Jurnalisme Sastrawi XI
Gedung Strategy, Jakarta 8 –19 Januari 2007
Tentang Jurnalisme Sastrawi
Penyajian informasi secara cepat, mendalam tetapi menarik tidak hanya menjadi
perhatian para jurnalis, tetapi juga pembaca dan kalangan profesi. Dan Koran
atau surat kabar pada umumnya belum bisa menyajikan itu. Sebuah survey dari IRE
menyatakan bahwa warga tak lagi mendapatkan berita aktual dan cepat dari
suratkabar. Mereka mendapatakannya dari televisi, seterusnya radio dan dotcom.
Suratkabar urutan terakhir dalam hal ini.
Tantangan baru mulai muncul, apakah suratkabar dapat bertahan bila
mengandalkan kecepatan informasi ? Padahal mereka tak lagi cepat, dikalahkan
oleh televisi,radio dan dotcom. Tawaran alternatif dimunculkan oleh Tom Wolfe
pada 1973. Wolfe mengenalkan sebuah genre baru saat itu, the New Journalism. Ia
mengawinkan didiplin keras dalam jurnalisme dengan daya pikat sastra. Ibarat
novel tapi faktual.
Genre ini mensyaratkan liputan dalam namun memikat. Genre ini meudian dikenal
dengan the literary journalism atau narrative journalism. Suratkabar-suratkabar
Amerika banyak memakai elemennya ketika kecepatan televisi memaksa mereka
tampil dengan laporan-laporan yang lebih dalam. Kini gerakan itu diperkenalkan
di Indonesia.Belajar menulis dengan dalam sekaligus memikat.
Pantau mulai mengajarkan genre ini dengan nama “Jurnalisme Sastrawi” pada
tahun 2001. Peserta awal 15 orang. Jumlah ini dianggapa optimal untuk sebuah
metode pelatihan yang berlangsung 2 minggu (12 sesi) dan tiap sesi diformat
santai, semi formal dan peserta bisa berdiskusi langsung.
Selanjutnya kursus ini berlangsung per semester, tiap Januari dan Juni dengan
peserta yang terbatas. Totalnya, Pantau telah menyelenggarakan 10 kali kursus
dengan total peserta 149 orang. Dan saat ini akan menyelenggarakan kursus
angkatan XI dengan peserta maksimal 18 orang. Mereka membuat karya tulis di
seluruh pelosok wilayah di Indonesia dan manca negara. Sejumlah penulis
internasional pun mulai melirik kursus ini. (*)
Informasi dan pendaftaran, silakan hubungi Yusrianti ‘yus’Pontodjaf, mobile:
08152522952 atau sekretariat Yayasan PANTAU 021-7221031
SILABUS JURNALISME SASTRAWI XI
MINGGU PERTAMA
· Hari I
Bacaan untuk hari Senin : “Kegusaran Tom Wolfe” oleh Septiawan Santana
Kurnia; “The Girl of the Year” oleh Tom Wolfe; “Dua Jam Bersama Hasan Tiro“
oleh Arif Zulkifli; “A Boy Who Was Like a Flower’’ oleh Anthony Shadid.
Sesi 1, Senin 8 Januari 2007 pukul 10:00- 12:00--Pembukaan: membicarakan
silabus, perkenalan, bagi tugas, dan diskusi tentang jurnalisme sastrawi,
tentang prinsip-prinsip dasar dalam melakukan reportase, membedakan mana yang
fakta dan mana yang fiksi, kriteria dari gerakan “literary journalism ” [ Janet
Steele]
Sesi 2, Senin 8 Januari 2007 pukul 13:00-15:00--Diskusi lanjutan tentang
definisi jurnalisme sastrawi, dari Tom Wolfe hingga Mark Kramer, dan
pengaruhnya pada perkembangan suratkabar mainstream di Amerika Serikat.
Tugas untuk hari Rabu : Rekamlah pembicaraan dengan seorang teman, anggota
keluarga, atau seorang nara sumber, dengan tujuan bahan itu bisa dijadikan
sebuah monolog. Buat transkripnya, lalu disunting sehingga enak dibaca.
Topiknya bisa apa saja tapi yang bisa memikat pembaca untuk membaca narasi itu.
Modelnya “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” oleh Chik Rini. Panjang maksimal 2
halaman.
· Hari II
Bacaan untuk hari Rabu : “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” oleh Chik Rini,
dan sebagian dari buku “In Cold Blood” karya Truman Capote dan berita
suratkabar “Wealthy Family, 3 of Family Slain,” dari The New York Times pada
1959.
Sesi 3, Rabu 10 Januari 2007 pukul 10:00-12:00-- Diskusi tentang pekerjaan
rumah yang dibuat berdasarkan “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft.” [Janet
Steele]
Sesi 4, Rabu 10 Januari 2007 pukul 13:00-15:00--Diskusi lanjutan tentang
“immersion reporting berdasarkan karya Truman Capote “In Cold Blood” serta
membandingkannya dengan “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” [Janet Steele]
Tugas untuk hari Jumat : Tulislah sebuah narasi dengan gaya orang pertama
("saya") untuk menggambarkan sebuah adegan. Gunakan model "The Armies of the
Night" karya Norman Mailer sebagai contoh di mana Mailer memasukkan dirinya
dalam laporannya. Bahan ini akan dibacakan di depan kelas. Panjang maksimal 2
halaman.
· Hari III
Bacaan untuk hari Jumat: “Tikungan Terakhir” (laporan kematian wartawan Rudi
Singgih) oleh Agus Sopian; “It’s an Honor” oleh Jimmy Breslin dan ‘’The Armies
of the Night’’ karya Norman Mailer.
Sesi 5, Jumat 12 Januari 2007 pukul 10:00-12:00--Diskusi tentang pekerjaan
rumah yang dibuat berdasarkan “The Armies of the Night” serta persoalan kata
“saya.” [Janet Steele]
Sesi 6, Jumat 12 Januari 2007 pukul 13:00-15:00– Diskusi tentang persoalan
struktur narasi, dan bagaimana memanfaatkan narasi dalam berita hangat
(breaking news) dengan contoh“Tikungan Terakhir” oleh Agus Sopian dan “It’s an
Honor” oleh Jimmy Breslin. [Janet Steele]
Tugas untuk hari Senin:
Buatlah sebuah esai pendek satu halaman tentang “saya” dan sengketa, entah
agama, etnik atau ideologi. Bagaimana melihat “saya” melihat konflik, misalnya,
Kristen – Islam di Maluku atau gerakan kemerdekaan Aceh dan identitas “saya”
sendiri.
MINGGU KEDUA
· Hari IV
Bacaan untuk hari Senin : “The Elements of Journalism” karya Bill Kovach dan
Tom Rosenstiel. Media Bias in Covering the Tsunami in Aceh karya Andreas
Harsono. Buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” terjemahan karya Kovach dan
Rosenstiel disediakan dalam paket.
Sesi 7, Senin 15 Januari 2007 pukul 10:00-12:00--Diskusi buku “The Elements
of Journalism” karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Mencari tahu di mana letak
jurnalisme sastrawi. Diskusi tentang persoalan etika, pengelolaan emosi pembaca
dan sebagainya. [Andreas Harsono]
Sesi 8, Senin 15 Januari 2007 pukul 13:00-15:00—Diskusi lanjutan soal
liputan sengketa agama, etnik, ideologi dan nasionalisme di Indonesia dan Timor
Lorosa’e. Bacaan tambahan : The Ethnic Origins of Religious Conflict in North
Maluku Province, 1999-2000 oleh Chris Wilson, Indonesia’s Unknown War and the
Lineages of Violence in West Kalimantan oleh Jamie S. Davidson dan Douglas
Kammen, Patterns of Collective Violence in Indonesia (1990-2003) oleh Ashutosh
Varhney, Rizal Panggabean Mohammad Zulfan Tadjoeddin [Andreas Harsono]
Tugas untuk hari Rabu: Menulis berita dengan persitiwa/tempat/adegan dengan
menggunakan banyak detail. Tuliskan dalam beberapa alinea dengan model “Hikayat
Kebo”.
· Hari V
Bacaan untuk hari Rabu : ‘’Hikayat Kebo’’ serta ‘’Kuda Terbang Mario Pinto’’
karya Linda Christanty; ‘’Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan’’ karya Alfian Hamzah;
‘’Kilometer Nol’’ karya Andreas Harsono; Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft’’
karya Chik Rini.
Sesi 9, Rabu 17 Januari 2007 pukul 10:00-12:00--Diskusi tentang liputan Aceh
dalam gaya bertutur dengan melihat struktur karangan, membandingkan tiga
karangan berbeda dengan isu yang sama. Diskusi tentang pekerjaan rumah yang
dibuat berdasarkan “Hikayat Kebo.” [Budi Setiyono]
Sesi 10, Rabu 17 Januari 2007 pukul 13:00-15:00-- Membandingkan “Hikayat
Kebo” dengan “Kuda Terbang Maria Pinto”, juga membahas pengertian fakta dan
fiksi dalam tulisan jurnalisme dan sastra. [Budi Setiyono]
Tugas untuk hari Jumat: Membuat outline tentang bencana alam di Aceh dengan
model “Hiroshima” John Hersey.
· Hari VI
Sesi 11, Jumat 19 Januari 2007 pukul 10:00-12:00—Mendiskusikan pekerjaan
rumah dan peserta setidaknya membaca sebagian dari “Hiroshima” untuk
mempelajari gaya penulisan Hersey. [Budi Setiyono]
Sesi 12, Jumat 19 Januari 2007 pukul 13:00-selesai--Penutupan serta tanya
jawab dan penyerahan sertifikat oleh Andreas Harsono.
Yus Pontodjaf
Mobile : 081 5252 2952
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!