Dear All,

Tulisanku yang berjudul :Office Boy, Stereotipe Terhadap Perempuan, dan 
Kekerasan Fisik dimuat di www.layarperak.com Maaf ya kalo masih jauh dari 
sempurna.Silahkan aja klik di:   
http://layarperak.com/news/tv/2006/index.php?id=1164312649
  Kalo ada komentar silahkan kirim ke emailku di: titianaadinda[at}yahoo.co.id 
atau langsung dihalaman www.layarlebar.com tersebut di bagian bawahnya.Makasih 
banyak.

Salam,
Dinda
==========

  Office Boy, Stereotipe Terhadap Perempuan, dan Kekerasan Fisik
 Oleh: Titiana Adinda 
    
---------------------------------
  
  Suka menonton situasi komedi berjudul Office Boy (OB) di RCTI? Kalau begitu 
Anda cukup mengenal tokoh-tokohnya. Ada karakter Saodah atau biasa dipanggil 
Mpok Odah (Tika Panggabean), Ismail atau Mail (Daus Separo), Susi (Oline 
Mendeng), Sayuti (Aditya Padat Karya), Gusti (Bayu Oktara), Hendra (M.Ridwan) , 
Sascya (Winda Viska) dan Taka (Marlon Renaldy). Lalu apa yang salah dari serial 
situasi komedi itu? 
  Tidakkah Anda melihat bagaimana peran Mpok Odah galak dan amat sering 
meminjam uang?Tak sekalipun ditayangkan Mpok Odah mengembalikan uang tersebut 
kepada rekannya? Atau peran tokoh Sascya yang digambarkan sebagai sekretaris 
perempuan yang kegiatan yang digambarkan selalu aja bercermin untuk 
mempercantik diri, agak sedikit bodoh, tapi oleh Pak Taka amat dimanja karena 
Pak Taka diam-diam jatuh hati padanya? Sampai-sampai ketika Sascya sakit dia 
ternyata meninggalkan kerjaan yang setumpuk kepada rekannya karena dia ternyata 
tidak pernah bekerja selama ini. Atau tokoh Susi yang terlihat jatuh hati 
sekali dengan Sayuti sehingga dia rela melakukan apapun untuk Sayuti, tanpa 
tahu kapan Sayuti akan membalas cintanya.
  Penokohan terhadap perempuan di situasi komedi tersebut amat stereotipe 
terhadap perempuan. Bahwa perempuan itu galak, suka pinjam uang, suka bersolek, 
bodoh, tidak bisa bekerja, dan kalau sudah jatuh cinta akan mengorbankan 
segala-galanya. Sedangkan penokohan terhadap laki-laki di situasi komedi ini 
digambarkan sebagai orang yang tegas dan berkuasa, seperti Taka yang amat suka 
menghukum anak buahnya dengan hukuman pushup. Memangnya bisa dibenarkan secara 
kemanusiaan seorang bos menghukum anak buahnya dengan hukuman fisik? Tindakan 
Taka jelas sekali membudayakan kekerasan fisik sebagai hukuman dari atasan 
kepada bawahan tanpa sedikitpun bawahan bisa membela dirinya. Karena kerap kali 
hukuman itu dilakukan untuk hal-hal sepele sekalipun. Seperti urusan jatuh 
cinta dimana Taka dapat selalu bertingkah manis terhadap Sascya meskipun dia 
tidak mempekerjakan kerjaannya dan tidak memberi hukuman kepadanya.
  Perempuan tidak ditampilkan sebagai sosok yang baik hati, pintar, tidak suka 
bersolek, bisa bekerja dan akan rasional kalau sedang jatuh cinta. Apa susahnya 
jika penulis skenario (Winny R, Eki NF) dan sutradara film ini (Adek AZ ) 
menggambarkan penokohan perempuan itu seperti yang saya sebutkan tadi. Menurut 
Veven S.Wardhana pengamat televisi dan media ada tiga tipologi perempuan dalam 
tayangan televisi indonesia: [1] perempuan pembawa petaka, [2] perempuan pelaku 
duka nestapa yang sama sekali tak pernah punya daya untuk menghadapi dan 
melawan penyebab duka derita, [3] pseudo-manusia alias perempuan 'sakti' yang 
menjadi pendekar aneh macam mak lampir atau sekalian menjadi hantu macam si 
manis jembatan ancol -- dan mereka inilah yang bisa balas dendam.
  Di dalam situasi komedi itu, kita melihat bahwa perempuan digambarkan sebagai 
pembawa petaka. Bagaimana tidak jika anak buahnya Mpok Odah yaitu Sayuti, Mail 
dan Susi harus selalu taat padanya saat ia sedang marah.
  Sekarang terjadi kecenderungan sinetron atau situasi komedi yang ditampilkan 
di stasiun televisi selalu menokohkan perempuan yang galak dan licik. Selain di 
OB, juga ada situasi komedi Bajaj Bajuri yang menokohkan Emak (Nani Wijaya) 
sebagai sosok yang galak, sok berkuasa, tak pernah salah dan mengalah dan licik 
terutama kepada menantunya yaitu Bajuri (Mat Solar).Dan tokoh Oneng (Rieke Diah 
Pitaloka) sosok perempuan cantik tetapi sangat o’on (Bodoh) sekali.
  Apa itu suatu pertanda masyarakat kita yang mudah dibodohi atau terjadi 
proses pembodohan di masyarakat. Simaklah apa kalimat yang diucapkan oleh 
keponakan saya berusia 7 tahun, ”Tante, aku nggak mau ah kalau udah besar kerja 
di Televisi apalagi jadi anak buahnya Pak Taka atau Mpok Odah.Mereka galak 
sih,suka pinjam uang nggak pernah dikembalikan dan suka menghukum pushup. Kan 
aku nggak bisa pushup, tante”.Saya bengong, kok segitunya pengaruh drama 
situasi komedi itu terhadap anak-anak ya? Ketika aku cek jam tayangnya, pantas 
saja mereka nonton, soalnya diputar jam 17.00 sore, saat mereka nonton televisi 
ketika baru bangun dari tidur siang.
  
 (5 Desember 2006)  
   
  

                
---------------------------------
Sekarang dengan penyimpanan 1GB
 http://id.mail.yahoo.com/

Kirim email ke