Masalahnya, perceraian bagi perempuan bukanlah hal yang mudah. perempuan indonesia dari kecil tidak dibiasakan untuk hidup mandiri dan mengambil keputusan sendiri. belum lagi buruknya cap janda yang melekat pada seseorang. seorang janda selain harus memikirkan anak2nya juga harus siap selalu mendapat pandangan sinis dan cemoohan dari lingkungannya, bahkan dari sesama perempuan.
saya dapat membayangkan perempuan model teh nini yang kemungkinan besar oleh suaminya sudah diindoktrinasi bahwa seorang istri harus nurut 100% kpd suami, tidak boleh memiliki hak atas tubuhnya sendiri, tidak boleh ini, tidak boleh itu. teh nini pun pasti tidak dapat membayangkan hidupnya tanpa suami, makanya ia terpaksa merelakan suaminya poligami. makanya, menurut saya, langkah pertama, perempuan itu harus mandiri secara finansial. jangan meninggalkan karir hanya untuk pernikahan. kalau suami menuntut perhatian lebih untuk anak2, katakan saja itu tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab ibu. say no to poligamy!! salam, dhaniar Posted by: "marthajan04" [EMAIL PROTECTED] marthajan04 Sat Dec 2, 2006 7:04 am (PST) Semua orang fokusnya kok ke aa gym-nya saja sih? pernikahan bisa terjadi kan karena direncanakan dua pihak. salahkan juga dong bini mudanya. kita solider sama istri tua dong, dia yang jadi korban. mereka (aagym dan bini muda) lagi ber-senang2 diatas penderitaan teh nini. Mestinya teh Nini tuh menta cerai aja sebelum nikah dilaksanakan dan tuntut hartanya 50%. sekarang kalo minta cerai kali hanya dapat bagian 1/3. Rugi dah. ____________________________________________________________________________________ Have a burning question? Go to www.Answers.yahoo.com and get answers from real people who know.
