Ribut poligami kalau melulu bicara dari segi etik memang tidak produktif. Tapi poligami bukan pula sekedar urusan kamar pribadi yang tidak punya impact buat masyarakat.
Penelitian-penelitian di negara Afrika, Bangladesh dan India soal polygyny (istilah tepat untuk pria beristri lebih dari satu), menunjukkan banyak keterkaitan antara polygyny dengan fertilitas, tingkat kelahiran / pertumbuhan penduduk, kemampuan finansial keluarga, tingkat pendidikan anak / kualitas sdm di masa depan, dll. (journal-journal ilmiah <file-file pdfnya> banyak di google dengan kata kuncy polygyny atau polygynous) Jadi kalau bicara bukan soal etik (setuju-kagak setuju, atawa halal- haram) diskusi soal poligami bisa sangat produktif, karena terkait dengan issue-issue sentral dan strategis dalam masyarakat modern. Kalau menolak diskusi poligami dengan argumen polygamy wilayah privat, rasanya sama saja cuma melihat poligami dari segi etiknya saja. Padahal enggak begitu. Ini issue publik yang mana punya impact tertentu di masyarakat. Akibatnya, kalau hendak diatur atau dilarang sekalipun bukan sekedar ngurusi masalah-masalah etiknya saja, (perempuan dizholimi-lah segala macem) tapi terkait issue yang lebih besar : kesejahteraan keluarga, kemampuan keluarga meningkatkan kualitas anak/sdm, dsb. Cuma masyarakat Indonesia memang lebih banyak ngurusi soal etiknya. Soal perasaan istri/wanita, sampe soal betapa hidung belangnya sang pria. Memang nggak maju-maju kalau begitu sih.. Kayak syair lagu pancasila ala Harry Roesli (alm) : Pribadi bangsakuuu... Enggak maju... maju, Enggak maju... maju, Enggak maju... maju. Sentaby, DBaonk --- In [email protected], "Donald Use Taralia" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Huahahahahaha .... > > Nampaknya warga negara republik tulalit ini masih suka bergunjing > soal poligami? Pada sok tau semuanya! Mau nikah monogami kek, mau > nikah poligami kek, itu pilihan manajemen keluarga seseorang yg > tidak melanggar aturan/norma. Dan kita tak berhak ikut campur, > ribut, apalagi kalo sampai memfitnah. > > Kalo seseorang punya istri kemudian berselingkuh bin zinah, itu > jelas melanggar aturan/norma sebagemana pernah dilakukan oleh salah > seorang mantan presiden negara adidaya dulu yg hampir di- > impeachment. Ingat kasus 'le whisky'? Heheheheh .... > > Tapi, setelah presiden itu membuat klarifikasi, ternyata ngga jadi > di-impeach, karena warganya sadar bahwa itu persoalan keluarga sang > presiden dan beliau sudah meminta maaf secara gentleman. > > Nah warga republik tulalit ini kenapa mesti ribut kalo ada orang yg > pilih nikah poligami? Itu yg melanggar aturan/norma dan minta maaf > saja ngga diributin, kenapa yg ngga melanggar aturan/norma agama > diributin? Tobat dech! Buang-buang waktu tau! > > DT > > > > > > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote: > > > > > > > > Memang justifikasi murahan seperti itu yang selalu mengagetkan > saya: "berpoligami dengan tujuan untuk menghindari zinah." Kok enak > betul, ya? lalu di mana letak tanggung jawab dan komitmen pada istri > pertama? Tak masuk hitungankah? > > > > Tak mungkinlah kalo orang masih cinta betul pada istrinya akan > mengambil istri baru. Kalo ambil istri baru, berarti cintanya sudah > di-transfer ke istri baru. Tak ada keadilan di sini. Preferensi > sudah dialihkan ke daun muda. Sangat simple dan gamblang. > > > > manneke >
