Poligami dibolehkan. Lakukan saja dimana disitu bisa didapat manfaat. Dan
jangan dilakukan bila akan jadi mudharat.
manfaat apa yang anda maksudkan? perlu anda jelaskan. apakah manfaat yang
dimanfaatkan oleh salah satu pihak? atau manfaat bersama suami istri?kalo
manfaat yang dimanfaatkan oleh salah satu pihak, jelas hal ini haram.

Tidak semua orang harus poligami. Dan jangan semua orang dilarang poligami.
Kalau poligami bisa mempererat persahabatan dua pribadi, dua kelompok/suku,
dua negara, maka itu tujuan yang baik, lakukanlah.
apa dalil anda mengatakan hal tersebut? apabila terjadi peperangan antar dua
kelompok, suku, negara, dan dua lainnya dan menyuruh cerai, bukankah itu
sama saja dengan kawin kontrak? apakah kawin kontrak boleh? jelas haram.
yang saya lihat dari penggalan kalimat anda, bahwa poligami memiliki tujuan
secara politis yang dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan, baik satu
pihak maupun banyak pihak. apabila seperti itu, menikah menjadi haram.

Kalau poligami bisa menghindarkan kita dari dosa zina, maka lakukanlah, itu
tujuan yang baik.
apakah dengan mempunyai istri satu tidak menghindarkan dosa zina? saya kira
bukan zina, tapi ingin mendapatkan kepuasan lagi. kalo udah seperti itu
(berpoligami untuk mencari kepuasan), apa bedanya manusia dengan binatang?

Kalau dengan poligami seseorang ingin mendidik dirinya untuk menjadi orang
yang kuat jiwa dan rohaniahnya, maka lakukanlah itu tujuan yang baik juga.
benarkan poligami bisa menjadikan orang mempunyai jiwa dan rohani yang kuat?
tolong anda deskripsikan lebih detail. karena menurut saya, yang membuat
jiwa dan rohani menjadi kuat adalah dengan beribadah, bukan dengan
berpoligami.

Intinya poligami adalah sarana sah yang disediakan Allah untuk umat
manusia, untuk dimanfaatkan dalam berbagai-bagai keperluannya.
bernarkan poligami itu sarana yang sah?kalau poligami untuk tujuan
dimanfaatkan, dengan merujuk dari komentar saya di atas, adalah haram. anda
dapet dalil dari mana sih? atau anda cuman meracau tanpa dalil?

Jadi mari kita terima hukum Allah ttg poligami, bahwa ianya boleh
dilakukan, bahkan itu sunnah untuk tujuan-2 spt disebut diatas.
hukum Allah yang mana tentang poligami? yang pasti bukan untuk tujuan2
seperti yang telah anda disebutkan di atas.

Sebaiknya diserahkan saja pada setiap individu, apa yang terbaik bagi
dirinya.
kenapa diserahkan kepada individu masing2? toh yang namanya agama adalah
untuk mengatur manusia, bukan supaya manusia menjadi lebih kacau.

Sepertinya sih, di masa datang poligami akan menjadi hal yang lumrah dan
biasa dilakukan banyak orang, seperti pernah terjadi dalam masyarakat Islam
di masa lalu.
masyarakat islam masa lalu yang mana yang anda maksud? poligami terjadi
bukan di masyarakat islam, tetapi di masyarakat jahiliyah sebelum islam
datang. pada masyarakat jahiliyah tersebut, lelaki dengan bebas bisa
mempertukarkan istri2 mereka. lebih rendah dari binatang bukan? dan anda
menyebut ini sebuah budaya dari sebuah peradaban manusia?

*walaupun bagi para wanita memang menyakitkan, tapi PASTI ada kasih sayang
Allah di sebalik itu karena tak mungkin Dia jadikan poligami itu dibolehkan
tanpa ianya membawa suatu hikmah besar bagi para wanita*
sepertinya anda mempunyai masa lalu yang kelam dengan wanita sehingga anda
meracau tanpa dalil tentang poligami.
kesimpulannya, saya amat sangat TIDAK SETUJU dengan apa yang anda katakan.
terima kasih

Yudha P Sunandar
Sn


On 06/12/06, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Salam,
Poligami dibolehkan. Lakukan saja dimana disitu bisa didapat manfaat. Dan
jangan dilakukan bila akan jadi mudharat.
Tidak semua orang harus poligami. Dan jangan semua orang dilarang
poligami.
Kalau poligami bisa mempererat persahabatan dua pribadi, dua
kelompok/suku,
dua negara, maka itu tujuan yang baik, lakukanlah.
Kalau poligami bisa menghindarkan kita dari dosa zina, maka lakukanlah,
itu
tujuan yang baik.
Kalau dengan poligami para janda dan anak-anak yatim bisa menjadi terbela,

maka lakukanlah itu tujuan yang mulia.
Kalau dengan poligami seseorang ingin mendidik dirinya untuk menjadi orang

yang kuat jiwa dan rohaniahnya, maka lakukanlah itu tujuan yang baik juga.

Intinya poligami adalah sarana sah yang disediakan Allah untuk umat
manusia, untuk dimanfaatkan dalam berbagai-bagai keperluannya.
Di tangan orang yang tepat dan dengan niat yang benar, poligami bisa
membawa banyak kejayaan dan manfaat.
Di tangan orang yang salah atau dengan niat yang salah, poligami hanya
merepotkan diri orang itu sendiri.
Jadi mari kita terima hukum Allah ttg poligami, bahwa ianya boleh
dilakukan, bahkan itu sunnah untuk tujuan-2 spt disebut diatas.
Dan tidak perlu kita membuat aturan-aturan tambahan tentang poligami untuk

secara seragam diterapkan ke semua orang.
Sebaiknya diserahkan saja pada setiap individu, apa yang terbaik bagi
dirinya.
Sepertinya sih, di masa datang poligami akan menjadi hal yang lumrah dan
biasa dilakukan banyak orang, seperti pernah terjadi dalam masyarakat
Islam
di masa lalu.
Wassalam,
indra
*walaupun bagi para wanita memang menyakitkan, tapi PASTI ada kasih sayang

Allah di sebalik itu karena tak mungkin Dia jadikan poligami itu
dibolehkan
tanpa ianya membawa suatu hikmah besar bagi para wanita*




Titiana Adinda
<[EMAIL PROTECTED] To: Forum PembacaKompas
hoo.co.id> 
<[email protected]<forum-pembaca-kompas%40yahoogroups.com>>,
Milis
Sent by: Perempuan <[EMAIL PROTECTED]<perempuan%40yahoogroups.com>>,
Milis
[EMAIL PROTECTED] Media <[email protected]<mediacare%40yahoogroups.com>>

oups.com cc:
Subject: [mediacare] Artikel yang bagus
tentang poligami
05/12/2006 15:43
Please respond to
mediacare







Dear All,

Aku peroleh ini dari milis tetangga.Semoga Bermanfaat.Selamat membaca

Salam,

Dinda
=========

Kompas, Senin 12 Mei 2003

Benarkah Poligami Sunah?

Faqihuddin Abdul Kodir

UNGKAPAN "poligami itu sunah" sering digunakan sebagai pembenaran
poligami. Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya bentuk lain
dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil karena
pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat
sulit dilakukan (An-Nisa: 129).

DALIL "poligami adalah sunah" biasanya diajukan karena sandaran kepada
teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4: 2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-
satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya tidak
mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi
poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap
yatim piatu dan janda korban perang.

Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad
Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan-ketiganya ulama
terkemuka Azhar Mesir-lebih memilih memperketat.

Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi
perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar'i dalam keadaan
darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan
dan kezaliman (Tafsir al-Manar, 4/287).

Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang propoligami dipelintir
menjadi "hak penuh" laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan
itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi menggelikan ketika
praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang:
semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya.
Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik
kualitas imannya. Slogan-slogan yang sering dimunculkan
misalnya, "poligami membawa berkah", atau "poligami itu indah", dan yang
lebih populer adalah "poligami itu sunah".

Dalam definisi fikih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan.
Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang
dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif. Alasannya, jika
memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali
berumah tangga?

Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada
berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang
menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri
tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru
kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun
dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari
kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan "poligami itu sunah".


Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi'i (w. 204 H), adalah
penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami
Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan
terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami' al-

Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir
(544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media
untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang
ada belum cukup kukuh untuk solusi.

Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat

pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawin an Nabi.
Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr
RA.

Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam,
ungkapan "poligami itu sunah" juga merupakan reduksi yang sangat besar.
Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung
kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa
wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi

dalam tafsirnya, Rûh al-Ma'âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika
calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi
sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami.
Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih
memilih mengharamkan poligami.

Nabi dan larangan poligami

Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya
transformasi sosial (lihat pada Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 108-179).
Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk
meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7
Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian
rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.

Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami,
mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil

dalam berpoligami.

Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai
sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat.
Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb
al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam
pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama
sekali.

Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip
keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: "Barang siapa yang

mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada
keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan
terputus" (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam

berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan
menjaga perasaan istri.

Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan

pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan "poligami
itu sunah" sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi
dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak
poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan

kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis
terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah.

Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti
Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar
rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu
berseru: "Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin
kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib.
Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan
mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib
menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah,
putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah
menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku
juga." (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua
tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami
akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.

Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah
justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak
dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami
sampai Fathimah RA wafat.

Poligami tak butuh dukungan teks

Sebenarnya, praktik poligami bukanlah persoalan teks, berkah, apalagi
sunah, melainkan persoalan budaya. Dalam pemahaman budaya, praktik
poligami dapat dilihat dari tingkatan sosial yang berbeda.

Bagi kalangan miskin atau petani dalam tradisi agraris, poligami dianggap
sebagai strategi pertahanan hidup untuk penghematan pengelolaan sumber
daya. Tanpa susah payah, lewat poligami akan diperoleh tenaga kerja ganda
tanpa upah. Kultur ini dibawa migrasi ke kota meskipun stuktur masyarakat
telah berubah. Sementara untuk kalangan priayi, poligami tak lain dari
bentuk pembendamatian perempuan. Ia disepadankan dengan harta dan takhta
yang berguna untuk mendukung penyempurnaan derajat sosial lelaki.

Dari cara pandang budaya memang menjadi jelas bahwa poligami merupakan
proses dehumanisasi perempuan. Mengambil pandangan ahli pendidikan Freire,

dehumanisasi dalam konteks poligami terlihat mana kala perempuan yang
dipoligami mengalami self-depreciation. Mereka membenarkan, bahkan
bersetuju dengan tindakan poligami meskipun mengalami penderitaan lahir
batin luar biasa. Tak sedikit di antara mereka yang menganggap penderitaan

itu adalah pengorbanan yang sudah sepatutnya dijalani, atau poligami itu
terjadi karena kesalahannya sendiri.

Dalam kerangka demografi, para pelaku poligami kerap mengemukakan argumen
statistik. Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah kerja bakti untuk
menutupi kesenjangan jumlah penduduk yang tidak seimbang antara lelaki dan

perempuan. Tentu saja argumen ini malah menjadi bahan tertawaan. Sebab,
secara statistik, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun
itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun.
Bahkan, di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun
jumlah lelaki lebih tinggi. (Sensus DKI dan Nasional tahun 2000; terima
kasih kepada lembaga penelitian IHS yang telah memasok data ini).

Namun, jika argumen agama akan digunakan, maka sebagaimana prinsip yang
dikandung dari teks-teks keagamaan itu, dasar poligami seharusnya dilihat
sebagai jalan darurat. Dalam kaidah fikih, kedaruratan memang
diperkenankan. Ini sama halnya dengan memakan bangkai; suatu tindakan yang

dibenarkan manakala tidak ada yang lain yang bisa dimakan kecuali bangkai.


Dalam karakter fikih Islam, sebenarnya pilihan monogami atau poligami
dianggap persoalan parsial. Predikat hukumnya akan mengikuti kondisi ruang

dan waktu. Perilaku Nabi sendiri menunjukkan betapa persoalan ini bisa
berbeda dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Karena itu, pilihan

monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah
keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu
keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau
kerusakan (mafsadah).

Dan, manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai
prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya
perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena
merekalah yang secara langsung menerima akibat poligami. Dan, untuk
pengujian nilai-nilai ini haruslah dilakukan secara empiris,
interdisipliner, dan obyektif dengan melihat efek poligami dalam realitas
sosial masyarakat.

Dan, ketika ukuran itu diterapkan, sebagaimaan disaksikan Muhammad Abduh,
ternyata yang terjadi lebih banyak menghasilkan keburukan daripada
kebaikan. Karena itulah Abduh kemudian meminta pelarangan poligami.

Dalam konteks ini, Abduh menyitir teks hadis Nabi SAW: "Tidak dibenarkan
segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain." (Jâmi'a
al-Ushûl, VII, 412, nomor hadis: 4926). Ungkapan ini tentu lebih prinsip
dari pernyataan "poligami itu sunah".

Faqihuddin Abdul Kodir Dosen STAIN Cirebon dan peneliti Fahmina Institute
Cirebon, Alumnus Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah






Sekarang dengan penyimpanan 1GB
http://id.mail.yahoo.com/








__________________________________________________________

Disclaimer :
- This email and any file transmitted with it are confidential and
are intended solely for the use of the individual or entity whom
they are addressed, if you are not the original recipient, please
delete it from your system.
- Any views or opinions expressed in this email are those of the
author only.
__________________________________________________________




--
Yudha P Sunandar
Sn

Kirim email ke