Garis Besar Penerapan Dinar Emas
oleh Umar Ibrahim Vadillo
        

Pengantar
Langkah yang paling nyata dalam kemajuan ini adalah pulihnya sistem
keuangan real dan meniadakan secara berturut-turut kertas cetakan
simbol uang dan uang fiksi yang dimanipulasi dalam pasar spekulasi
serta perjudian pasar saham.

Dinar emas dan Dirham perak telah diterima secara universal sebagai
alat tukar selama ribuan tahun dan mulai dikenali kembali sebagai
jalan menuju kewarasan, kewajaran dan kejujuran.

Secara serempak, e-Dinar yang didukung sepenuhnya oleh emas secara
fisik sama dengan yang ada dalam peredaran, rumusan investasi untuk
perdagangan (Qirad), bagi-hasil untuk produksi (Shirkat) dan bentuk
terpercaya perwakilan dengan keuntungan wajar (Wakala dan Qafilah)
akan menyertai restorasi Perdagangan Islam.

Konsekwensi dari proses ini akan sangat banyak, akan kita dapatkan
kembali Blok Perdangangan Islam dengan uang sejati, Dinar Emas Islam
atau Dirham Perak. Kemudian, bersatunya Ummat Islam, terbentuknya
kembali keseimbangan kekuasaan di dunia, akhir dari supremasi dollar
dan berakhirnya oligarki para miliuner dan biliuner, yang
menguntungkan orang miskin saat ini dan gerak-maju yang berpihak pada
masyarakat, bukan korporasi.

Kami menginginkan kontribusi dan menjadi bagian dari perubahan sejarah
dengan selalu memberikan berita-berita relefan dan tulisan menarik,
dokumen dan riset mengenai subjek ini.


Ringkasan
Menghidupkan kembali Dinar Emas sebagai alat tukar dalam kerangka blok
Perdagangan Islam akan menjadi memungkinkan bila:

1. kita tidak menyerahkannya pada konsensus politik
2. kita berpegang pada pengaplikasian dan program fungsional yang
diarahkan untuk memperkuat perdagangan melalui mekanisme inti moneter
3. kita mendapatkan dukungan dari negeri-negeri Muslim seperti Malaysia


Pengajuan Kami
Memulai program saat ini juga. Kita memerlukan Mekanisme Inti Moneter
dan setahap demi setahap menambahkan fungsinya.

Mekanisme Inti Moneter terdiri dari:
Fisik Dinar dan Dirham, dengan sistem pembayaran elektronik (e-
payment ) yang didukung oleh emas, disebut juga pengoperasian e-dinar.
Pasar Islam yang nyata, dengan pasar elektronik (e- market ) yang
menggunakan sistem pembayaran e-dinar, kontrak Qirad untuk investasi
perdagangan, dengan layanan audit on-line e- qirad yang memungkinkan
investor berhubungan langsung dengan para pedagang.


Kunci Pertimbangan

   1. Menghidupkan alat tukar Syariah, Dinar dan Dirham, sebagai
permasalahan politik utama yang dihadapi Ummat Islam hari ini akan
lebih berat dari permasalahan politik lainnya.
   2. Dinar dan Dirham Islam, karena menguntungkan bagi setiap Muslim,
merupakan kebijaksanaan politik terdepan bagi politik penyatuan Muslim
saat ini. Penggunaannya oleh Muslim akan mempercepat pembentukan blok
Perdagangan Islam berdasarkan alat tukar Islam Universal.
   3. Dinar dan Dirham Islam akan mewujudkan aspirasi penegakkan " Dar
al-Islam " yang tidak dapat dicapai oleh metoda ekonomi atau politik
lain.
   4. Dinar dan Dirham untuk sementara harus dipisahkan dari proses
politik disebabkan institusi politik belum memungkinkan untuk
menerimanya pada saat ini.
   5. Di sisi lain, alat tukar tidak dapat dipisahkan dari
perdagangan. Menghidupkan kembali Dinar Islam harus secara serempak
diiringi oleh pembangunan kembali Perdagangan Islam. Perdagangan Islam
mewakili paradigma baru yang menantang dan menggantikan nilai,
institusi, instrumen dan model dari ortodoksi ekonomi-masa-kini.


Bagaimana Melakukannya
Kita mengajukan alat tukar berbasis-emas untuk perdagangan
berisiko-rendah dan berbiaya-rendah yang pararel dengan uang kertas
yang beredar.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana untuk memperkuat peredaran
uang emas dan perak. Yang paling utama adalah kita menyediakan sistem
pembayaran elektronik yang dapat memfasilitasi transfer dan
perdagangan dengan Dinar Islam. E-dinar mewakili pembayaran elektronik
pertama berbasis Dinar Islam, yang 100% didukung oleh fisik emas dan
menyediakan kemudahan dalam transaksi via internet. Hemat, nyaman dan
kecepatan transaksi menjadikannya lebih unggul dari berbagai bentuk
perbankan modern.

Penggunaan Dinar Islam secara moneter akan lebih baik bila didukung
terlebih dahulu melalui pengenalan terhadap inti tujuan Islam,
khususnya untuk pembayaran Zakat dan Mahar. Seiring dengan itu,
penggabungan dengan pasar elektronik yang sudah ada dan instrumen
investasi berdasarkan-qirad baru untuk mengembangkan penggunaannya
dalam perdagangan, sehingga membalikkan aliran-uang dari uang yang
terjadi hari ini menjadi aliran-uang dalam perdagangan.
Pengintegrasian terencana atara e-dinar dengan e-market dan sistem
e-qirad yang baru dibangun sangat membantu kembalinya investasi Muslim
bagi perekonomian Islam.

Untuk memfasilitasi pengenalan dan peredaran Dinar Islam dan
penggunaannya dalam perdagangan, diawali oleh satu negeri yang
menerima Dinar Emas Islam sebagai legal tender . Hal ini akan
mengembangkan jangkauan globalnya dan akan membuka kemungkinan
melakukan kontrak dagang dengan satuan hitung Dinar Islam.

Pembangunan blok-bangunan yang menjadi tempat pencetakan dan
pengedaran koin emas dan perak, pengembangan sistem pembayaran e-dinar
dan intergrasinya terhadap pasar-elektronik yang ada dan pengembangan
sistem e-qirad baru untuk mendanai dan merangsang perdagangan.
Implementasi fisik dari pasar-terbuka, karavan dan paguyuban sebagai
pembaharuan dari proses produksi akan mengikuti kemudian.

Garis bawahi:
Jumlah pengguna Dinar Islam akan menjadi Blok Perdagangan Islam secara de facto.


Persatuan Moneter atau Layanan Moneter?
Bagaimana dunia mempergunakan Dinar Islam? Bagaimana kita harus
melibatkan negeri Muslim lainnya? Haruskah kita mengikuti jalur
politik dari Persatuan Moneter seperti halnya Euro atau haruskah kita
membangun suatu layanan moneter dengan pengembangan fungsi yang
beriringan dengan mata uang yang ada saat ini?

Kita yakin bahwa proses politik dari persatuan moneter merupakan
proses yang bertumpu pada bermacam-macam uang kertas yang saat ini
beredar di negeri-negeri Muslim menjadi satu mata uang, kalaupun
memungkinkan, panjang dan penuh masalah. Lebih jauh lagi, ketika
mempertimbangkan perbedaan politik dan ekonomi antara negara Muslim
yang berbeda, tampaknya sangat tidak memungkinkan bila mereka akan
bersatu dengan cara ini.

Pada sisi lain, dikarenakan nilai intrinsik dari Dinar emas dan Dirham
perak, yang sangat diterima sebagai alat tukar akan melampaui
peresmian undang-undang dari institusi kenegaraan.


Emas sebagai Komoditas
Emas dan perak, tidak seperti uang kertas, tidak tergantung pada
jaminan pihak ketiga. Memiliki nilai sebagai zat mereka sendiri
sebagai komoditas, dan seperti komoditas lainnya, memiliki nilai
intrinsik sebagaimana nilainya sebagai mata uang. Oleh karenanya
menjadi penting untuk difahami bahwa koin emas selalu bernilai
meskipun hanya meliputi sejumlah kecil pengguna moneter.

Pengupayaan pemersatuan uang kertas, meskipun seluruh negeri Muslim
turut serta dalam pelaksanaannya, proses ini sangatlah sulit dan
kusut, bahkan tidak mungkin. Alasannya adalah agar dapat berjalan,
uang kertas teoritis tersebut harus berhasil bersaing terhadap USD.
Hanya Dinar Islam saja yang memiliki kemampuan seperti itu, terlepas
dari jumlah awal yang menggunakannya.

Sebagai tambahan, perbedaan ekonomi antara negeri muslim sangatlah
besar sehingga proses yang diperlukan dalam pengintegrasiannya akan
memperlemah mata uang yang lebih kuat tanpa memperkuat sama sekali
mata uang yang lebih lemah. Sebagai contoh menarik adalah kegagalan
Euro untuk diintegrasikan terhadap GBP dan mata uang Eropa lainnya
seperti Krona Swedia, tanpa mengikutkan jumlah beban biaya yang harus
ditanggung dalam penggabungan mata uang ini, dalam hubungan devaluasi
mata uang nasional lebih dari 20% dan biaya aktual implementasi, yang
mencapai nilai 100 triliun Euro.

Proses politik mendirikan mata uang Muslim baru akan mengakibatkan
beban yang sangat berat --yang tidak mungkin ditanggung-- oleh
negeri-negeri Muslim. Pada sisi lain untuk memilih penggunaan koin
emas dan perak oleh masyarakat merupakan upaya yang jujur, aman,
rendah-biaya dan rendah-risiko untuk memulai pemersatuan negeri-negeri
Muslim secara organik dan jalan evolusi melalui pembentukan alat tukar
Universal yang seiring dengan cara pembayaran yang ada.

Kita juga yakin bahwa model terbaik untuk mewujudkan kembalinya Dinar
Islam adalah dengan mendirikan layanan moneter yang dapat dikembangkan
yang seiring dengan sistem mata uang yang telah ada. Layanan moneter
tersebut harus mudah dan bebas tersedia bagi siapapun yang mencari
alternatif dari sistem-moneter berbasis-kertas serbaguna.

-- 
Ezda
=> S2D4 the World

Kirim email ke