Beda poligami dan poliandri. Kenapa alam ini memberikan hak khusus pada lelaki. 
Hanya komentar candaan untuk bung Charles :

Pada poligami, bila sang istri/istri istri melahirkan anak, sudah jelas bahwa 
anak tersebut adalah benih dari sang suami yang satu itu.

Pada poliandri, bila sang istri melahirkan anak, tidak mudah untuk menentukan 
anak tersebut benih dari suami yang mana.

Salam canda,
Supriyadi
 
  ----- Original Message ----- 
  From: Charles Athenk 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, December 03, 2006 11:33 AM
  Subject: Re: [mediacare] Istri Kedua Aa Gym?


  Saya sangat tidak setuju dengan poligami kenapa??
  Karena ini hanya menguntungkan kaum wanita dan kebanyakan hanya untuk 
memenuhi nafsu kaum lelaki yang berlindung dibalik ajaran agama... kalau 
dikatakan untuk membantu ekonomi para janda bantu aja secara ekonomi tidak 
perlu dikawini. Seolah-olah saya akan bantu tapi dibayar dengan kamu harus 
kawin dgn saya.....!!! kalo mau jujur dan adil apa ada lelaki yang rela klo 
istrinya yang bersuami banyak...!!! kan banyak wanita yang kaya dan banyak 
laki-laki yang miskin. Jadi para istri juga punya alasan yang sama untuk 
berbagi kebahagiaan dengan lelaki lain tapi apa kaum suami bisa rela!!!! itulah 
egoisnya kita kaum lelaki....Apa AA Gim bisa ikhlas kalo istrinya juga ikut 
kawin lagi...!!!! Gak adil kan..Jman nabi udah beda dengan jaman sekarang... 
  gedehc <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

    Bakda Subuh, Jumat 1 Desember 2006, saya menyimak radio MQ FM Bandung.
    Ada seorang ibu yang menelepon dan mengutarakan ketidaksetujuannya
    atas poligami yang dilakukan Aa Gym. Saya sempat kaget mendengarnya.
    Aa Gym menikah lagi? Saya belum tahu berita ini. Tetapi dari nada
    suaranya, ibu itu pun masih ragu-ragu apakah Aa Gym betul-betul sudah
    menikah lagi ataukah sekadar gosip.

    Terlepas dari betul tidaknya berita itu, sebab Aa Gym tidak
    tegas-tegas membantahnya, saya lantas membuka komputer dan menulis
    tentang poligami ini.

    ***

    Adakah perempuan yang mau dipoligami? Bertolak dari sisi psikologis
    manusia, khususnya perempuan, saya yakin tak seorang perempuan pun mau
    berbagi suami dengan perempuan lainnya. Mereka ingin memonopoli
    suaminya. Jangankan perempuan zaman sekarang, zaman ketika berembus
    angin kesetaraan jender di semua segi kehidupan, pada masa Nabi
    Muhammad pun itu terjadi. Malah pernah muncul di keluarga nabi akhir
    zaman itu. Kisahnya bergini. 

    Aisyah pernah dibakar api cemburu sehingga ia berkata, "Khadijah
    lagi... Khadijah lagi... Seperti tak ada perempuan lain saja."
    Mendengar ujaran itu, Muhammad lantas pergi. Selang beberapa waktu,
    Beliau kembali lagi. Pada saat itu ibunda Aisyah, yaitu Ummu Rumman
    sedang ada di sana. "Wahai Rasulullah, ada apa engkau dengan Aisyah?
    Ia masih sangat muda dan selayaknya engkau maklumi."

    Muhammad lantas mendekat dan memegang dagu Aisyah seraya berkata,"
    Bukankah engkau yang berkata seolah-olah di dunia ini tak ada lagi
    wanita selain Khadijah?"

    "Tapi untuk apa engkau mengingat-ingat perempuan tua itu yang ujung
    mulutnya sudah merah padahal Allah sudah menggantinya dengan yang lebi
    baik bagimu?"

    "Demi Allah, Dia tak pernah mengganti dengan yang lebih baik daripada
    Khadijah. Ia beriman ketika semua orang mendustakanku. Ia bagikan
    hartanya ketika yang lain menahannya. Ia memberiku anak tetapi yang
    lainnya tidak."

    Andaikata Khadijah masih hidup dan bermadukan Aisyah, kira-kira apa
    yang bakal terjadi? Terhadap madu-madunya yang lain pun, seperti
    Shafiah dan Ummu Salamah, Aisyah cemburu. Artinya, perasaan cemburu
    itu pasti ada pada setiap perempuan. Hanya saja, ada yang mampu
    mengendalikannya, ada yang tidak.

    ***

    Sebagai muslim, saya yakin Aa Gym pun ingin lebih banyak beribadah.
    Tak hanya ibadah ritual (mahdhah) tetapi juga ibadah sosial
    (ghair-mahdhah). Itu sebabnya, lewat berbagai perusahaan yang
    dimilikinya, Aa Gym sudah membuka ribuan lapangan kerja. Perusahaannya
    membentang mulai dari percetakan, penerbitan, toko buku, penginapan,
    radio, televisi, biro travel dan KBIH, training sampai air minum
    kemasan bermerek MQ Jernih. Ada lagi yang lainnya, tetapi saya tidak
    hafal semua.

    Ketika Aa Gym sudah mampu melaksanakan ibadah ritual dan sosialnya dan
    bahkan nilainya jauh di atas rata-rata orang sekarang, barangkali Aa
    Gym pun ingin beribadah lainnya. Salah satu bentuknya ialah menikah
    lagi. Bukankah Allah Swt mengizinkan lelaki memiliki istri lebih dari
    satu dengan jumlah maksimum empat orang? Apalagi kalau istri
    pertamanya setuju. Bagaimana relung hati terdalamnya, apakah Teh Ninih
    setuju? Untuk hal ini, yang tahu hanyalah Allah dan yang bersangkutan.
    Yang bisa dinilai adalah tampak luarnya, yaitu lewat kata-kata dan
    sikapnya. Jika dua hal ini sudah menampakkan gejala setuju maka tak
    ada alasan lagi orang lain berburuk sangka. Bahwa ada sebersit rasa
    tak setuju atau cemburu, sebagai manusia biasa tentu bisa dimaklumi.
    Jika yang ada berupa rasa bahagia mendapatkan "teman" baru untuk suami
    tercintanya, ini tentu menjadi nilai plus yang balasannya, menurut
    Islam, adalah jannah atau surga. 

    Bagaimana dengan protes dari masyarakat, terutama kaum perempuan? Ini
    pun bisa dimaklumi. Sebab, mereka protes karena di lubuk hati
    terdalamnya takut suaminya ikut-ikutan berpoligami. Aa Gym sudah
    diproklamasikan sebagai figur publik. Apapun yang dilakukannya akan
    mendapatkan banyak sorotan dan akan dicontoh. "Dicontoh" atau diikuti
    oleh lelaki lain inilah yang dikhawatirkan oleh ibu-ibu rumah tangga.
    Malah tak heran ada ibu rumah tangga yang rela suaminya "membeli sate"
    saja daripada harus "memelihara kambing" di rumahnya. Pernah tersiar
    kabar, ada istri yang mencarikan perempuan perawan untuk "digauli"
    oleh suaminya demi maksud-maksud yang berbau mistik. Ada juga istri
    yang mengizinkan suaminya membawa perempuan ke rumahnya asalkan tidak
    dinikahinya sehingga harta suaminya tak harus dibagi dengan perempuan
    itu. 

    Ada juga ibu-ibu yang protes dan mengatakan bahwa poligami membuat
    perempuan menderita dan tidak adil. Mereka yakin poligami akan
    menghancurkan keluarga dan membuat anak-anak kucar-kacir. Rupanya
    mereka lupa bahwa betapa banyak orang yang monogami juga hancur rumah
    tangganya. Ada artis yang memang monogami tetapi dia sudah
    berkali-kali kawin-cerai. Ada artis yang rumah tangganya sarat dengan
    selingkuh dan bahkan sengaja saling selingkuh-menyelingkuhi agar
    pasangannya kesal dan marah. Begitu pun orang-orang biasa, dari
    kalangan bukan artis, banyak juga yang hancur pernikahannya padahal
    monogami. 

    Jadi, hancur tidaknya rumah tangga itu tidak disebabkan oleh status
    pernikahan yang mono atau poligami. Tak sedikit yang berpoligami
    tetapi rumah tangganya justru aman-aman saja dan tampak akur rukun.
    Yang monogami malah sering berantakan dan ditayangkan di televisi. Ada
    monogami yang tampak awet, tetapi sebetulnya mirip bara dalam sekam.
    Mereka tak ingin kekalutan rumah tangganya diketahui oleh orang lain
    karena menjadi figur publik, pejabat, atau orang-orang yang memiliki
    massa. Mereka bermain sandiwara atau "sinetron". 

    ***

    Hari ini, 1 Desember 2006 adalah peringatan Hari AIDS Sedunia. Sindrom
    ini sudah meluas ke semua tempat dan makin parah. Penderitanya makin
    banyak. Salah satu sebabnya adalah seks bebas, baik dengan pelacur
    maupun dengan pacar, teman, dll. Yang perlu dicatat, perluasan AIDS
    tak bisa ditahan dengan penggunaan kondom. Kampanye kondom justru
    berbalik menjadi bumerang dan membentuk image di otak remaja kita
    perihal pembolehan seks bebas asalkan memakai "sarung" itu. 

    Memang, untuk kasus HIV/AIDS lantaran tertular dari tranfusi darah,
    kelahiran bayi, atau kejadian lain yang bukan perilaku amoral, saya
    juga prihatin. Kasihan sekali mereka kena HIV/AIDS padahal tak berbuat
    buruk. Kejadian buruk yang menimpa mereka mudah-mudahan dapat
    menghapus dosa-dosanya. Mau tak mau, demi mengurangi tingkat stres
    penderitanya, anggaplah itu sebagai takdir yang mesti dilalui.
    Keikhlasan seperti ini akan lebih bermanfaat daripada marah dan
    menyesali diri. Begitu pun yang menderita AIDS karena seks bebas dan
    narkoba, tak perlu lagi berkeluh-kesah. Tinggal tobat dan menyesali
    perbuatan buruk selama ini dan terus mohon ampun kepada Sang Khalik.
    Soal mati, tak perlulah takut. Sebab, kalau belum waktunya, mati itu
    takkan terjadi. Bahkan banyak orang sehat yang berotot lebih dulu mati
    ketimbang orang yang sakit parah. 

    Jika dikaitkan dengan AIDS, maka poligami dapat mencegah potensi
    perluasan AIDS akibat "jajan" sembarangan dan berdosa dari sudut
    pandang agama apapun. Sebaliknya, apabila poligami dilaksanakan dengan
    niat ibadah, sang istri juga menerima dengan niat ibadah walaupun
    berat seperti kasus Aisyah di atas, maka pahalalah yang diperoleh.
    Lagi pula, tak satu agama pun mengizinkan umatnya berzina, kecuali
    sekte-sekte sesat yang pernah ada di Amerika Latin, Amerika Serikat
    dan Skandinavia. 

    Akhir kata, saya pun bertanya kepada salah satu guru saya, yaitu Aa
    Gym. "Aa, betulkah sudah menikah lagi?" Sampai artikel ini di-upload
    di- http://gedehace.blogspot.com/2006/12/istri-kedua-aa-gym.html, saya
    memang belum tahu perihal itu. Saya hanya berdoa, ya Allah berikanlah
    yang terbaik untuk Aa Gym dan jadikan keluarganya sakinah. Aamiin.*

    Gede H. Cahyana
    http://gedehace.blogspot.com






------------------------------------------------------------------------------
  Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

   

Kirim email ke