, KPI 
bekerja sama dengan stasiun TV perlu membuat kampanye publik pentingnya 
pendampingan anak oleh orang tua saat menonton televisi...berhubung hal ini 
sangat tidak tertib di Indonesia..
Menghentikan program TV bukanlah solusinya.

Mengutip posting dr rekan sebelumnya:
"Dan untuk acara-acara "sampah" yang lainnya, tinggal jangan ditonton kalau 
memang kita rasakan tidak ada manfaatnya. Kalau tidak ditonton kan lama-lama 
mati sendiri programnya. So stop blaming TV. Just take a look in the mirror."

Menurut saya...
mengenai sinetron Indonesia, saya memang menyalahkan TV karena tidak mampu 
memberikan pilihan sinetron yang berkualitas.Kalau semua stasiun TV kompakan 
untuk menayangkan program2 yang berkualitas, maka, pemirsa juga HANYA punya 
pilihan yang berkualitas. 
Jangan lupa, hanya orang-orang di perkotaan yang punya alternatif hiburan lain. 
Kalau di pedesaan...kalau ga nonton TV, hiburannya apa lagi dooong???


Salam,
Shinta Maruto 


----- Original Message ----
From: Dewono Siswardiyanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, November 30, 2006 4:35:55 PM
Subject: Re: [mediacare] Stop blaming TV!

Buruk rupa, cermin dibelah .... :) Itu tepatnya!


On 11/30/06, stefen gelass <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Saya tidak setuju dengan pelarangan acara Smackdown di TV. Maaf, bukannya saya 
tidak bersimpati dengan para korban dan keluarganya dan saya pun sama sekali 
bukan penggemar acara tersebut, sungguh. Namun saya hanya cemas bahwa 
pelarangan acara Smackdown akan menjadi pintu bagi pelarangan-pelarangan acara 
lainnya yang mungkin dinilai membawa impact buruk bagi masyarakat. Kita tahu 
memang banyak sekali acara "sampah" di TV, namun jangan dipungkiri bahwa 
"sampah" itu ada penggemarnya juga. Saya hanya ingin mengatakan, berhentilah 
menyalahkan TV! Katakanlah acara Smackdown mengandung unsur kekerasan, 
memengaruhi anak-anak, lalu timbullah korban. Bagaimana nanti kalau ada film 
yang menampilkan adegan kekerasan (jangan prejudice bahwa semua adegan 
kekerasan dalam film itu pasti tidak baik karena banyak film bertema kekerasan 
yang sangat berkualitas macam Scarface, Godfather, bahkan film seri CSI yang 
cerdas itu dan sebagainya), lalu ditiru anak-anak dan menimbulkan korban, lalu
 orangtuanya protes dan dilaranglah semua film yang ada kekerasannya di TV. 
Maka akan semakin terbataslah kesempatan kita menyaksikan film-film bermutu 
yang ada adegan kekerasannya. Bagaimana pula dengan siaran olahraga tinju 
misalnya? Cabang olahraga yang diakui namun tak dapat dipungkiri jelas ada 
unsur kekerasannya. Saya ingat, sewaktu kecil saya dan teman-teman sebaya 
begitu menggandrungi siaran olahraga tinju ketika Elyas Pical sedang 
jaya-jayanya. Namanya anak-anak, sehabis nonton Ely meng-KO Caesar Polanco saya 
dan teman-teman menggelar "adu tinju" dengan sarung tinju seadanya dan tanpa 
mengindahkan bobot tubuh untuk menentukan lawan. Saya mendapat lawan yang lebih 
muda namun bobotnya lebih besar dari saya. Saya pun kena hook telak dan KO. 
Untungnya saya tidak apa-apa. Dan tak ada seorang teman pun yang mengalami 
nasib yang lebih buruk selain KO sejenak. Tetapi seandainya waktu itu ada 
diantara kami yang gegar otak atau lebih parah lagi, lalu orangtua kami menuntut
 ke TVRI agar siaran tinju tidak disiarkan, atau bahkan lebih parah lagi, 
olahraga tinju dilarang sama sekali seperti di Swedia, apakah itu suatu 
tindakan yang adil? Bagaimana pula dengan siaran olahraga cabang bela diri yang 
lain? Sekali lagi, kenapa menyalahkan TV? Kan sudah ada batasan-batasannya 
seperti waktu tayang, rating umur dsb, jadi kalau stasiun TV-nya melanggar 
ketentuan itu, inilah yang bisa dikenakan sanksi atau semacamnya. Namun 
pelarangan atau penghentian acara, ini saya rasa betul-betul tidak adil. 
Menyalahkan acara TV untuk suatu tragedi sudah menjadi lagu lama yang 
berulang-ulang. Habis nonton film merangsang lalu memerkosa, habis nonton film 
perampokan lalu dapat ide merampok dan sebagainya. Habis nonton acara sirkus 
dan akrobat lalu anak kita meniru dan celaka. Apakah solusinya melarang semua 
itu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Tidakkah yang lebih tepat 
adalah kontrol diri sendiri, pengawasan keluarga dan semacamnya? Sebaiknya 
dampingi
 saja anak-anak kita kalau nonton acara Smackdown dan sebagainya, selama 
menonton berikan penjelasan bahwa pertandingan ini dilakukan oleh orang 
profesional, sebagaimana halnya pertunjukan sirkus, yang tidak boleh 
dicoba-coba, ataupun kalau mau mencoba ya perlu kursus bela diri khusus dulu 
dan sebagainya. Melarang hanya akan menambah populer acara-acara semacam itu 
dan akan menjadi kegiatan ilegal yang justru menambah "keasyikkan" bagi 
anak-anak.  




 
____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
http://new.mail.yahoo.com

Kirim email ke