Kalau SBY=Papi, JK=Mami, maka kelihatannya yang terjadi dalam rumah
tangga mereka adalah pepatah: "Suami takut Istri"

Tonggak penegak ideologi Pancasila yang kita harap2kan tidak kunjung
tegak. SBY secara retoris mengemukakan hal2 PENTING pada Hari
Kelahiran Pancasila yang lalu. Dia bilang pada masa sekarang, kita
sudah jarang atau tidak berani mengemukakan konsep2 seperti: NKRI,
wawasan kebangsaan, PAncasila, UUD'45. 

SBY juga mengemukakan tentang adanya kelompok2 yang merongrong
ideologi itu secara jelas. Tetapi No Action Talk Only. He has no
POWER, He is a nice and humble President, but not STRONG. 

JK, pernah bilang bahwa dia marah dengan pers yang menyebut2 bahwa
syariat islam akan mengganti Pancasila, sebagai dasar negara, dia
marah, karena seolah2 keislamannya harus diatur menurut hukum. Tapi
komentar tersebut bernada diplomatis, disertai dengan suatu perilaku
yang secara nyata tidak menghentikan tindakan anti penghormatan
kehidupan beragama dengan umat agama lain.

Sayang juga, duet SBY-JK, diminati banyak orang karena si RI 1-nya.
Sedangkan dipahiti banyak orang karena RI-2nya. Sungguh suatu
perpaduan yang absurd. Keduanya semestinya tidak berpasangan. Mungkin
karena lobi politik, maka disandingkan bersama, walau sebenarnya JK
seperti duri dalam daging.

Mereka yang kita harapkan bisa bertindak sesuai hukum, tidak bertindak
alias diam. Diam itu pertanda setuju. Dan semakin hari si Wapres itu
makin kelihatan belangnya. 

Menurut gue, cepat atau lambat secara de facto Indonesia akan menjadi
negara Islam. Atau tidak, menjadi negara berstandar ideologis ganda
(lewat RUU, lewat perbankan, lewat Perda, lewat ketiadaan ketegasan
hukum terhadap kelompok2 anarkis berjubah agama). Diskrepansi antara
aturan2 baru yang dirumuskan dalam RUU2 sudah jelas bila dikaji lewat
Pancasila dan UUD'45.

Kehancuran Indonesia terjadi karena Negara DIAM ketika sekelompok
golongan mengambil alih hukum menurut cara mereka sendiri. PASTI
negara ini pecah!

Salam
Abdi Christ

Kirim email ke