Sejak TV diciptakan oleh John Logie Baird, banyak kritik-sinis terhadap keberadaan kotak ajaib itu. Diantaranya adalah salah satu pejabat pertunjukkan drama terkemuka pada saat itu, yang menyatakan bahwa tidak mungkin pamor TV dapat menggantikan pamor sandiwara live yang pada waktu itu memiliki banyak penggemar.
Tetapi kritik-sinis itu salah. Kenyataan sekarang menunjukkan bahwa di awal abad 21, hampir tidak satu rumah pun di seluruh dunia yang tidak mengenal dan menginginkan pesawat TV. Ya, hidup kita secara sosio-psikologis mengalami pergeseran. Komunitas hidup sosial yang dinikmati lewat perhelatan antar keluarga yang hangat kini sudah bergeser dengan hadirnya kotak ajaib di tiap ruang keluarga. Setiap hari, di tiap keluarga, salah satu hiburan primer yang diakui adalah: TV. Hiburan ini menggantikan jenis hiburan interaktif dan socio-oriented yang murah, yakni kumpul dengan keluarga dan bercengkerama belaka. Dalam masyarakat yang sudah terpengaruh hadirnya media satu arah ini, tampaknya orientasi hiburan lewat bentuk interaksi yang sosial dengan sesama anggota keluarga dan masyarakat secara lebih nyata, semakin tergantikan. Sepulang kerja atau pulang sekolah, kita terbiasa duduk melepas lelah sambil mengambil remote dan menyalakannya. Kita duduk dan terhisap oleh setiap acara yang disajikannya. Setiap indera kita dicuri perhatiannya terhadap kotak ajaib. Kita duduk terpaku di depan benda mati. TV, memang salah satu karya hebat abad lalu. Dampak yang ditimbulkannya sudah mendunia. Bahkan mampu mengubah pola interaktif manusia hingga abad ini. Hingga tergeser fungsi kemanusiaan kita. Sekalipun tanpa sadar, kita semakin kehilangan hakikat manusia kita. Kita terdehumanisasi lewat TV. Interaksi dengan sesama manusia yang seharusnya 'hidup' dan penuh arti, tergantikan oleh sekotak pancar bertabung listrik yang penuh warna itu. Ia, berbicara lebih nyaring untuk kita simak, dari pada sesama di sekitar kita. Ia bernyanyi dengan lebih merdu ketimbang realita yang mengelilingi kita. Ia menari terlebih indah, ketimbang sosok-sosok hidup di dalam rumah kita. Ia, si benda in-animatif bernama: Televisi. Salam Abdi Christ --- In [email protected], "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Oleh Ariel Heryanto > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0612/03/persona/3138195.htm > ================ > ....Kita bukan makhluk yang menonton televisi berjam-jam. Televisilah yang asyik menonton kita berjam-jam, seperti kata filosof Jean Baurdrillard. Kita tidak menyaksikan gambar yang dipancarkan ke sebuah layar kaca. Kita menjadi layar itu. Bertubi-tubi, berjam-jam, kita menjadi sasaran tembak siaran televisi. Kita bicara dan bergerak sesuai apa yang dipancarkan oleh televisi pada tubuh kita. Bila kehidupan sehari-hari yang sepele ditayangkan di televisi, namanya "reality show". Sebaliknya? Bila tayangan televisi dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa batas? Indonesia Raya.
