Salam pendidikan dan keadilan, Dalam rangkaian kegiatan memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) pada tanggal 10 Desember, E-Net for Justice (Jaringan Pendidikan untuk Keadilan) akan menyelenggarakan sebuah Talk Show pendidikan sebagai berikut:
Tema : "Sekolah dan Kemiskinan, Apa Hubungannya?" Narasumber : 1. Eko Prasetyo (Pemerhati Pendidikan dari Jogja), 2. Retno Listyanti (Guru SMU Negeri 13 Jakarta Utara ), Waktu : 16 Desember 2006, pkl.11.00-13.00 wib Tempat: Taman Ismail Marzuki, Graha Cipta III Undangan ini GRATIS dan terbuka untuk umum. Usai acara bincang-bincang akan dilangsungkan sebuah Konser Musik gratis sebagai salah satu rangkaian kegiatan menjelang hari HAM ini. Bertempat di lapangan Taman Ismail Marzuki mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai dan terbuka untuk umum. Akan lebih memudahkan panitia jika anda bisa melakukan konfirmasi kedatangan melalui Fax (7971629) atau melalui telpon: Artha Intan (0811845428,92645426,92814076) Salam, Komunitas Sekitarkita Anggota E-Net for Justice "Sekolah & Kemiskinan, Apa Hubungannya?" I Latar Belakang Melihat realitas sekolah hari ini membuat hati kita menjadi miris. Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan tidak lagi mampu menjalankan fungsinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan mandat pendidikan yakni pemerataan dan kesamaan hak, akan tetapi sekolah hari ini hanyalah sebagai sebuah pabrik yang menghasilkan robot-robot industri, dimana mereka memakai ongkos produksi yang tidak sedikit, dan ongkos produksi itu dibebankan kepada para orangtua murid. Sementara negara, dalam hal ini pemerintah, tidak memberikan perhatian yang serius pada persoalan pendidikan. Baik untuk persoalan biaya pendidikan yang mahal maupun beban kurikulum pendidikan yang bersifat menyiksa para murid dan yang terakhir adalah penyelenggaraan Ujian Akhir Nasional yang menggunakan standar internasional, semata- mata hanya untuk meningkatkan gengsi rezim yang berkuasa, tanpa diikuti peningkatan kualitas pendidikan. Belum lagi kenyataan yang memperlihatkan keberpihakan negara terhadap kepentingan modal, sehingga para penguasa negeri ini memberikan sektor pendidikan sebagai lahan investasi modal bagi para investor. Bahkan seringkali mengorbankan sarana pendidikan demi mendahulukan kepentingan modal, seperti penggusuran gedung sekolah untuk pembangunan mall & hotel. Pendek kata, negara belum memenuhi komitmen pendidikannya yang tercantum dalam UUD 45 (seperti anggaran pendidikan 20%), UUD Sisdiknas dan komitmen Education for All (EFA). EFA berisi seperangkat komitmen pendidikan yang harus dipenuhi oleh pemerintah seperti pendidikan usia dini, pendidikan gratis sampai tingkat SLTP, dan pendidikan bagi kaum perempuan. Jadi, belum mampu memenuhi kewajibannya, pemerintah sudah menuntut banyak hal pada peserta didik. Hal lain yang perlu diperhatikan oleh kita semua adalah, sekolah hari ini juga memperlebar kesenjangan sosial di masyarakat. Hal ini dapat kita lihat dari adanya pembedaan antar sekolah swasta dan negri ditambah lagi dengan label favorit dan non-favorit. Kesemua itu tentu dibedakan dengan harga dan fasilitas yang ditawarkan. Alhasil yang terjadi adalah, mereka yang kaya dapat memperoleh pendidikan yang terbaik sementara yang miskin hanya mendapat yang seadanya. Sementara itu, para peserta didik dalam hal ini adalah para siswa telah terisolasi dari lingkungan sosialnya karena terbebani oleh kegiatan sekolah sehingga menjadi tidak peka terhadap kondisi realitas dalam masyarakat bahkan yang sangat dekat dan bersinggungan dengan kepentingan mereka sendiri. Untuk itulah kami merasa perlu untuk membuat sebuah acara talk show yang tujuan utamanya adalah mengangkat wacana tentang keterkaitan pendidikan dan kemiskinan untuk menjadi bahan diskusi yang diharapkan dapat melahirkan ide-ide segar bagi perbaikan sistem pendidikan sekaligus memerangi kemiskinan di negeri ini. Kami memilih para siswa SMU untuk terlibat dalam acara ini. Karena kami melihat bahwa bahwa berdasarkan tahap perkembangan psikologis, mereka merupakan kelompok yang memiliki kemampuan untuk berpikir kritis selain berdasarkan kenyataan bahwa secara mayoritas mereka adalah korban dari kebobrokan sistem pendidikan melalui penyelenggaraan Ujian Akhir Nasional. Kelompok lain yang ingin kami tuju adalah para guru dan tenaga pengajar yang selain memiliki peran penting dalam pengembangan pengetahuan anak didiknya juga karena mereka merupakan kelompok yang juga memiliki kepentingan baik sebagai korban maupun sebagai pelaku dalam isu yang hendak kami angkat dalam talk show ini mengingat mereka juga turut berperan dalam proses pelaksanaan pendidikan di negeri ini. II Tujuan 1. Meninjau kembali prestasi lembaga pendidikan dalam menjalankan fungsinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta melaksanakan mandatnya untuk melaksanakan pemerataan dan pemenuhan hak. 2. Melakukan evaluasi kinerja pemerintah dalam memenuhi hak rakyat untuk memperoleh pendidikan yang gratis dan bermutu, dengan melihat tingkat efektivitas penyelenggaraan UAN dan pelaksanaan subsidi dana pendidikan dari sudut pandang sosial & ekonomi para peserta pendidikan. 3. Meningkatkan kepekaan para siswa dan guru akan realitas sosial disekitar mereka
