Bung Dhimast, 1. Bagi saya, kasus Wis tidak baru dan tidak luar biasa. Karena sebelum ini, bertahun-tahun yang lalu, sudah banyak kasus yang menyangkut karyawan atau isu serikat pekerja di Kompas dan KKG. Misalnya, kasus Jakarta-Jakarta, Albert Kuhon, dll. Kasus saya sendiri terjadi tahun 1995.
2. Soal siapa yang benar antara Wisudo dan Suryopratomo, kita tunggu saja nanti perkembangannya, karena sekarang tahapnya masih saling tuding. 3. Soal Kompas cenderung memilih jalan damai, itu urusan Kompas sendiri. Kalau mereka yakin di posisi yang benar, kenapa takut ke pengadilan? Bukankah kita ini negara hukum? 4. Duit??? Orang boleh bicara apa saja. Tapi, Karyawan yang dipecat memang layak mendapat kompensasi. Apalagi karyawan yang sudah bekerja belasan tahun. Ini ada undang-undangnya. KIta patuh pada UU kan? 5. Zaman sekarang tidak mudah pindah-pindah kerja, kalau Anda tidak punya kelebihan yang diakui di dunia Anda berprestasi (jurnalistik, dll). Saya mungkin kuno, tapi saya merasa cukup nasionalis. Lebih senang bekerja di perusahaan swasta Indonesia, ketimbang perusahaan asing. Kepindahan saya dari banyak media hampir selalu berkaitan dengan kasus tenaga kerja (Pelita, Kompas, Media Indonesia, dan Majalah D&R), bukan mulus dan manis karena ingin pindah ke tempat lain yang bergaji besar. Selain itu, saya sudah terikat kontrak kerja paling tidak sampai 6 tahun mendatang, dengan Trans TV karena disekolahkan program Executive MBA (kerjasama Para Grup/TransTV dengan AIM - Asian Institute of Management, Filipina). Kalau mau keluar, saya harus ganti biaya kuliah puluhan ribu dollar AS. Jelas saya nggak sanggup. Jadi saya akan tetap setia mencintai Trans...he..he.... Tidak akan selingkuh atau poligami. 6. Saya jelas tidak mengharap Kompas ambruk. Peran Kompas sangat dibutuhkan untuk mencerdaskan bangsa. Ingat, Kompas/KKG dan Trans Corpora/TransTV tempat saya bekerja kini bersama-sama memiliki TV7 !!! Satrio ----- Original Message ---- From: dimastakha <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, December 12, 2006 9:41:36 PM Subject: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Satrio - tentang nilai-nilai Kompas Itulah, Pak Satrio. Saya masih khawatir. Saya kira, kasus Mas Wis ini memang luar biasa. Sesuatu yang "baru" dari Kompas. Saya liat di detik.com, menurut Suryopratomo apa yang dikatakan Mas Wis (dan Pak Satrio) tidak benar ya. Tidak ada penganiayaan, tidak ada pelarangan Perkumpulan Karyawan Kompas. Yang, katanya, ada Mas Wis sebar-sebar fitnah. Saya sih imbang saja: karena tidak tahu mana yang benar sesungguhnya. Saya bukan saksi mata. Ini kan cuma masalah kepandaian mengemas dan mengelola isu. Selama ini, menurut yang saya dengar dari beberapa teman, Kompas (juga grup Gramedia umumnya) memilih "jalan damai" bagi sejumlah karyawan bermasalah. Sebagai aktivis-- saya hormat Anda begitu pemberani, idealis, dan sebagai wartawan sesungguhnya -- tentunya Anda tahu apa yang selalu terjadi di Kompas (grup). Katanya-- mohon maaf jika tidak benar, tolong dicek kembali--- selama ini Kompas Grup memang menghindarkan diri dari pengadilan karena lebih suka setiap persoalan diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. Mereka sepertinya phobi terhadap itu. Nah, masalahnya, justru itu seringkali sikap seperti itu malah dijadikan "lobang " oleh beberapa oknum. Katanya, mereka mengancam akan memperkarakan, membawa ke pengadilan dan seterusnya. Ujung-ujungnya tentu saja duit ! Urusannya memang kemudian selesai di belakang meja. Mudah-mudahan apa yang saya dengar ini tidak benar. Oh, ya soal Anda pindah2 kerja.. hmm menarik juga. Sebenarnya biasa saja kan orang keluar masuk sebuah kantor/perusahaan. Jadi kalo sudah enggak suka bekerja di satu tempat, ya keluar saja pindah. he.. he.. Jadi kapan nih Pak Satrio pindah ke CNN, Al Jazeera atau CNBC? Apa anehnya sih dengan Mas Wis yang keluar dr Kompas itu? Kan dia juga tentu saja sudah siap dengan itu. Sekarang rame, jangan-jangan karena Kompas, dan saya kira Kompas ambruk adalah harapan banyak pesaingnya.. . btw, maaf saya sampai di sini saja. Saya mencari topik lebih menarik lagi di milis kita ini... salam hormat dhimast, saya masih baca Kompas --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Satrio Arismunandar <satrioarismunandar @...> wrote: > > Oh, jangan khawatir! > Selama pengalaman saya 7 tahun di Kompas, saya tahu, umumnya orang Kompas akan memilih tutup mulut dan main aman dalam situasi genting (ini mungkin kecenderungan di banyak media, bukan cuma Kompas). Saya tidak menyalahkan mereka. Tapi, tak usah mengharapkan ada pernyataan terbuka di milis atau media tentang kasus yang menimpa Wisudo dari mereka. > > Kalau dibilang dendam, tidak ada. Sampai saat ini saya tetap berhubungan baik dengan teman-teman di Kompas. Waktu saya menikah (sesudah saya keluar/dipaksa mundur dari Kompas), saya juga mengundang Pak Jakob Oetama. Dan beliau juga datang kok! > > Sesudah saya keluar dari Kompas, sejumlah tulisan yang saya kirim juga pernah dimuat di Kompas. Jadi saya yakin, pimpinan Kompas dan Pak Jakob juga tidak punya dendam pada saya. Kami berdua sama-sama tahu, apa yang terjadi pada 1995, ketika saya dipaksa mundur dari Kompas adalah karena TEKANAN REZIM SOEHARTO. Kompas tak punya pilihan lain dan tak punya kekuatan menolak tekanan Menteri Penerangan Harmoko waktu itu dan para pimpinan PWI Pusat dan PWI Jakarta (waktu itu diketuai Tarman Azzam). Ingat, jika Kompas bandel, bisa dibreidel kapan saja waktu itu! Jadi, ketika saya dipaksa keluar waktu itu, kami sama-sama tahu, alasannya adalah 100% pertimbangan politik. Karena Pak Jakob pun mengakuyi, tidak ada satu pun kesalahan yang saya lakukan sebagai KARYAWAN. > > Tempat saya bekerja sekarang lebih baik dari Kompas? Bung, saya sudah pernah bekerja 3 suratkabar nasional (Pelita, Kompas, Media Indonesia), 1 majalah berita mingguan (D&R), dan 1 stasiun TV (Trans), dan kesimpulan saya tidak ada tempat bekerja yang sempurna. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. > > Pernyataan saya di bawah ini justru berasal dari rasa cinta saya pada Kompas, karena saya tahu nilai-nilai luhur yang ditanamkan para pendiri Kompas (almarhum PK Oyong) sangat berharga untuk dipertahankan. Dan Kompas tidak akan bertahan lama, dan akan turun posisinya menjadi sekedar sebagai bisnis cari untung biasa, manakala nilai-nilai keutamaan yang ditanamkan para pendiri Kompas yang awal itu ditinggalkan atau disisihkan. > > Pak Jakob Oetama dan sejumlah senior saya di Kompas adalah guru-guru saya dalam ilmu jurnalistik. Saya tidak pernah mengingkari hal itu dan tetap menghormati mereka sampai sekarang. Jadi, kritik dan saran yang saya sampaikan justru saya maksudkan untuk kebaikan Kompas, para karyawannya (bukan cuma Wisudo), dan menyelamatkan nilai-nilai para pendirinya, yang mungkin saja sekarang terlanda erosi akibat tuntutan kapitalistik. Kompas punya arti dan makna, karena nilai-nilai itu, yang saya anggap jauh lebih penting dari masalah pribadi. > > > ----- Original Message ---- > From: dimastakha <dimastakha@ ...> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > Sent: Monday, December 11, 2006 10:54:12 PM > Subject: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Jakob Oetama - tentang nilai-nilai Kompas > > Bung, cobalah lebih balance. Anda kan wartawan senior, tidak usah > terjadi hanya percaya satu sumber. Jika itu terjadi, tentu memalukan > bukan? > Tanya juga teman2 di Kompas, apa yang sesungguhnya terjadi. > Jangan terkesan Bung ada dendam terhadap Kompas? > Serta, apakah tempat Anda bekerja saat ini lebih baik dari Kompas? > > salam > dimast, > ikut prihatin juga > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Satrio Arismunandar > <satrioarismunandar @...> wrote: > > > > Teman-teman, > > > > Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu), peneliti LIPI, > pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia), dan istri dari > wartawan Kompas Bambang Wisodo, via milis AIPI. Isinya berkenaan > dengan kasus pemecatan Bambang Wisudo oleh manajemen Kompas, terkait > soal serikat pekerja di Kompas. Yanu adalah rekan saya di AIPI, > sedangkan Wisudo adalah juga rekan sesama pendiri AJI (Aliansi > Jurnalis Independen), dan dulu juga saya pernah sama-sama kerja di Kompas. > > > > Saya sangat terkesan, bahwa menghadapi saat-saat sulit dan penuh > tekanan, Yanu, Wisudo dan keluarga tetap tenang dan tabah. Artinya, > perjuangan serikat pekerja ini bukan semata-mata urusan Wisudo, tetapi > sejak awal sudah disadari dan didukung penuh oleh istri/keluarga. > Tentu dengan berbagai risikonya. > > > > Dalam kondisi ekonomi dan politik sekarang, di mana nuansa > pragmatisme dan oportunisme, kepentingan mau enak sendiri, masih > sangat kuat, saya merasa salut bahwa masih ada orang-orang yang > berjuang untuk idealismenya. > > > > Kalau Wisudo mau hidup enak dan nyaman di Kompas, perusahaan media > yang sudah sangat mapan di Indonesia (koran terbesar dan paling > berpengaruh) , sebetulnya bisa saja. Kompas adalah salah satu dari > sedikit media yang menyediakan pensiun buat karyawannya. Namun, Wisudo > memilih jalan lain, dan kini dia menanggung risiko perjuangannya. > Yakni, dipecat oleh manajemen Kompas. > > > > Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, dan tidak ingin > menduga-duga. Yang jelas, Wisudo dkk akan terus berjuang, di dalam > Kompas maupun di luar Kompas. Salah satu alternatifnya tentu lewat > jalur hukum (LBH). > > > > Di sini saya menilai, tindakan represif terhadap aspirasi karyawan > yang sah, seperti dialami Wisudo, tidak akan menghasilkan dampak yang > baik bagi perusahaan. Namun, yang jauh lebih merugikan Kompas > sebetulnya adalah masalah reputasi dan image, yang terkait dengan visi > dan misi Kompas, yang merupakan akar keberadaan perusahaan yang > didirikan PK Oyong (alm) dan Jakob Oetama ini. > > > > Bukankah Kompas adalah perusahaan media yang selama ini (lihat tajuk > rencana/editorialny a) sering mengangkat isu-isu demokratisasi, > keterbukaan, hak-hak asasi, dan sebagainya? Bukankah Kompas menganut > dan meyakini nilai-nilai "humanisme transendental" ? Apakah itu sekadar > gincu, dan bukan genuine values yang dianut Kompas, mengingat secara > internal ternyata nilai-nilai itu masih dipertanyakan, karena tidak > terimplementasi? > > > > Jika demikian halnya, bagaimana Kompas sebagai institusi dan bagian > utama/tulang punggung KKG (Kelompok Kompas Gramedia) akan melangkah > memasuki abad baru dunia informasi dan globalisasi, dengan segala > dinamika perubahan, tantangan, ancaman, jika tanpa dukungan akar > nilai-nilai mendasar, yang memberi makna pada keberadaannya? > > > > Selama ini, perekat yang mempertahankan keutuhan KKG adalah figur > Pak Jakob Oetama (JO), sebagai generasi pendiri yang memiliki wawasan > kuat ke depan, nasionalisme, kharisma, wibawa dan intelektualitas. > Namun, dengan segala hormat atas kekuatan manajerialnya, JO tidak akan > memimpin KKG selama-lamanya. > > > > Lalu bagaimana KKG dan Kompas akan melangkah jika nanti ditinggalkan > JO, sementara core values yang menjadi landasan berdirinya dan > suksesnya lembaga Kompas, justru mengalami erosi karena > langkah-langkah "pragmatis-oportini stis" jangka pendek? Bukan tidak > mungkin, langkah-langkah semacam ini akan diteruskan oleh para > pimpinan Kompas/KKG pasca JO nanti. Mereka adalah generasi baru, yang > mungkin kurang menghayati nilai-nilai awal yang ditanamkan generasi > pendiri. > > > > Mempertimbangkan hal itu, saya berharap, Pak Jakob dengan segala > kearifannya, sebagai figur yang menjadi panutan dan dihormati di KKG > dan Kompas, dapat ikut campur tangan melakukan intervensi. Karena yang > dipertaruhkan di sini BUKAN cuma nasib Wisudo, Yanu dan keluarga, > tetapi nasib dan survivabilitas dari KKG, Kompas, dan nilai-nilai > luhur (core values) yang selama ini dianut, diyakini, dihayati, dan > terbukti telah membesarkan Kompas. > > > > Selain itu, yang dipertaruhkan bahkan juga bukan nasib sekian ribu > karyawan Kompas dan KKG, tetapi jutaan stakeholders yang berkaitan > dengan keberadaan institusi media besar ini, termasuk para pembaca > Kompas di seluruh pelosok Indonesia. Peran media sangat penting untuk > kemajuan negeri ini. Peran vital media seperti Kompas masih amat > dibutuhkan, untuk ikut menggalang dukungan dari jutaan rakyat > Indonesia -- yakni, mereka yang masih punya idealisme dan niat baik-- > untuk bersama-sama menyelamatkan Indonesia. > > > > Sekali lagi, saya berharap, agar Pak Jakob, yang saya anggap sebagai > salah satu guru saya dalam ilmu jurnalistik dan wawasan kewartawanan, > bersedia untuk turun tangan langsung, demi kebaikan dan kelangsungan > institusi KKG dan Kompas, beserta nilai-nilai luhur yang selama ini > memberi makna pada keberadannya. > > > > > > Wasalam, > > Satrio Arismunandar > > > > (mantan jurnalis Kompas, yang dibesarkan di Kompas pada 1988-1995, > dan selama itu banyak belajar tentang ilmu jurnalistik dan kearifan > dari guru-guru saya di Kompas) > > > > > > > ============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ======= > > (dari milis AIPI, ditulis oleh Yanu:) > > > > Saya ucapakan Terimakasih atas dukungan yang > > diberikan Mas Rio terhadap saya dan keluarga. > > Perlakukan yang diberikan jajaran manajement Kompas > > terhadap suami saya, adalah satu resiko yang sudah > > kami hitung sejak lama. Perjuangan suami saya Wis > > (Bambang Wisudo) tentang pemilikan saham karyaam > > bukanlah perjuangan yang dilakukan dalam hitungan > > hari. > > Delapan tahun sudah, ia dan teman-temannya di > > Perkumpulan karyawan Kompas melakukan perjuangannya > > untuk menuntut mengembalian saham 20% yang diambil > > oleh perusahaan tanpa sepengetahuan karyawan. Selama > > itu pula, kami sudah terbiasa dengan berbagai > > kebijakan dari management Kompas untuk melakukan > > berbagai penjegalan atas apa yang diperjuangkan suami > > saya dan kawan-kawan. > > Berkaca dari kasus Albert Kuhon, Mas Rio dan Mas > > Yudha, saya sadar betul bahwa pemecatan terhadap suami > > saya bukan tidak mungkin akan terjadi. Namun perlakuan > > dan tindakan para jajaran pimpinan kompas yang > > menggunakan cara-cara kekerasan yang brutal dan > > primitif adalah jauh dari banyangan kami. > > Sebagai salah satu pilar demokrasi sekaligus > > intitusi yang menyuarakan serta menggembar-gemborka n > > persoalan HAM dan Demokrasi maka tidak sepantasnya > > Kompas melakukan tindakan brutal dan primitif (dengan > > melakukan penyeretan dan penyekapan) dalam proses > > pemutusan hubungan kerja. Bahkan sejauh yang saya > > tahu, pemecatan terhadap buruh linting di pabrik > > rokokpun masih dilakukan cara-cara yang sangat sopan. > > Sungguh suatu hal yang sangat ironis bagi Kompas > > yang bangga dengan logonya "Menyuarakan Amanat Hati > > Nurani Rakyat", perlakuan dan tindakan terhadap > > karyawannya justru jauh dari apa yang selama ini > > ditulis besar-besar di bawah kata KOMPAS. > > Jika saya sedih terhadap kasus suami saya, itu > > bukanlah karena suami saya dipecat dari Kompas tapi > > justru karena gambaran Kompas sebagai media tempat > > suami saya berkarya selama ini adalah Kompas telah > > mengkhianati dari nilai-nilainya sendiri. Kompas yang > > impikan oleh suami saya, yang pernah menjadi cita-cita > > suami saya, ternyata tidak lebih dan tidak kurang > > dibandingkan pabrik sandal jepit. > > Saya justru bangga bahwa karena ditengah > > gemerlapnya fasilitas materi yang bisa dinikmati > > wartawan kompas, suami saya masih kukuh untuk > > menyatakan kebenaran, untuk menggugat hak-hak karyawan > > yang telah dirampas oleh perusahaan. Dengan itu pula > > kami dapat tetap melangkah dengan kepala tegak dan > > hati ringan saat kami meninggalkan kantor Kompas malam > > itu, karena Kompas tidak lebih dan tidak kurang > > dibandingkan pabrik sandal jepit. > > Salam > > Yanu (Istri Bambang Wisudo) > > > > > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ > > Any questions? Get answers on any topic at www.Answers. yahoo.com. > Try it now. > > > > > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ > Do you Yahoo!? > Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta. > http://new.mail. yahoo.com > ____________________________________________________________________________________ Do you Yahoo!? Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta. http://new.mail.yahoo.com
