RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR
Komentar:
========
Bung Batara yang budiman,
menurut pendapat kami bukanlah bangsa Belanda yang mengalami
amnesia-kolektif . . .

Bagaimana Bangsa Indonesia bisa menuntut kembali apapun yang telah dirampok
oleh Kerajaan Belanda di masa-masa penjajahan mereka di negeri kita ?

Coba kita lihat ke belakang sebentar:

01. Beberapa tahun setelah negeri kita baru merdeka,
terjadilahnasionalisasiatas seluruh perusahaan-perusahaan Belanda,
diambil alih menjadi milik
Republik Indonesia . . .

02. Lantas, - Sejarah Indonesia berlanjut dengan Era Konfrontasi ! "Inggris
dilinggis, Amerika disetrika . . .", Belanda terpaksa harus hengkang dari
Irian Barat . . . - "Ini dadaku, mana dadamu ! . . ." - - -  Selamjutnya:  "GO
TO HELL WITH YOU AIDS !!!" . . .

03. Kemudian (1965), politik Indonesia berubah 180 derajat ! - Dari
maki-maki Barat:: kolonialis, imperialis, nekolim ! . . . tiba-tiba "bangsa
kita" jadi penjilat dan anjing penjaga, bahkan algojonya meneer-meneer yang
barusan dimaki-maki itu !!! Demi membuktikan kesetiaan (?) terhadap Barat,
bahkan sampai-hati mandi darah jutaan (!) saudara-saudara sendiri . . .

04. Namun, itu semua masih belum apa-apa ! - Di hari-hari ini, kita sedang
akan menutup tahun 2006.  Negeri dan Bangsa Indonesia sudah  lebih dari 61
(enam puluh satu !!!) tahun merdeka, sudah lama bebas dari penjajahan fisik
negeri-negeri asing, - - -  namun, Bangsa yang sudah setua ini (sudah
kakek-kakek-nenek-nenek, sudah jompo . . . !!!) masih saja tidak
punyacucu-cucu yang bersemangat, bertekad dan mulai bergerak-berjuang
demi
membela Kehormatan Negeri dan Bangsanya ! Mereka melempem, cuek saja, hidup
"pragmatis", banyak yang malahan siap-siap dan juga sudah mulai menggantikan
generasi Maling di negeri yang malang dan terpuruk keterlaluan ini . . .

LANTAS, SIAPA ATAU SIAPA-SIAPA YANG AKAN MENUNTUT BELANDA ATAS
KEJAHATAN-KEJAHATAN MEREKA DI MASALALU ITU ?! - Sampai sekarang tak ada
satupun Pemerintah RI yang berani melakukannya !

RedTOLERANSI*RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR

On 12/4/06, Batara Hutagalung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Belanda menuntut dari Jerman agar benda-benda seni yang kata mereka
„dirampok" oleh tentara Jerman dari Belanda selama masa pendudukan Jerman
1941 - 1945 dalam Perang Dunia II , dikembalikan kepada mereka YANG BERHAK
ATASNYA. Dan berhasil!
Rupanya bangsa Belanda mengalami amnesia kolektif. Atau pura-pura lupa,
bahwa Belanda juga merampok sejumlah besar benda-benda seni dan berbagai
pusaka keraton-keraton di Nusantara. Seharusnya, kalau Belanda mempunyai
rasa malu, mereka seharusnya juga mengembalikan seluruh kekayaan yang telah
mereka rampok dari bumi Nusantara selama ratusan tahun.
Belanda juga menuntut permintaan maaf dan kompensasi dari Jepang, atas
penderitaan sekitar 300 ribu orang Belanda yang diinternir tentara Jepang di
Indonesia antara tahun 1942 – 1945.
Dalam hal ini sekali lagi mereka mengalami amnesia kolektif, karena lupa,
bahwa antara 1945 – 1950, dalam upaya menjajah kembali Indonesia, tentara
Belanda telah melakukan berbagai kejahatan perang, pelanggaran HAM dan
kejahatan atas kemanusiaan terhadap rakyat Indonesia. Tidak kalah kejamnya
dari Jerman dan Jepang. Salah satu contohnya akan ditayangkan di Metro TV
hari Minggu tanggal 10 Desember pukul 20.05, yaitu peristiwa pembantaian
di Rawagede pada 9 Desember 1947, di mana tentara Belanda membantai 431
penduduk desa.
Bahkan sampai sekaran g pun pemerintah Belanda tetap tidak mau mengakui
kemerdekaan RI adalah 17.8.1945. Bagi pemerintah Belana, kemerdekaan RI
adalah 27.12.1949, yaitu pengakuan terhadap Republik Indonesia Serikat
(RIS). RIS dibubarkan pada 168.1950.

Salam dari Sabang nan indah dan damai.

Batara R. Hutagalung
Weblog: http://batarahutagalung.blogspot.com
============================================

Radio Nederland
Dirampok, Tapi dari Siapa? Mencari Pemilik Benda Seni yang Dirampok di
masa Perang Dunia II Philip Smet
30-11-2006
60 Tahun setelah Perang Dunia II, Belanda masih mencari para pemilik
benda-benda seni yang dibawa kaum Nazi ke Jerman. Seusai perang, benda-benda
seni itu dikembalikan ke Belanda, tapi 4700 benda tidak pernah jatuh ke
tangan pemilik yang sebenarnya. Melalui situs web dan pameran khusus,
pemerintah Belanda berharap bisa mengembalikan benda-benda ini kepada mereka
yang berhak atasnya.
4700 benda seni tanpa pemilik
Di Hollandse Schouwburg di Amsterdam, monumen peringatan yang didirikan
untuk mengenang warga Yahudi yang semasa Perang Dunia II dideportasi, untuk
sementara dibangun pavilyun kaca. Di sini dipajang sekitar 40 lukisan dan
sepuluh benda yang terbuat dari tembikar dan perak. Benda-benda ini
merupakan satu persen dari jumlah total benda-benda seni yang oleh sebuah
komisi penyelidik khusus masih dicari pemiliknya. Seusai perang, benda-benda
ini dikembalikan oleh Jerman ke Belanda. Kaum Nazi membeli - seringkali
dengan memaksa dan dengan harga sangat murah - menyita atau bahkan merampok
barang-barang ini di Belanda. Karena itu barang-barang tersebut juga disebut
benda-benda 'seni hasil rampokan'.
Adolf Hitler ingin membangun museum besar di kota kelahiran Linz, untuk
menampung barang-barang seni dari semua negara di kekaisarannya. Di Belanda,
kaum Nazi Jerman merampok habis barang-barang seni, terutama dari kalangan
Yahudi. Selain itu banyak barang seni milik swasta, yang dibawa ke Jerman.
Berkat administrasi bagus Jerman, maka seusai perang, pasukan sekutu bisa
mengembalikan barang-barang itu ke negara asalnya. Tapi banyak pemilik
benda-benda seni itu telah meninggal dunia dan sanak saudara mereka tidak
bisa membuktikan bahwa mereka berhak atas benda-benda tersebut. Antara 1945
sampai dengan 1952, pemerintah banyak menolak pengakuan atas benda-benda
itu. Akhirnya masih tersisa 4700 benda seni, yang sampai saat ini masih
disimpan sebagai koleksi negara.
Klaim kepemilikan
Tahun 1990an, pemerintah Belanda mulai menyadari bahwa prosedur-prosedur
yang dijalani setelah perang, tidak benar. Banyak ahli waris dari pemilik
benda-benda seni ingin memiliki kembali barang-barang tersebut,
kadang-kadang karena nilai ekonominya, tapi sering juga karena nilai
emosionalnya. Karena itu pemerintah membentuk sebuah komisi khusus di bawah
pimpinan Rudi Ekkart, yang harus melacak pemiliknya. Pemilik itu dapat
mengajukan klaim kepemilikan, tanpa memperdulikan keputusan yang pernah
diambil di tahun-tahun seusai perang tentang nasib benda seni itu.
April 2007, peraturan ini secara resmi tidak berlaku lagi. Tapi
pengakuan-pengakuan yang masuk setelah 2007, untuk sementara masih akan
ditangani. Sejauh ini hampir 500 barang seni telah dikembalikan ke
orang-orang yang berhak atasnya. Ketua komisi Ekkart memperkirakan 200, dan
kemungkinan bahkan 500 barang seni lainnya masih bisa dikembalikan ke
orang-orang yang berhak atasnya.
Komisi masih perlu menangani beberapa klaim yang diterimanya. Komisi
mengambil keputusan akhir, berdasarkan nasehat-nasehat Ekkart. Komisi khusus
ini berfungsi semacam pengadilan independen dan menjalankan tugasnya dengan
sangat teliti.
Satu upaya lagi
Sebelum kebijakan ini berakhir April 2007, komisi khusus masih harus
melakukan satu upaya untuk menemukan sebanyak mungkin orang yang berhak atas
barang-barang seni. Di situs web www.herkomstgezocht.nl, atau
www.originsunknown.org yang dalam bahasa Indonesia-nya berarti situs
pencarian asal muasal barang, tercantum semua barang lengkap dengan
informasi.
Juga disebarkan cdrom khusus di kedutaan-kedutaan Belanda di seluruh
dunia. Di pameran di Hollandsche Schouwburg yang berjudul "Dirampok, tapi
dari siapa?" kini juga dipajang beberapa benda, yang telah ditetapkan siapa
pemiliknya. Misalnya sebuah cangkir perak dengan tulisan Ibrani. Cangkir ini
merupakan hadiah kepada seorang laki-laki Yahudi dari Oud-Beijerland yang
akhir abad ke-19 merayakan usia ke 80. Tulisan pada cangkir itu telah
diterjemahkan dan berdasarkan terjemahan itu, maka sanak saudaranya bisa
memperoleh kembali cangkirnya. Ekkart berharap masih ada benda-benda lain
lagi yang berhasil ditemukan pemiliknya. Pameran ini berakhir akhir Februari
2007.


Reaksi:
Batara Hutagalung, [EMAIL PROTECTED] <batara44rh%40yahoo.com>,
04-12-2006 - Indonesia
Belanda menuntut dikembalikannya benda-benda seni yang dirampok oleh
Jerman antara tahun 1941 - 1945. Bagaimana dengan benda-benda seni, pusaka
keraton-keraton di Nusantara yang dirampok oleh Belanda selama masa
penjajahan? Apakah ada rasa malu dan mengembalikannya ke keraton-keraton
yang bersangkutan?


****************************************************
"Ada dua hal yang tidak terbatas, yaitu: Alam Semesta ini dan Kebodohan
Manusia;
namun mengenai Alam Semesta tersebut masih saya ragukan . . ." (Albert
Einstein)
****************************************************

Kirim email ke