Setahu saya, beberapa tahun yang lalu waktu heboh2nya poligami award, teh Ninih pernah ditanya pendapatnya ttg poligami, dan dia berkata ikhlas kalo Aa Gym menikah lagi (ditayangkan oleh infotainment, saya tidak ingat kapan dan infotainment apa tepatnya).
Mengenai niat dan tujuan sesungguhnya dari Aa Gym menikah lagi (berpoligami), sungguh hanya Aa Gym dan Allah SWT yang tahu. Dan sebaiknya saya dan anda-anda semua jangan dulu menuduh sembarangan tanpa mengerti apa-apa. Hati-hati bisa jadi fitnah. Aa Gym berkeyakinan bahwa poligami HALAL adanya,jadi kalau anda-anda semua menolak poligami saya pikir itu adalah urusan anda. Bahkan, sama-sama pemeluk Islam pun bisa menafsirkan suatu Ayat atau hadist dengan cara berbeda, namun perlu anda semua tahu dan ingat dalam Al-quran tertera, "tidak ada paksaan dalam agama", dan di ayat yang lain tertera "bagiku agamaku, bagimu agamamu". Cobalah lebih fokus ke teh Ninih, menurut saya pribadi, justru teh Ninih semakin mulia karena kejadian ini. Renungkanlah kata-katanya saat konpers kemaren, "jangan sampai saking cintanya kepada suami, menghalangi cintanya kepada Allah". Dengan kejadian ini teh Ninih dituntut untuk sabar, dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. Walaupun hanya lihat di tivi, saya melihat teh Ninih sangat sabar dan tegar, terlepas dari semua apa yang sebenarnya ada di dalam hati teh Ninih dan apa yang anda lihat. Ini pendapat saya. Barangkali inilah hikmah poligami yang ingin digapai oleh keluarga Aa Gym, yaitu memuliakan istrinya (teh Ninih) dan bisa jadi untuk menggapai kemuliaan keluarga, Aa Gym justru rela mengambil resiko untuk jadi bahan celaan dan cemoohan. Sesuatu yang sulit dimengerti dan dijalankan bukan ?. Teh Ninih telah membuktikan kepada saya bahwa dia mampu menggapai kemuliaan itu, yang bagi saya untuk bisa seperti dia adalah sangat amat sulit sekali. Oleh sebab itu saya ucapkan selamat bagi teh Ninih yang telah lulus ujian. Saya dan anda tidak tahu persis apa-apa yang ada di dalam hati Aa Gym, teh Ninih, maupun istri ke-dua Aa Gym. Tapi bukankan lebih baik kita berbaik sangka daripada membiarkan hati dan pikiran kita kotor oleh prasangka buruk yang sama sekali tak ada gunanya, terlebih lagi bagi orang-orang yang di cemooh. --- In [email protected], Tumpal S <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear friends, > > Cuma mau sedikit sumbang ide tentang poligami, mumpung lagi ada isu hanget soal Aa Gym. Sebagai salah satu fans Aa, meski saya non muslim, saya agak kaget dengan berita Aa kawin lagi. Lagi-lagi ternyata Aa pun seorang manusia biasa yg sama dengan saya yg masih suka "plirak plirik" kiri kanan, apalagi kalo ada yg "alus-alus". > > Yang masih mengendap di pikiran saya adalah suatu tanya:" Masihkah ada gunanya bertanya pada istri kalo kita ingin menikah lagi?" saya mungkin naif dan masih butuh banyak pencerahan, karena menurut saya pertanyaan ini adalah suatu pertanyaan retoris (tidak butuh jawaban), atau kalo lebih tepat lagi disebut sebagai suatu statement yang tidak butuh jawaban. Jawaban sejatinya kita sudah tahu, karena perempuan waras manapun, yg notebene tidak melakukan kesalahan apapun, bahkan sudah terhitung melakukan semua yang terbaik buat sang suami, termasuk melahirkan dan merawat anak-anak; masih diberikan satu pertanyaan " Mamah..bolehkah akang menikah lagi?". Bagaimana kalau jawabannya "Tidak Boleh"?. Sebenarnya saat pertanyaan itu dimunculkan, meski kegiatan menikah lagi belom dilakukan, saat itu hati perempuan manapun pasti sudah hancur berantakan. Dilihat dari sudut batiniah manapun, hal ini tetap tidak masuk akal, kecuali..kecuali..ada kekurangan fatal dari sang istri yang sangat > sang istri berikan pada suaminya namun tidak mampu.Tetapi sekali lagi, dari kebanyakan kasus yang terjadi, bukan hal ini yang terjadi, semua lebih dikarenakan karena manusia selalu sulit mengendalikan nafsu ingin lebih. > > Aa mungkin tidak menyadari (atau sadar) bahwa tindakannya ini telah menjadi suri tauladan bagi para lelaki (muslim / non) lainnya. Saat keinginan berpoligami terjadi rasanya, syarat untuk berlaku "adil" dalam poligami atau syarat "mampu" sudah tidak bisa dibilang obyektif lagi; karena biasanya begitu "nafsu" yang berkuasa rasanya kok bisa "adil-adil" saja atau perasaan bahwa "memang mampu secara ekonomi". Di penutup acara konferensi pers di sebuah infotainment, Aa sempat berpesan meski singkat .." ini bukan berarti poligami bisa dilakukan sembarangan, tapi harus dengan syarat- syarat.." Yah, mungkin itulah nasehat petuah Aa Gym yang mungkin akan jadi pepesan kosong belaka. Meski tidak se"menggelikan" Rhoma Irama dengan parodi kawin cerainya dengan seorang artis pendatang baru (dulunya sebelum ada gosip tidak dianggap), seperti film-film nya yang juga tidak bermutu di tahun 80-90an. > > Secara keseluruhan saya tidak menyalahkan Aa Gym, karena toh dia hanya manusia biasa. Kalau dia sudah mau cukup jujur mengakui semua ini, dan saya yakin dia paham betul akan konsekwensi tindakannya terhadap citra diri dan eksistensi jajajan bisnisnya, saya yakin beliau masih ada niat baik. Sekedar pertanyaan yang menggelitik batin saya, kalo si laki-laki boleh bertanya " Mamah..bolehkah akang menikah lagi..?" , maka jika diikhlaskan dengan tulus, sang istri akan mendapat balasan berupa surga dari Tuhan kelak, maka apakah akan sebaliknya juga jika ada perempuan yang bertanya " Papah...boleh nggak mamah kawin lagi?" apakah balasan bagi laki-laki yang mengikhlaskan keinginan istrinya untuk berpoliandri adalah surga juga? Kalo tidak ada iming-iming apapun rasanya gak adil donk? hehehehe....lagi-lagi tentang "keadilan". > > darmael <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kenapa kita harus meributkan A'a Gym? Mau nikah lebih dari 2 kalipun > sebenarnya bukan masalah besar bagi kita. Yang masalah besar adalah > kalau kita yang melakukannya, apakah sanggup untuk bersikap adil? > > Sebab kita akan menjadi apa yang kita fikirkan! Kita tidak baik > menjadi orang lain. Termasuk untuk mencontoh A'a Gym. Biarlah itu > menjadi refrensi hidup tentang bentuk keadilan dalam rumah tangga. > Paling tidak, akan muncul sebuah kisah tentang bagaimana keadilan > bisa dibangun dengan berpoligami. > > Ya, kita akan menjadi apa yang kita fikirkan! > > salam,
