Betul pak Agus dan pak Tanjung, kepribadian pengendara bermotor di tanah air
sangat diluar hukum tatatertib dan sopan santun di jalan raya, kita udah
terbiasa melihat supir2 yang seperti maniak ini di kota2 besar, jkt, medan,
surabaya, di medan dulu saya bawa mobil di bentak pengemudi becak bermotor ( di
medan banyak beca bermotor) katanya saya bawa mobilnya lelet...ck ck ck..gimana
mau lari orang depan saya banyak mobil gitu..saya cuman geleng2 kepala.
pengalaman saya ditabrak pengemudi maniak di indonesia sudah 3 kali, saya yg
terbiasa tertib mengikuti speed limit di america ternyata tak bisa di pake
disana, saya punya international lisence yg saya comfortable mengendara mobil
di mana saja di dunia ini termasuk germany, tapi kalau disuruh bawa mobil di
indo...saya nyerah deh !
DLLAJ, apakah mereka bepungsi ? sama sekali tidak ito Tanjung, saya tidak tau
apa solusi yg terbaik utk mendisiplinkan manusia2 dibalik kemudi ini, yg jelas
jalan perlu diperbesar karena pemakai sarana ini sudah luber , jumlah kendaraan
meningkat tiap thn tetapi ukuran jalan tetap sama, lalu sangsi2 yg melanggar
aturan di pertinggi misalnya yg nabrak lampu merah didenda atau yg selap selip
dgn urakan dicekal SIM nya, yg over speed limit di denda dll, polisi bisanya
cuman prat prit ditengah jalan tetapi arus kemacetan tetap tak terkendali,
banyak tenaga aparat mubazir di indonesia karena tidak mampu mewujudkan rakyat
utk berdisiplin dalam melakukan apapun.
Sikap kita dalam berkendaraan mencerminkan kepribadian kita pak Agus, ya itu
benar, kalau seorang yg selalu berkata bijak tetapi urakan di jalan raya,
kebijakan nya jadi mubazir.
salam tertib
omie
Nurhalim Tanjung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wah, saya suka jengkel mengetahui perlakuan seperti
orang yang menabrak anda itu. Di Medan, kota saya,
fenomena itu mungkin lebih parah. Jalan melawan arus
kendaraan menjadi biasa, apalagi motor naik ke
trotoar. Lampu merah sering tak digubris, maka macet
menjadi pemandangan biasa di traffic light. Tante saya
yang dari Jakarta sampe batal meminjam mobil untuk
dikemudikannya sendiri melihat situasi itu.
Begitulah, semestinya DLLAJ, dinas yang mengelola
lalulintas, bisa lebih proaktif. Jangan sekadar
berdiri seperti patung di persimpangan. Kalau ada
motor naik trotoar, kendaraan melawan arus, dsb. ya
ditindak. Cemana? Ok, becareful lah kalau lain kali
jalan di Jakarta atau di Medan.
salam
nt
--- agussyafii <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Suka Dukanya Berjalan Kaki di Jakarta
>
> Cobalah sekali-kali berjalan kaki ditrotoar jalan
> protokol seperti
> kota Jakarta, tentunya akan banyak cerita yang
> menarik. Demikian
> halnya dengan saya memiliki kesenangan tersendiri
> untuk jalan kaki,
> apa lagi ketika bulan ramadhan yang lalu ditengah
> kemacetan saat
> terdengar adzan maghrib saya suka turun dari bus
> kota untuk jalan
> kaki mencari tempat sekedar untuk berbuka puasa.
>
> Kira-kira baru 100 meter saya berjalan ditrotoar
> dari belakang ada
> sepeda motor nyruduk yang membuat saya hampir
> terjatuh. Sang
> pengemudi motorpun berhenti sambil membuka helmnya,
> "Makanya kalo
> jalan liat dibelakang ada kendaraan minggir, jangan
> malah ketengah."
> Dengan tampang galaknya. Saya sempat berpikir dia
> yang nabrak kok
> malah lebih galakan ya?
>
> Kesalehan individu seringkali tidak berbanding lurus
> dengan
> kesalehan kita dijalan raya. Pengennya buru-buru
> sampe rumah. Tapi
> menaikkan motor ditrotoar cerminan kesalehan sosial
> yang rendah.
>
> Bagaimana menurut anda?
>
> Wassalam,
> Agussyafii
> http://agussyafii.blogspot.com
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
__________________________________________________________
Want to start your own business?
Learn how on Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/r-index
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get
things done faster.