http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl
/07/time/145707/idnews/717382/idkanal/10

Mayoritas Wanita 4 Negara Arab Tolak Poligami
Shinta Shinaga - detikcom
Jenewa - Tak dinyana masalah poligami juga menarik perhatian PBB. 
Survei pun dilakukan di 4 negara Arab. Hasilnya: mayoritas wanita 
menolak poligami. Bahkan 95 persen wanita minta diizinkan memilih 
sendiri pasangan hidupnya.

Survei dilakukan PBB terhadap sekitar 1.000 orang, masing-masing di 
Mesir, Yordania, Libanon, dan Moroko, untuk laporan tahunan Arab 
Human Development PBB.

Fokusnya adalah ketidaksamarataan perempuan di negara-negara Arab. 
Hasil survei dipublikasikan PBB di Jenewa, Swiss, Kamis (7/12/2006) 
seperti dilaporkan AFP.

Disebutkan, mayoritas responden di 4 negara tersebut tidak setuju 
dengan poligami. Mulai dari 62% di Moroko hingga 90% di Libanon. 
Namun ada perbedaan drastis ketika pertanyaan serupa diajukan pada 
responden pria, yang mayoritas menyatakan setuju.

Hasil survei selanjutnya menunjukkan betapa wanita di 4 negara 
tersebut begitu mendambakan emansipasi dan persamaan hak antara pria 
dengan wanita.

Disebutkan 98% responden setuju perempuan punya hak sama untuk 
sekolah hingga tingkat universitas, 91% menyatakan perempuan punya 
hak sama untuk bekerja, dan 78% menyatakan perempuan seharusnya 
punya kondisi kerja yang sama.

Lalu 91% responden minta perempuan diizinkan punya properti seperti 
tanah, serta memiliki dan me-manage proyek ekonomi, 95% menyatakan 
perempuan harus diizinkan memilih suami, 97 persen mengutuk 
penyiksaan fisik dan mental terhadap perempuan.

Sedangkan mengenai pemakaian jilbab, opini terbagi-bagi. Sebagian 
responden menyatakan perempuan sebaiknya mengenakan jilbab jika 
memang itu kehendaknya. Namun 43-50% responden lainnya di Mesir, 
Yordania dan Moroko menyatakan perempuan wajib mengenakan jilbab.

Soal hak politik perempuan, 76% responden di Mesir dan 79% di 
Libanon mendukung perempuan berpartisipasi dalam kegiatan politik 
maupun menduduki kursi menteri.

Namun mereka tidak setuju dengan presiden perempuan. Sebanyak 72% 
responden di Mesir dan 59% di Yordania menolak ide tersebut. 
Sementara 40% di Moroko dan 17,5% di Libanon mendukung presiden 
perempuan.

Meski demikian 62% responden di 4 negara Arab tersebut menyatakan 
perempuan lebih baik ketimbang pria dalam menjalankan peran 
kepemimpinan.

Terhadap hal ini PBB berkesimpulan apa yang responden katakan dan 
perbuat tidak selalu sama. Hal ini dimaklumi karena sikap dan 
tingkah laku terbentur oleh terbatasnya kemampuan orang berekspresi 
di negara-negara Arab. (sss/nrl)



Kirim email ke