Ketua Shaolin Kungfu Sekarang Adalah Wanita !!!

Kuil Agama Buddha Shaolin di Tiongkok sangat populer diseluruh dunia
karena merupakan pusat beladiri yang paling terkenal reputasinya
sepanjang sejarah dunia ini.  Namun kuil yang didirikan oleh pendeta
India ini sudah pernah dimusnahkan oleh kerajaan2 yang berkuasa di
Tiongkok karena terlibat dalam konspirasi pemberontakan2.  Demikianlah
dimusnahkan hanya hilang sementara dan muncul lagi hingga setelah
pemerintah komunis berkuasa kuil ini boleh dikatakan musnah hingga
ke-akar2nya.  Meskipun secara organisatoris kegiatan Shaolin temple
ini sudah dimusnahkan, namun tehnik latihan dan rahasia2 tehnik2 ini
terus menerus dikembangkan dan berkembang melalui generasi ke generasi
selanjutnya.

http://users.erols.com/ziring/wbsk/history.html
http://www.shorinjikempo.or.jp/wsko/instructor/sosai.html
http://www.shorinjikempo.or.jp/wsko/history/index.html

Pada tahun 1930, seorang desertir tentara Jepang yang bertugas di
China melarikan diri meninggalkan pasukannya untuk mengikuti seorang
pendeta Buddha yang ternyata adalah satu2nya ahli waris akhir ketua
Shaolin temple yang telah hancur lebur akibat peperangan yang terus
berkecamuk di Tiongkok.  

Doshin So bekas tentara Jepang ini akhirnya menjadi pendeta Buddha
murid satu2nya dari Ketua Shaolin terakhir dalam pelarian.  Dialah
satu2nya pewaris tehnik bela diri kuil Shaolin atau Siao Lim Shi yang
terkenal diseluruh dunia itu.  Bukan hanya teknik beladiri saja yang
diwariskannya, tapi juga ilmu pengobatan, ilmu totok menotok atau
accupressure, ilmu kesehatan preventive, termasuk tentunya ilmu
pernafasan dan meditasi dan yang paling penting adalah ajaran2 sang
Buddha itu sendiri yang memang khas dalam ajaran Shaolin ini yang
dinamakan Kongo Zen Buddhisme.  Munculnya kekuatan Komunis di China
menimbulkan kekacauan yang amat sangat, korban jatuh di-mana2, Doshin
So diminta gurunya untuk menyelamatkan warisan Shaolin keluar Tiongkok
dan sang guru yang tercinta menyatakan akan mati ditanah Tiongkok
karena dia tak akan meninggalkan tanah airnya, namun warisan Shaolin
harus dilanjutkan tak boleh musnah bersama musnahnya kuil dan
ketuanya.  Pada tahun 1947, Doshin So kembali ke Jepang, meneruskan
kembali tradisi Shaolin Temple dari Tiongkok ke pulau Tadotsu di
jepang.  Di Jepang pada saat itupun sangat parah situasinya setelah
ditundukkan dengan bomb atom Amerika.  Pendeta Buddha Doshin So
bertekad menyelamatkan warisan Kuil Shaolin yang di Tiongkok sudah tak
bisa lagi dipertahankan, dan semuanya ini menjadi jelas setelah partai
Komunis Tiongkok berhasil mencapai kemenangannya, dan semua kegiatan
agama dilarang diseluruh daratan Tiongkok.

Pendeta Doshin So sudah tiada, namun seluruh warisan Shaolin sudah
diserahkan kepada anak wanitanya dan sekarang generasi penerus ketua
Shaolin adalah seorang wanita.  Demikianlah karena dalam bahasa Jepang
tidak dikenal huruf "L", maka pronounce Shaolin Kungfu di Jepang
menjadi "Shorinji Kempo".  Murid2 anggauta Shorinji Kempo diseluruh
dunia sudah mencapai lebih dari 2 juta anggauta.  Di Indonesia
Shorinji Kempo berdiri dibawah nama organisasi PERKEMI (Persatuan
Kempo Seluruh Indonesia) yang pendirinya adalah bapak Indra
Kartasasmita bersama adiknya Ginanjar Kartasasmita.  Indonesia
termasuk cabang Kempo yang terbesar diluar Jepang.  Ketua World
Shorinji Kempo Organisation dipegang oleh Yuuki So (Shorinji Kempo
Shike, Doshin So II) yang adalah anak wanita pendeta Doshin So sebagai
kaisho atau pendiri Shorinji Kempo di Jepang.

Demikianlah secara singkat riwayat Shorinji Kempo diatas sebagai
generasi penerus dan juga pewaris tradisi Shaolin Temple yang
didirikan oleh Daruma Taishi dari India.  Namun, masih terlalu banyak
cerita2 yang berbeda beredar dikalangan para pewaris Shaolin Kungfu
itu sendiri, lebih2 aliran2nya juga sangat ber-beda2.  Bahkan di
Indonesia sendiri terutama di Jakarta, sinshe Lo Ban Teng juga
termasuk seorang pewaris dari Shaolin Temple.  Lalu siapakah pewaris
yang sebenarnya ????  Setiap guru kungfu mengklaim dialah merupakan
pewaris aliran aseli kuil Shaolin.

Sebenarnya, tidak ada satupun rujukan yang bisa digunakan untuk
memperkuat klaim masing2 aliran ataupun masing2 guru Kungfu.  Bahkan
Doshin So sendiri hanyalah satu saja dari sekian banyak aliran2 kungfu
yang ada di Tiongkok.  Memang kuil shaolin itu dibangun oleh pendeta
Buddha dari India Daruma Taishi, namun pendeta yang di Tiongkok ini
terkenal dengan nama Tat Mo Tjouwsu ini sama sekali tidak bisa silat,
sangat menyesatkan kalo ada yang menganggap pendiri kuil Shaolin ini
adalah pencipta ilmu2 silat yang sekarang dikenal sebagai Shaolin
Kungfu.  Jauh ribuan tahun sebelum kuil Shaolin itu berdiri, di China
sudah banyak sekali aliran2 silat yang berasal dari keturunan
keluarga2 di Tiongkok yang juga menjadi penguasa2 kerajaan2 kecil
disana.  Dengan kekuasaan raja2 dari keturunan keluarga2 secara turun
temurun, ketidak adilan, pemerasan, dan pembunuhan2 berlangsung lama
di Tiongkok.  Dengan berdirinya kuil Shaolin oleh pendeta Daruma
Taishi dari India, rakyat yang malang banyak yang berkumpul di kuil
ini untuk saling tukar menukar pengalaman, saling menolong, saling
melindungi, apalagi kuil ini merupakan kuil yang didirikan orang asing
sehingga masyarakat Tiongkok waktu itu merasa percaya dan aman dari
mata2 kerajaan Tiongkok itu sendiri.  Semua pendeta atau murid2 yang
belajar agama Buddha di kuil Shaolin ini memang murni cuma mempelajari
agama dan pengobatan termasuk tentunya senam2 Yoga untuk memperkuat
tubuh.  Namun tak bisa dicegah, begitu banyaknya pelarian2 pemberontak
yang berusaha menyelamatkan diri dari pengejaran tentara2 kerajaan dan
mereka menyusup menjadi murid2 sang Buddha dimana secara diam2 mereka
menambahkan berbagai latihan kungfu yang mereka miliki sebelumnya. 
Dimanapun adanya didunia ini, hukum alam selalu berlaku, yang kuat,
yang pandai, dan yang didukung banyak orang selalu akhirnya berkuasa.
 Tak berbeda nasibnya dengan kuil Shaolin ini, kedudukan ketua
akhirnya selalu dikuasai oleh jago2 Kungfu yang kemudian melatih
murid2 kuil Shaolin ini dengan teknik2 beladiri untuk menghalau
gangguan2 dari tentara kerajaan.  Kalo kerajaan itu dikuasai oleh
ahli2 kungfu yang hanya berasal dari satu keluarga saja, maka berbeda
dengan Shaolin temple ini, ribuan aliran silat dari ribuan keluarga2
ahli kungfu diseluruh Tiongkok bergabung menyumbangkan teknik2 mereka
ke kuil yang membawa amanat menolong masyarakat yang tertindas.  Tidak
mengherankan, kalo akhirnya kuil shaolin ini menjadi pusat semua
beladiri hasil gabungan banyak aliran keluarga2 diseluruh Tiongkok
yang sangat hebat sekali sehingga raja2 Tiongkok sendiri sangat hati2
untuk cari gara2 dengan murid2 kuil ini.  Sebenarnya tidak ada satupun
raja Tiongkok yang merasa nyaman dengan kehadiran kuil ini yang selalu
mengancam kekuasaan raja2 Tiongkok itu sendiri.  Tidak secara
terang2an, raja2 Tiongkok juga mengirimkan mata2 untuk menghancurkan
kuil Shaolin ini beserta seluruh cabang2nya di Tiongkok.  Setiap
cabang kuil Shaolin memiliki teknik yang berbeda karena anggauta2
mereka juga berasal dari aliran2 silat yang berbeda.  Jadi tidak
mengherankan kalo semua ahli2 Kungfu di dunia sama2 mengaku dirinya
pewaris kuil Shaolin meskipun teknik mereka sama sekali berbeda tidak
pernah sama.  Di India sendiri darimana asalnya Daruma Taishi sang
pendiri kuil Shaolin, malah tak pernah dikenal teknik2 silat ini.

Siapapun yang mengaku pewaris Shaolin Kungfu yang menjual teknik2
kungfu se-mata2 untuk cari nafkah, tidaklah bisa dikatakan penerus
atau pewaris nilai2 kuil Shaolin yang secara organisasi mengabdikan
diri kepada kemanusiaan.  Kuil Shaolin bukan semata teknik berantem,
tapi lebih tinggi nilainya dari sekedar berantem.

Yang menarik dalam tradisi Shorinji Kempo di Jepang ini adalah mereka
memang meneruskan tradisi kuil Shaolin yang mengabdi kepada masyarakat
kecil, menolong dan membantu mereka yang susah sesuai dengan ajaran
agama Buddha.  Teknik2 beladiri yang diajarkannya juga memang
bertujuan untuk beladiri semata bukan untuk membunuh, dan hal inilah
yang menjadikan ajaran Shorinji Kempo cepat sekali berkembang dan
populer karena mereka bukan menjual teknik bela diri melainkan
mengamalkan ajaran kemanusiaan.  Sangat berbeda kalo anda belajar
Kungfu, Karate, atau pun Tae kwon do dimana guru2nya semua mewajibkan
murid2nya membayarkan sejumlah uang sebagai nafkah hidup sang guru.

Dan juga yang tak kalah menariknya dalam Shorinji Kempo sekarang ini
adalah ketuanya, atau guru besarnya adalah seorang wanita keturunan
pendeta Doshin So.  Sepanjang sejarah Kuil Shaolin tak pernah dikenal
pemimpin kuil adalah seorang wanita seperti yang kita saksikan
sekarang ini dimana Yuuki So adalah ketua dari World Shorinji Kempo
Organization.  Semoga dengan tulisan saya ini bisa ikut menambah
pengetahuan anda, bahwa mempelajari teknik beladiri Shaolin bukanlah
inti dari ajaran Shaolin karena teknik beladiri itu sendiri hanyalah
bagian kecil saja dari pemahaman filosofinya yang dalam dan luas yang
menyangkut nilai2 kehidupan manusia itu sendiri.  Yuuki So hanyalah
satu contoh kecil yang membuktikan bahwa wanita secara fisik lebih
kuat daripada laki2 yang dalam hal ini menyanggah kepercayaan semua
agama didunia yang mengangap laki2 karena secara fisik lebih kuat
harus menjadi pemimpin dan wanita harus tunduk kepada laki2. 
Kepercayaan2 agama seperti ini sudah tidak berlaku lagi dalam ajaran
Kuil Shaolin sekarang ini.

Ny. Muslim binti Muskitawati.

Kirim email ke