Resonansi Republika, Jumat 8/12
Aa
Oleh : Zaim Uchrowi
Hari-hari ini adalah hari-hari yang tidak
mudah bagi Aa Gym. Menikah lagi adalah persoalan pribadi dan keluarganya
sendiri. Tapi Aa, sebutan akrab KH Abdullah Gymnastiar, tak mungkin membatasi
urusan itu dari sorotan publik. Aa Gym telanjur milik publik. Aa telah menjadi
idola.
Sebagai idola, setiap ucapan dan tindakan Aa ''ditunggu'' oleh jutaan orang.
Bahkan, oleh yang bukan Muslim sekalipun. Sebutan Aa pun kini populer. Bahkan,
di luar tanah Sunda. Setelah nama Aa Gym berkibar, sosok-sosok dengan sebutan
''Aa'' pun bermunculan. Persis seperti merebaknya sebutan ''Gus'' setelah Gus
Dur meraih posisi tinggi di kancah politik. Sebutan yang bukan sekadar
mengakrabkan, namun juga menempatkannya ke level berbeda dengan orang
kebanyakan.
Namun, menjadi idola bukan hanya sangat berharga, tapi juga harus memikul
beban berat. Idola tak dapat melangkah berdasar kebenaran menurut
kepercayaannya sendiri. Idola dituntut pula melangkah berdasar kebenaran sesuai
keyakinan pengidolanya. Sebuah kebenaran yang bisa jadi ''lebih benar'', bisa
juga ''lebih kurang benar'', dibanding kebenaran versi sang idola. Apa pun
pertimbangannya, Aa Gym telah membenturkan kedua versi kebenaran berbeda itu.
Boleh jadi selama ini Aa Gym telah merasa risi. Pengidolaan pada dirinya
begitu luar biasa. Salah-salah pengidolaan itu bisa berlebihan. Berlebihan
jelas tidak baik. Apalagi, sebenarnya, hanya Rasulullah SAW-lah manusia yang
layak diidolakan. Tidak pada tempatnya manusia mengidolakan manusia lainnya. Aa
Gym boleh jadi khawatir, pengidolaan pada dirinya tersebut melampaui batas.
Maka, ia tergerak mendudukkan kekaguman jamaah itu ke posisi yang lebih wajar.
Citra yang telah begitu menggumpal tak dapat diencerkan dengan cara
biasa-biasa. Perlu jalan luar biasa untuk pengenceran itu. Boleh jadi Aa Gym
mengikuti cara Nabi Chaidir yang mengguncang perasaan Nabi Musa untuk dapat
menunjukkan kebenaran sejati. Aa Gym pun rela tidak populer dengan membuat
langkah yang dianggap menyakitkan. Bagi banyak jamaahnya. Mungkin juga bagi
istrinya sendiri. Dengan itu, Aa Gym mengajak publik untuk tidak
mengelu-elukannya.
Memang, pilihan langkah untuk mengencerkan citra diri itu begitu
kontroversial. Isu poligami memang gampang jadi perdebatan. Sebagian agamawan
menganggapnya keutamaan. ''Itu sunah Rasul,'' katanya. Mayoritas pemeluk teguh
Islam cuma menganggapnya sebagai katup sosial. Terutama bagi yang berpotensi
terjerumus maksiat. ''Jika memang sunah, mengapa Rasul melarang keras Ali
berpoligami,'' kilahnya.
Rasulullah SAW lebih seperempat abad monogami. Nabi membangun hidup bersama
Khadijah yang jauh lebih tua. Bersama-sama mereka mengasuh anak-anak,
bermasyarakat, hingga jatuh bangun memperjuangkan Islam. Mautlah yang
memisahkan pasangan ideal itu. Perilaku itu mencengangkan Makkah. Saat itu,
hampir semua lelaki Quraisy hidup bersama banyak perempuan. Sah maupun tidak
sah.
Baru di Madinah, setelah Khadijah wafat dan anak-anaknya berkeluarga,
Rasulullah SAW beristri lebih dari satu. Saat itu, Rasul bukan sekadar pemimpin
umat. Rasul juga pemimpin negara. Ikatan sosial politik pemimpin saat itu
sangat ditentukan oleh ikatan perkawinannya. Sekitar sepuluh tahun menjelang
wafat, Nabi berpoligami. Tak ada anak yang harus dibesarkan saat itu.
Jadi, sebenarnya Rasullah SAW menyeru poligami atau monogami? Jawabnya bisa
berbeda sesuai pemahaman dan kepentingan masing-masing. Perbedaan pandang
seperti ini sebenarnya bukan hanya soal poligami. Pemahaman umat Islam secara
umum memang terbelah. Tak hanya soal keutamaan pribadi, Juga soal apa yang
dianggap utama dalam berkeluarga, bermasyarakat, apalagi dalam politik yang
begitu banyak kepentingan.
Dengan pemahaman agama yang terbelah itu, umat Islam tak bisa berbuat banyak.
Jangankan mengurus hal besar seperti mengatasi kemiskinan, memberantas korupsi,
atau membantu Palestina menjadi merdeka, mengelola peribadatan di masjid pun
bisa berselisih. Kasus poligami Aa Gym menyadarkan kita tentang adanya
keterbelahan itu.
Love is as deadly as poison ...
Rahmad Budi H Republika Jl Warung Buncit Raya 37 Jakarta Selatan
12510 cell-phone : +62856 711 2387
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.