Gede, Saya sudah posting balasan saya tetapi tampaknya tidak muncul. Entah apa yang terjadi. Mungkin persoalan teknis atau barangkali terlalu sensitif sehingga disensor.
Dalam posting yang tak sempat muncul, saya menyatakan keberatan saya bahwa dalil yang anda pakai untuk membela poligami seperti menghindari zina, diatur dalam agama dan sebagainya. Paparan anda memberikan kesan male chauvinist perspektif. Dan ini mungkin tidak secara esensi berasal dari agama tetapi proses interpretasinya yang dipengaruhi nilai patriarkis. Jika poligami dibenarkan untuk menghindari zina mengapa poliandre tidak dianjurkan bagi perempuan untuk menghindari zina? Kesan saya ini mencerminkan paradoks. Di satu sisi membolehkan poligami lantaran nafsu manusia/laki-laki. Namun masalah nafsu perempuan tidak dibicarakan seolah-olah nafsu itu sendiri eksklusif milik laki-laki. Anda juga membandingkan bahwa lebih mulia berpoligami ketimbang jajan. Analogi ini tampaknya tidak bisa dipakai untuk mendukung argumen anda. Sebab jika menggunakan logika yang sama, kita akan terjebak dalam analogi serupa seperti misalnya lebih baik Suharto ketimbang Pinochet. Padahal esensinya otoritarianisme dalam berbagai bentuk tidaklah baik. Begitu juga dengan zina dan poligami. Yang satu dianggap dosa oleh agama dan yang satu lagi lebih mendukung superioritas laki-laki dan menyangkal bahwa pada dasarnya manusia adalah sama (universal values). Persoalan lainnya adalah logika anda yang saya sebut menunggangi dua kuda sekaligus. Anda tidak membalas point ini. Di satu sisi anda memberikan justifikasi dengan landasan agama, yang menurut anda sangat partikular sifatnya. Untuk menghadapi kritikan terhadap poligami, anda berlindung dibalik kepercayaan anda. Dengan kata lain, perbedaan kepercayaan melandasi cara pandang masing-masing. Namun di sisi lainnya, anda mengangkat persoalan nafsu dan manusia yang sifatnya universal. Misalnya nafsu yang tak boleh dimatikan namun juga tak boleh diabaikan. Ini yang membuat argumen anda lemah dan tidak solid. --- In [email protected], "gedehc" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Trims ya Bli Komang atas masukannya. Nanti saya upayakan membuat > analisis semacam SWOT itu. > > Tentang bis malam, itu memang perumpamaan yang seketika itu saja > muncul di otak saya waktu menulis reply atas e-mail Mas Rahadian. Saya > berusaha mencari analogi yang agak mudah. Kalau kondisi darurat, > misalnya kebakaran di dalam bis barulah kaca bis boleh dipecahkan. > Jika tidak, tetu saa jangan dipecahkan sebab pemilik bis pasti marah > da mita ganti rugi. > > Tapi saya tetap berterima kasih atas masukannya. Juga masukan dari > rekan-rekan milis lainnya. Omong-omong, mudah-mudahan tahun baru nanti > saya bisa ke Bali. Saya "magkal" di Tabanan. Komang di mana? Pantai > Yeh Gangga adalah tempat main saya, tempat mencari kulit lokan dan > omang-omang. Tentu saja mandi di laut. Saya rindu melihat ombaknya yag > tinggi itu. > > Trims. > > Gede H. Cahyana > http://gedehace.blogspot.com. > > --- In [email protected], BeachBoy BaliAsli > komang_beachboy@ wrote: > > > > sdr gede, > > metode perbandingan yang anda pake kok ya rada2 memusingkan dan > ngga jelas juntrungannya ...kebanyakan membandingkan lebih halal > poligami ketimbang jajan/cari lonte atau zina atu selingkuh... > > jika anda hendak beropini hendak menyatakan persetujuan anda > terhadap poligami, buat saya sah2 saja yang terpenting anda punya > metode untuk mengulas hal tsb, spt metode penggalian kelebihan & > kekurangan macemnya SWOT, ukuran norma sebagai manusia yang > berkedudukan di dalam masyarakat, tingkat kesokoguruan seseorang, > status de el el. > > Saya pikir anda mengerti tentang apa yang saya maksud. > > > > Poligami ibarat kaca jendela bis malem??? waduh gede gede...kamu > kok ya dangkal sekali pemahamannya yah? > > > > Guna lebih menjelaskan dengan gamblang, sebelum anda menampilkan > dalam bentuk artikel mbok ya metode ukur dan frame norma yang dipake > lebih dikokohkan dahulu... > > > > live in peace.. > > > > beachboy > > > > > > gedehc gedehc@ wrote: > > Salah satu fungsi nikah MEMANG menyalurkan nafsu. Salurkan > atau > > kanalkanlah nafsu itu di jalan yang etis. Lebih bagus lagi, tidak > > hanya etis menurut budaya, tetapi menurut hukum agama. Hanya saja, > > hukum dalam setiap agam itu berbeda-beda. Dalam Islam, ya ..... > > silakan berpoligami. Kalau non-Islam.... ya... silakan juga monogami > > atau yang lainnya. > > > > Mas,poligami itu semacam kaca jendela di bis malam. Kalau tidak ada > > kondisi daerurat, misalnya kebakaran di dalam bis, jangan dipecahkan. > > Tetapi kalau darurat, silakan saja dipecahkan agar tidak mendapatkan > > keburukan yang lebih besar. > > > > Para poligamis, yaitu pelaku poligami yang kaya tidak sertamerta bisa > > mudah menyalurkan hasrat seksnya. Aturannya tetap saja empat orang, > > maksimum. Lebih dari itu, tak ada balasan selain dosa. Jadi, yang > > sudah "tunjuk" gadis belia harus pula mampu memberikan pendidikan, > > menyekolahkan kalau masih belum S1, S2, atau S3. Juga harus mampu > > mendidik anak-anaknya dengan pendidikan agama. Tak sekadar sekolah > > formal. > > > > Mas, panjang sekali kalau saya jawab langsung. Lebih baik lewat > > artikel saja agar lebih leluasa dan lengkap. > > > > Sekian dulu. > > Salam. > > > > Gede H. Cahyana > > http://gedehace.blogspot.com > > > > --- In [email protected], "Rahadian Permadi" <dietwombat@> > > wrote: > > > > > > > > > Jika saya menarik logika anda ke dalam tataran ekstrem, negara beserta > > > produk hukumnya yang berkaitan dengan pernikahan tak lebih hanya > > > berfungsi untuk mengikuti kemauan penis semata begitu? > > > > > > Kemauan penis yang liar namun alamiah kudu diatur dalam undang-undang > > > dan di institusionalisasikan melalui sebuah lembaga yang diakui dan > > > dilindungi oleh negara yaitu pernikahan? > > > > > > Banyak argumen yang kembali pada persoalan karakter alamiah untuk > > > menjustifikasi persoalan-persoalan semacam ini. Namun bagi saya ini > > > tidak memberikan landasan etik yang kuat. > > > > > > Jika kekuatan ekonomi yang dijadikan salah satu syarat, maka > pernikahan > > > menjadi diskriminatif dalam tingkatan kelas. Hanya orang kaya saja > yang > > > boleh menuruti keliaran penisnya, sementara yang miskin? Mungkin > karena > > > tak mampu membeli tali nasib, uang yang tak seberapa dipakai untuk > jajan > > > demi sebuah manifestasi eksistensialnya sebagai makhluk yang memiliki > > > 'karakter alamiah' yaitu nafsu. Atau mereka terpaksa menjadi > pemerkosa? > > > Jika diambil ekstremnya lagi (masih mengikuti logika anda), maka orang > > > kaya memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertindak mulia dalam > > > menyalurkan hajatnya ketimbang orang miskin. 'Tegang sedikit' tinggal > > > tunjuk gadis belia dan menikahinya, habis perkara. Toh negara mengerti > > > betul kemauan si penis. > > > > > > > > > > > > > > > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote: > > > > > > > > > > > > > > > > Oooh, jadi nikah itu tujuannya untuk penyaluran nafsu toh? > Waduh, baru > > > tau saya... > > > > > > > > manneke > > > > > > > > -----Original Message----- > > > > > > > > > Date: Fri Dec 01 22:24:13 PST 2006 > > > > > From: "gedehc" gedehc@ > > > > > Subject: [mediacare] Re: Istri Kedua Aa Gym? > > > > > To: [email protected] > > > > > > > > > > Mas, nafsu memang sudah dilengkapi oleh Sang Khalik ketika > > > menciptakan > > > > > manusia. Ia jangan dibunuh tapi juga jangan dijadikan raja dan > > > > > dituruti terus. Itu sebabnya, menikah dengan alasan tak kuat lagi > > > > > menahan nafsu masih lebih mulia daripada tidak menikah tetapi > > > > > disalurkan lewat zina atau pacaran a la "kekinian" yang di luar > > > batas. > > > > > > > > > > Itu sebabnya pula maka menikah lebih dari sekali, apapun > alasannya, > > > > > termasuk alasan NAFSU yang sulit dikekang, masih lebih mulia > > > ketimbang > > > > > "jajan" di jalan atau main serong atau main dengan pelacur. > Apalagi > > > > > kalau menikah yang kedua kalinya itu betul-betul untuk ibadah > > > meolong > > > > > sang wanita (gadis atau duda), tidak ada paksaan dari siapa pun > > > juga, > > > > > apalagi ikhlas dari sang wanita dan sang istri pertama. > > > > > > > > > > Lalu, apa masalahnya menikah lebih dari sekali dan memiliki lebih > > > dari > > > > > satu istri, asalkan maksimum empat. Tentu saja syarat lainnya ada, > > > > > misalnya, kuat secara ekonomi, mapan kehidupan sosialnya, dan > paham > > > > > agama yang dianutnya. Artinya, sudah teruji emosinya. > > > > > > > > > > Bahkan, saya tandaskan lagi, menikah untuk kali pertama > semata-mata > > > > > demi menyalurkan nafsu itu menjadi WAJIB segera dilaksanakan > > > daripada > > > > > sang lelaki terjerumus ke perzinahan. Ini prinsip dasarnya. > Apalagi > > > > > kalau usianya sudah lebih dari 30 tahun. Ia harus segera menikah > > > sebab > > > > > kebutuhan syahwatnya wajib dipenuhi seperti dia memenuhi kebutuhan > > > > > makan, minum, pendidikan, dll. > > > > > > > > > > Idem ditto, untuk pernikahan kali kedua, ketiga dan keempat, > asalkan > > > > > itu untuk menyalurkan nafsu di tempat yang sah, tidak ada masalah. > > > > > Menjadi masalah kalau disalurkan di tempat yang haram, semacam > zina, > > > dll. > > > > > > > > > > Gede H. Cahyana > > > > > http://gedehace.blogspot.com > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited. > > >
