SURAT DARI SEBERANG.
   
                                                 Ngunglu ayam ling Samawa
                                                        Samung ling sanak do 
tokal
                                                       Mole tu sakompal ate.    
        
   
   
                  
                     Ecun,
                              
                              Bulan lalu aku diundang oleh PT Newmont Nusa 
Tenggara. Undangan untuk pulang kampung, atau dalam bahasa “tau Samawa” “mole 
jango desa”; karena sesungguhnya sudah 65 tahun aku tidak pernah melihat daerah 
yang sekarang disebut Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) itu. Sayup-sayup 
terngiang-ngiang sepotong lawas Samawa yang dibawakan oleh seoramg pemuda yang 
kesepian  yang sedang menjaga padinya di sawah pada malam hari. Rindu pada 
wajah kekasih yang lama tidak bersua karena pekerjaan yang mendera 
badan……..kudatang jango desa, nonda kaleng kubawa, selamat gama parana.
                              Di samping aku dan istriku ikut pula sdr. Abdul 
Malik dan Novarita teman-teman baikku yang selama ini membantu aku dalam 
berbagai hal dan pekerjaanku.. Aku banyak melihat dan berbicara dengan beberapa 
orang staf dan karyawan PT Newmont.
                              Ecun,
                              Waktu terasa berjalan cepat sekarang ini, karena 
di sana orang-orang berbicara dan berdiskusi tentang perencanaan masa depan. 
Waktu tidak beku atau membatu seperti terdapat dalam otak orang-orang yang 
berpikir tradisional.  Empat puluh tahun yang lalu, kita bisa mengatakan waktu 
itu malah tidak ada. Apapun jenisnya, perencanaan berarti suatu antisipasi 
keadaan masa depan. Penegasan visi tentang masa depan pada saat ini adalah 
bertujuan untuk memotivasi, membimbing dan mengarahkan tindakan 
sekareang---suatu masa depan yang berbeda dengan masa sekarang, namun penuh 
dengan agen dan kontra agen, objek-objek yang perlu dihindari, objek-objek yang 
perlu dicakup, sarana untuk memungkinkan penghindaran, kekuatan yang saling 
berkaitan, manusiawi dan yang non manusiawi, lunak, bermusuhan atau netral.
                                 Manusia terkondisi untuk berubah dan membuat 
perencanaan menjadi penting dan perlu bagi diri mereka untuk memilih dan 
bertindak karena kebutuhan dalam medium sejarah. Namun karena masa depan itu 
akan berbeda dengan masa seakarang, maka manusia tidak mengetahui seberapa jauh 
mempercayai antisipasinya yang sekarang mengenai masa depan itu dalam rangka 
menyiapkan diri untuk menghadapi dan menanggulanginya.. Seperti dikatakan oleh 
Warren G.Bennis, dan kawan-kawan, dalam bukunya, The Planning of Change  
(Rinehart & Winston, Inc. 1985) semua perencanaan manusia adalah perencanaan 
perubahan dan memerlukan pertimbangan mengenai keseimbangan yang layak antara 
investasi energi dan sumberdaya untuk mengejar atau menghindari akibat yang 
dapat kita antisipasi sekarang., suatu masa depan yang kurang lebih akan 
menimbulkan keterkejutan, karena sistem sosial yang selama ini kita hadaapi 
adalah bersifat evolusioner.
                                  Manusia modern dikhianati oleh arah tradisi, 
Ecun. Mereka menghadapi sekaligus harapan dan ketakutan akan masa depan yang 
belum diketahui secara langsung karena kehilangan kepercayaan pada pedoman dari 
kebiasaan dan kebijaksanaan tradisional. Kita kadang-kadang menjadi gamang, 
bergerak antara  harapan dan ketakutan. Kukira itulah sebenarnya yang dimaksud 
oleh Pak Basar, seorang staf Comdev ketika mengantar kami berkeliling ke 
desa-desa sampai ke Tatar. Pak Basar menyebut-nyebut tentang mentalitas dan 
peri laku. Kompas (30 November 2006) mengutip ceramah Prof. Michael Porter 
dalam sebuah seminar di Jakarta. Profesor itu bertanya, lalu kenapa Indonesia 
tetap stagnan? Dia jawab sendiri, “Saya pikir penyebabnya sebagian adalah 
masalah mentalitas dan perilaku” dan dia meminta agar pola berpikir kita 
diubah. Hal serupa sedikit banyak disebut-sebut pula oleh Bapak Malik Salim, 
Asisten Senior Manager External Relation PT Newmont dalam diskusi kecil
 dengan beliau di Hotel Lombok Raya, Mataram. Masyarakat sedang mengalami 
perubahan secara drastis dan dunia kini dibayangi oleh perubahan ke arah 
masyarakat informasi. Dalam waktu dekat kita akan memasuki suatu dunia yang 
benar-benar baru. Di dalam dunia yang baru ini kesatuan pengetahuan, sifat 
komunikasi manusia, tatanan masyarakat, tatanan gagasan dan gagasan yang 
sesungguhnya mengenai masyaraakat dan kebudayaan mengalami perubahan dan tidak 
akan kembali seperti semula. Dunia baru yang kita hadapi adalah dunia 
“jungkir-balik” nilai-nilai yang akan melahirkan kegamangan di sebagian besar 
anggota masyarakat; terjadinya pembubaran dan perubahan wewenang secara 
besar-besaran dalam keyakinan, dalam ritual dan dalam tata-tertib duniawi. 
Namun inilah dunia yang kita diami. Suka atau tidak suka. Pak  Basar dan Pak 
Malik Salim tentu  mengalami dan menghadapi kesulitan-kesulitan; banyak 
kesulitan. Kesulitan-kesulitan ini barangkali berasal dari perkembangan dalam 
pemahaman, dalam
 ketrampilan, bahkan dalam keluasaan. 
                                  Ecun,
                                  Sebuah masyarakat atau individu yang 
“well-informed” atau tercerahkan akan mudah berubah atau beradaptasi dengan 
gagasan-gagasan atau ide-ide baru. Bukan dalam arti menerima begitu saja, 
tetapi (yang kita kehendaki) adalah terjadinya proses analisis dan 
internalisasi pada dirinya. Distorsi informasi---apalagi kalau disengaja atau 
memanipulasi informasi---akan bisa menimbulkan hal-hal yang fatal. Seperti yang 
terjadi di daerah-daerah dan tawuran antar kelompok. “Proses tentang informasi” 
adalah penting, karena dengan proses itu kita berusaha memberikan pada 
masyarakat kita tentang wawasan tentang apa yang sedang berlangsung di sekitar 
kita, di dalam diri kita dan antara diri kita dan orang lain. Selama ini 
barangkali saja ada yang salah. Kita haruslah berpendapat bahwa informasi 
diperlakukan sebagai isi dalam lingkungan yang mempunyai potensi untuk mengubah 
proses, strategi dan rencana sistem yang dibuat dengan sengaja (by designed). 
Bisa
 saja pemecahan masalah oleh Comdev akan menimbulkan masalah baru (yang tidak 
diramalkan). Mungkin kita tidak pernah dapat mengambil langkah yang akibatnya 
memang kita maksudkan. Mungkin pula selama penelitian Comdev  sering menemukan 
tujuan baru yang dipertaruhkan dalam tindakan kita yang berada di luar batas 
tujuan kita sendiri. Dengan de mikian secara metafora---maaf pada Pak Basar--- 
langkah perencanaan dan tanggapan pihak yang direncanakan (rakyat Sekongkang 
dan Jereweh khususnya dan KSB umumnya) dapat dilihat sebagai suatu percakapan. 
Namun konteks perencanaan adalah konteks di mana perencanaan dan pihak yang 
direncanakan mungkion benar-benar berbicara satu-sama-lain (berkomunikasi atau 
bermiskomunikasi), sebagaimana mungkin terjadi tentang makna yang telah mereka 
bentuk atau sepakati, baik untuk langkah mereka sendiri maupun untuk langkah 
pihak lain.
                                  Ecun,
                                  ,PT Newmont ini tentu mempergunakan 
perencanaan modern. Secara sepintas aku dapat melihat dan merasakan “aura” 
rasional-komprehensif yang berada di dalam konteks kesadaran objektif: suatu 
keadaan kesadaran yang dibersihkan dari semua penyimpangan subjektif dan semua 
keterlibatan atau kesalahan pribadi. Perencanaan seperti ini terasa elitis dan 
cenderung sentralistis yang benar-benar menutup semua kemungkinan untuk 
perubahan sosial kecuali yang sudah diprogramkan sebelumnya. Sejarah 
mengajarkan kita, bahwa perubahan penting selalu unik, tidak dapat diramalkan 
dan tidak dapat diulang. Kita orang-orang modern sering tidak sabaran dengan 
mengatakan perubahan adalah sebuah proses yang tidak ada akhirnya. Aku akan 
mengatakan pada manusia modern, bahwa sumber perubahan sosial kreatif itulah 
yang tidak dapat diperhitungkan. Atau seperti yang ditulis oleh dua orang 
dramawan Inggris, Richard Edmund dan Nigel Hughes yang mengunjungi jantung 
Kalimantan
 sampai ke Longpahangan: “ Usaha kami bukanlah memaksakan metode dan 
nilai-nilai kami, tetapi sebaliknya adalah  belajar dari mereka dan 
mengembangkan ideologi kaya, kesenian dan kreativitas mereka sendiri yang telah 
dihancurkan dan dipinggirkan oleh pengaruh-pengaruh dari luar, terutama oleh 
bangsanya sendiri” (Rainforest Quest/Trees of Paradise,Green ress, 1991: 169).  
Lebih jauh dua orang dramawan ini menulis di sana: “Rakyat di sana bukan cuma 
contoh dari kebudayaan yang sudah tua, tetapi mereka adalah penjaga-penjaga, 
guardians misteri yang ada di daerah mereka, walau sebagai penjaga mereka tidak 
punya konsep tentang bahaya besar yang mengintai mereka, bahaya yang mengancam 
‘the core of their existence’ , the mystery itself” (hal 278).
                                  Ecun,
                                  Di sinilah kayaknya ada pemahaman yang saling 
bertentangan tentang  apa kebudayaan itu. Bagi kita orang-orang modern---aku, 
Pak Malik Salim, Pak Basar, Pak Kasan Mulyono, Pak Zambani, Pak Jarot, dan 
lain-lain---tidaklah memandang kerbudayaan---tradisi, perilaku, adat-istiadat, 
dan lain-lain---sebagai suatu heritage, suatu warisan yang sebagaimana dipahami 
oleh  masyarakat setempat, masyarakat lingkar tambang atau KSB umumnya.  Bagi 
mereka heritage adalah pedoman-hidup, pedoman dalam bertingkah-laku dan 
berperilaku dan bersikap serta alat-perekat anggota masyarakat. Lawas, sakeco, 
badede, langko, dan lain-lain harus dilestarikan. Bagi mereka kebudayaan adalah 
terdiri atas kebudayaan-kebudayaan yang sudah lama ada yang saling berdamai 
satu sama lain. Tetapi bagi kita---manusia-manusia modern yang dikhianati oleh 
tradisi itu---kebudayaan kita pahami sebagai fragmen-fragmen masa lalu yang 
saling tak terdamaikan, bukan penemuan tetapi warisan
 yang bermetamorposes, melalui kreativitas budi dan akal manusia. Masa lalun 
itu adalah sesuatu yang harus ditaklukkan dan dianeksasi dan adalah dalam diri 
kita---manusia-manusioa modern itu---di mana dialog-dialog besar dengan 
kebudayaan=kebudayaan kebesarabn masa lalu itu menjadi hidup. Dengan 
demikian---terutama dengan hormat pada Bapak Malik Salim---kebudayaan itu 
menjadi kompendium dan menyokong kebesaran Manusia (manusia dengan huruf besar 
M) dan membuat mereka memiliki dan banggga akan harkat mereka sebagai manusia. 
Lewat kebudayaan, terutama seni kita ---seni modern dan seni tradisional---kita 
mencoba menolak takdir kita. “All art is a revolt agaisnt man’s fate”, kata 
Andre Malraux dalam bukunya The Voices of Silence (Granada Publishing House, 
1974: 639)
                                 Ecun,
                                 Aku dan teman-teman timku telah melihat geliat 
Jereweh. Gairah Sakongkang, Magnet Maluk dan Benete, Harapan Belo. Kegigihan 
Goa. Kiprah Beru. Optimisme Tongo dan Tatar----terima kasih lagi pada Pak 
Basar----. Mungkin apa yang kami lihat adalah secara fisik saja, tetapi kami 
berharap adalah pula geliat itu dalam bentuk mental dan peri laku.
                                 Terakhir aku ingin mengucapkan terima kasih 
pada dua orang siswa SMA Negeri Jereweh, Pipin Riyanto dan Fitri yang telah 
menelpon aku menanyakan masalah kreativitas dalam penulisan. Semoga kalian 
kelak menjadi penulis-penulis yang handal.
   
                                 
                                   Kepada seluruh masyarakat lingkar tambang, 
kami mengucapkan”
                                                        No soda su ku ko sia
                                                        Ko paranaku baesi
                                                        Ling genras ku sayang 
sia..
   
                                                                                
                              Salam hormat,
   
                                                                                
                                Max Arifin.
                                                                                
                               Jl.Bola Voli Blok E 33
                                                                                
                                Perum Griya Japan Raya,Sooko,
                                                                                
                                Kabupaten Mojokerto 61361
                                                                                
                                Jawa Timur   
                                                                                
                       Telp 0321-326915
                                                                                
                       HP 085 2300 39 807
                                                                                
                       Email: [EMAIL PROTECTED]
   
   
   
   
   
                          
   
   

 
---------------------------------
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.

Kirim email ke