Saya belum sepenuhnya paham mau kemana arah tulisan ini. Dugaan saya, tulisan ini menyiratkan bahwa pada akhirnya ide emansipasi yang diusung oleh Kartini juga para perempuan lainnya akan berakhir pada sikap kompromi atau bahkan menjadi apologis terhadap praktek yang ditentangnya. Logika ini sendiri dalam pengertian saya berarti emansipasi atau perjuangan para perempuan pada akhirnya tak mampu melakukan perubahan dalam kondisi sosial masyarakat.
Namun apa yang terabaikan dalam tulisan singkat ini adalah bahwa ide emansipasi itu sendiri tidak secara eksklusif milik Kartini. Kartini memang mengusungnya. Namun kegagalannya bukan berarti pertanda kematian akan ide itu sendiri. Kegagalan Kartini tidak bisa dilihat secara sempit bahwa pejuang emansipasi pada akhirnya akan tunduk terhadap apa yang ditentangnya. Ada persoalan lain misalnya peran negara, organisasi dan sebagainya. Bayangkan jika Kartini bisa melobi pemerintah yang berkuasa seperti yang dilakukan oleh Josephine Butler di Inggris ketika berkampanye melawan Contagious Disease Act 1860-an. Membuat paralel perjuangan emansipasi Kartini dan para perempuan pada masa sekarang ini tidaklah berguna. Pada masa Kartini, Indonesia sedang berhadapan dengan gelombang modernisasi. Dan Kartini merupakan bukti bagaimana gagasan tradisional dan modern bergerak secara dialektis melalui Kartini. Catatan bung di akhir tulisan apakah bisa bersifat universal? Apakah bisa juga digunakan dalam konteks lain. Misalnya saya tak boleh membenci Hitler lantaran saya kelak akan membutuhkannya? Sayang, saya tidak butuh Hitler, juga poligami. salam Rahadian --- In [email protected], "gedehc" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pernikahan kali kedua Aa Gym menimbulkan polemik. Ada yang pro, ada > yang kontra. Ketika berada di Kualalumpur Malaysia (Sabtu, 2 Desember > 2006), lewat telepon yang disiarkan oleh radio MQ FM, Aa berkata bahwa > sudah ada 3.000-an SMS yang diterimanya. Ada yang menghujat, ada yang > memberikan selamat. Akhirnya, pada Sabtu sore di Jakarta, sepulang > dari negeri jiran itu, Aa Gym dan Teh Ninih memberikan keterangan > resmi di depan wartawan. > > *** > > Sikap kontra yang muncul menandakan bahwa poligami dianggap negatif, > terutama dari sudut pandang perempuan. Mereka ingin kesetaraan jender, > ingin emansipasi seperti yang dikumandangkan R. A. Kartini. Spirit > Kartini memang tinggi dalam memajukan perempuan dan bisa diketahui > dari surat yang ditulisnya untuk Zeehandelaar yang isinya perihal > wanita Surakarta pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Kalimat > ini saya kutip dari buku Menemukan Sejarah karya Prof. A. Mansur > Suryanegara, seorang gurubesar sejarah di Universitas Padjadjaran > Bandung. Begini isinya: > > Di sana hampir tiada seorang juga laki-laki yang perempuannya hanya > seorang, dalam kalangan bangsawan terutama lingkungan susuhunan, > seorang laki-laki lebih 26 orang perempuannya (23 Agustus 1900). > > Kalimat di atas bisa ditafsirkan dari tiga hal, yaitu (1) Kartini > tidak setuju pada poligami yang tak terbatas istrinya, sampai puluhan > atau ratusan; (2) Kartini tidak setuju pada poligami lebih dari empat > orang atau Kartini setuju pada poligami empat orang; dan (3) Kartini > menganut monogami. Jika dilihat dari tanggal suratnya maka bisa > disimpulkan bahwa itu dibuat atau dikirim oleh Kartini kepada > sahabatnya sebelum ia menikah. Ada juga data bahwa Kartini belajar > tafsir Al Qurâan tetapi baru sampai beberapa juz saja. Boleh jadi > Kartini sudah pernah membaca atau diberi tahu bahwa dalam Qurâan ada > ayat yang membolehkan poligami. Itu pun hanya dengan empat perempuan. > Jika tak mampu maka nikahilah satu perempuan saja. > > Namun demikian, apa yang terjadi selanjutnya? Kartini ternyata mau > menjadi istri keempat dari Djojoadiningrat yang sudah punya tujuh > anak. Artinya, Kartini pun dipoligami. Konsekuensi logisnya, > emansipasi itu bukanlah meniadakan poligami. Sebab, suatu saat kelak, > hal apapun bisa saja terjadi, orang-orang yang keras melawan poligami > justru akan melakoninya dan hidup bermadukan perempuan lain. Berikut > ini saya kutipkan kolom di majalah Tempo, 17 April 2006. > > Kartini menikah dengan Djojoadiningrat, yang sudah punya tiga istri > dan tujuh anak. Bahkan putri tertua suaminya hanya terpaut delapan > tahun dari sang Raden Ajeng itu. Perkawinan yang berlangsung pada 8 > November 1903 itu > praktis menyudahi perlawanannya terhadap praktek poligami di > masyarakat Jawa. Setelah diboyong ke Rembang menjadi raden ayu di > kabupaten, Kartini tidak lagi bicara soal kedudukan perempuan atau > menyerang poligami, bahkan juga cita-citanya mengenai pendidikan. > Sangat boleh jadi ia sudah berdamai dengan lingkungannya. Ini memang > aneh: seorang pemberontak bisa menjadi begitu lentuk. > > Catatan. > Kalau kau benci sesuatu, janganlah kau terlalu membencinya. Sebab, > suatu saat kelak boleh jadi kau justru akan memerlukannya. Kalau kau > suka sesuatu, janganlah kau terlalu menyukainya. Sebab, suatu saat > kelak boleh jadi kau akan membencinya. > > > > Silakan baca. > Istri Kedua Aa Gym? > Kanal Seks > Poligami Nabi Muhammad > > > Gede H. Cahyana > http://gedehace.blogspot.com >
