DEK MASTAKAH,

DAKU CUMAN MAOK MEMBERIKEN CATETAN,

YANG BERKAITAN DENGEN ETOS KERJAH...

Dimana dikaupun menyinggungnyah sedingkit.

sakcarah umum, orang yang sering pindah

kerjaan, EMANG MENUNJUKKEN ORANG ITUH

BISAK ENGGAK BETAH SANGKING IDEALISTNYAH..

tatapi di Indon ituh, manungsa idealist,

sanget sanget jarang sakkalih.

mangkanyah dikau liat..sakmuahnyah kabur dan gamang.

penuh pengkianatan, pelacuran2 moral yang menjijikken.

dimana dakupun sering membilangnyah,

PERSETAN KALIAN MEMBILANG CINTAH BANGSA,

BERJOANG BAGI UTAN DAN ORANG UTEN.

Sementarah kenyataannyah?

mana yang terus2an konsisten memperjoangken

kebersihan cisadanehnyah dari kondom2 ulama sakgalah ugamak?

mana yang terus2an, menghujat rungsaknyah utan dan tewasnyah

orang uten yang di bantae idup2?

hehehe,adakah wartawan yang lagih membela diri di hadepanmu

ituh,bisak dijadiken CONTO BANGSA INDON YANG IDEALISTIK

JURNALISTIKNYAH?

hehehe.,daku malahan bisak menyaksiken sak-urang 

environmentalist idealistik,

dalem pertunjukken, dalem laporan2 bernapasken

media massa!! animal planet dan discoverynyah

orang2 bulek sakmodel ALMARHUM SUHADA STEVE IRWIN

YANG BUKAN ISLAM, 

dan diterusken oleh Jeff Corwin Cs

pejoang2 hak idup para binatang

Yang justru DI INDON INIH, JARANG SAKKALIH

ADA WARTAWANNYAH YANG MATI2AN, MEMPERJOANGKEN

HAK IDUP SESAMA MAHLUK CIPTAAN ALLOH YANG DI GEMBAR

GEMBORKENNYAH, BEGITUH KELEWATAN..

sakhinggah macem, lonteh mabok yang lagih

sembahyangan, MEMANGGIL ALLOH YANG DIYAKININNYAH

SANGET SANGET BUDEKNYAH.

hehehe,EMANG BENERAN..BANGSA INDON,

MEMERLUKEN ANAK BANGSA, YANG IDEALISTIKNYAH MURNIH.

Lalu adapun sak-urang PENGGAWEH SERING GONTA

GANTI PEKERJAAN...heheh..di indon mah,

ituh menunjukken kwalitas kacangannyah sang penggaweh,

atawa penggaweh ituh MATA DUWITAN,

atao penggaweh ituh, bermental tempeh, tampa loyalitas,

yang gampang mengkianatin siapah hajah..

YANG ENGGAK MEMUASKEN NAPSONG SAHWATNYAH

YANG LIAR DAN CABUL.

dan jingkalao gonta ganti memek mah..

ituhlah yang sakkarang sedang di ajarken oleh

kiai kondang nan AA game ituh bukan?

jadi benerlah..jingkalao andah sakdingkit

menyinggung sual GONTA GANTI PERUSAHAAN,

bisak mengundang perdebatan yang menangrik,

ANTARA IDEALISTIK, PENGKIANATAN, DAN

MENTAL TEMPEH, YANG CUMAN NYARI SESUAP NANGSIH HAJAH.

Dan di Indon inih..

terus terang hajah..PARA IDEALISTIK ITUH

DAKU MERANGGUHKEN MOTIVASIHNYAH.

sakmodel diungkapken oleh Bang Ali Sadikin,

rumpun sundahku.

HEHEHE,ELUH PADE MEMPROTES PENGUASAH BAJINGAN INIH,

bukannyah kerana atimu punyak kebersihan idealistik!

melaenken ELUH BELOM PUNYAK KESEMPATAN JADI MALING.!!\

KINI ELUH GEMBAR GEMBOR KEADILAN, NAN IDEALISTIK,

tatapi begituh dapet kedudukan,macem Kosmos yang membara,

atawa Akbar Tanjung tempo manghasiswah??

mangka idealistik kalian ituh,

cumanlah idealistik para lonteh, yang belom

di kawin oleh sak-urang konglomerat ustad

YANG BEGITUH ENTENG LANCARNYAH, MENGAJARKEN UMAT,

BUAT IDUP SAKCARAH SAKINAH NAN SEJUK SEJUK BASAH.

ah..idealistik..idealistik jurnalist ituh

memang sanget2 kuraguhken...

apah lagih udah kena racun uler ijoh bukan???

mangka berita2nyahpun sanget miring berkiblat

ke arah Kaabah di Kampung kalen!!!

dimana para Ngarabian..NAEK HAJIH BUKAN LAGIH

KE MAKKAH MELAENKEN KE KOTA UJAN NAN BOGOREN ITUH

nb. akirnyah,

salam sejuk buat dekmastikah.



--- In [email protected], "dimastakha" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Itulah, Pak Satrio. Saya masih khawatir.
> Saya kira, kasus Mas Wis ini memang luar biasa. Sesuatu yang "baru"
> dari Kompas. Saya liat di detik.com, menurut Suryopratomo apa yang
> dikatakan Mas Wis (dan Pak Satrio) tidak benar ya. Tidak ada
> penganiayaan, tidak ada pelarangan Perkumpulan Karyawan Kompas. 
Yang,
> katanya, ada Mas Wis sebar-sebar fitnah. Saya sih imbang saja: 
karena
> tidak tahu mana yang benar sesungguhnya. Saya bukan saksi mata. Ini
> kan cuma masalah kepandaian mengemas dan mengelola isu.
> 
> Selama ini, menurut yang saya dengar dari beberapa teman, Kompas 
(juga
> grup Gramedia umumnya) memilih "jalan damai" bagi sejumlah karyawan
> bermasalah. 
> Sebagai aktivis-- saya hormat Anda begitu pemberani, idealis, dan
> sebagai wartawan sesungguhnya -- tentunya Anda tahu apa yang selalu
> terjadi di Kompas (grup). 
> Katanya-- mohon maaf jika tidak benar, tolong dicek kembali--- 
selama
> ini Kompas Grup memang menghindarkan diri dari pengadilan karena 
lebih
> suka setiap persoalan diselesaikan secara damai dan kekeluargaan.
> Mereka sepertinya phobi terhadap itu.
> Nah, masalahnya, justru itu seringkali sikap seperti itu malah
> dijadikan "lobang " oleh beberapa oknum. Katanya, mereka mengancam
> akan memperkarakan, membawa ke pengadilan dan seterusnya.
> Ujung-ujungnya tentu saja duit ! Urusannya memang kemudian selesai 
di
> belakang meja. Mudah-mudahan apa yang saya dengar ini tidak benar. 
> 
> Oh, ya soal Anda pindah2 kerja.. hmm menarik juga. Sebenarnya biasa
> saja kan orang keluar masuk sebuah kantor/perusahaan. Jadi kalo 
sudah
> enggak suka bekerja di satu tempat, ya keluar saja pindah. he.. 
he..
> Jadi kapan nih Pak Satrio pindah ke CNN, Al Jazeera atau CNBC?
>  Apa anehnya sih dengan Mas Wis yang keluar dr Kompas itu? Kan dia
> juga tentu saja sudah siap dengan itu. 
> Sekarang rame, jangan-jangan karena Kompas, dan saya kira Kompas
> ambruk adalah harapan banyak pesaingnya... 
> btw, maaf saya sampai di sini saja. 
> Saya mencari topik lebih menarik lagi di milis kita ini...
> 
> salam hormat
> dhimast,
> saya masih baca Kompas
> 
> 
> --- In [email protected], Satrio Arismunandar
> <satrioarismunandar@> wrote:
> >
> > Oh, jangan khawatir!
> > Selama pengalaman saya 7 tahun di Kompas, saya tahu, umumnya 
orang
> Kompas akan memilih tutup mulut dan main aman dalam situasi genting
> (ini mungkin kecenderungan di banyak media, bukan cuma Kompas). 
Saya
> tidak menyalahkan mereka. Tapi, tak usah mengharapkan ada 
pernyataan
> terbuka di milis atau media tentang kasus yang menimpa Wisudo dari
> mereka. 
> > 
> > Kalau dibilang dendam, tidak ada. Sampai saat ini saya tetap
> berhubungan baik dengan teman-teman di Kompas. Waktu saya menikah
> (sesudah saya keluar/dipaksa mundur dari Kompas), saya juga 
mengundang
> Pak Jakob Oetama. Dan beliau juga datang kok! 
> > 
> > Sesudah saya keluar dari Kompas, sejumlah tulisan yang saya kirim
> juga pernah dimuat di Kompas. Jadi saya yakin, pimpinan Kompas dan 
Pak
> Jakob juga tidak punya dendam pada saya. Kami berdua sama-sama 
tahu,
> apa yang terjadi pada 1995, ketika saya dipaksa mundur dari Kompas
> adalah karena TEKANAN REZIM SOEHARTO. Kompas tak punya pilihan lain
> dan tak punya kekuatan menolak tekanan Menteri Penerangan Harmoko
> waktu itu dan para pimpinan PWI Pusat dan PWI Jakarta (waktu itu
> diketuai Tarman Azzam). Ingat, jika Kompas bandel, bisa dibreidel
> kapan saja waktu itu! Jadi, ketika saya dipaksa keluar waktu itu, 
kami
> sama-sama tahu, alasannya adalah 100% pertimbangan politik. Karena 
Pak
> Jakob pun mengakuyi, tidak ada satu pun kesalahan yang saya lakukan
> sebagai KARYAWAN.
> > 
> > Tempat saya bekerja sekarang lebih baik dari Kompas? Bung, saya
> sudah pernah bekerja 3 suratkabar nasional (Pelita, Kompas, Media
> Indonesia), 1 majalah berita mingguan (D&R), dan 1 stasiun TV 
(Trans),
> dan kesimpulan saya tidak ada tempat bekerja yang sempurna.
> Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri.  
> > 
> > Pernyataan saya di bawah ini justru berasal dari rasa cinta saya
> pada Kompas, karena saya tahu nilai-nilai luhur yang ditanamkan 
para
> pendiri Kompas (almarhum PK Oyong) sangat berharga untuk
> dipertahankan. Dan Kompas tidak akan bertahan lama, dan akan turun
> posisinya menjadi sekedar sebagai bisnis cari untung biasa, 
manakala
> nilai-nilai keutamaan yang ditanamkan para pendiri Kompas yang awal
> itu ditinggalkan atau disisihkan. 
> > 
> > Pak Jakob Oetama dan sejumlah senior saya di Kompas adalah guru-
guru
> saya dalam ilmu jurnalistik. Saya tidak pernah mengingkari hal itu 
dan
> tetap menghormati mereka sampai sekarang. Jadi, kritik dan saran 
yang
> saya sampaikan justru saya maksudkan untuk kebaikan Kompas, para
> karyawannya (bukan cuma Wisudo), dan menyelamatkan nilai-nilai para
> pendirinya, yang mungkin saja sekarang terlanda erosi akibat 
tuntutan
> kapitalistik. Kompas punya arti dan makna, karena nilai-nilai itu,
> yang saya anggap jauh lebih penting dari masalah pribadi. 
> > 
> > 
> > ----- Original Message ----
> > From: dimastakha <dimastakha@>
> > To: [email protected]
> > Sent: Monday, December 11, 2006 10:54:12 PM
> > Subject: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Jakob Oetama - tentang
> nilai-nilai Kompas
> > 
> > Bung, cobalah lebih balance. Anda kan wartawan senior, tidak usah
> > terjadi hanya percaya satu sumber. Jika itu terjadi, tentu 
memalukan
> > bukan?
> > Tanya juga teman2 di Kompas, apa yang sesungguhnya terjadi.
> > Jangan terkesan Bung ada dendam terhadap Kompas?
> > Serta, apakah tempat Anda bekerja saat ini lebih baik dari 
Kompas?
> > 
> > salam
> > dimast,
> > ikut prihatin juga
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Satrio Arismunandar
> > <satrioarismunandar @...> wrote:
> > >
> > > Teman-teman,
> > > 
> > > Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu), peneliti LIPI,
> > pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia), dan istri 
dari
> > wartawan Kompas Bambang Wisodo, via milis AIPI. Isinya berkenaan
> > dengan kasus pemecatan Bambang Wisudo oleh manajemen Kompas, 
terkait
> > soal serikat pekerja di Kompas. Yanu adalah rekan saya di AIPI,
> > sedangkan Wisudo adalah juga rekan sesama pendiri AJI (Aliansi
> > Jurnalis Independen), dan dulu juga saya pernah sama-sama kerja 
di
> Kompas.
> > > 
> > > Saya sangat terkesan, bahwa menghadapi saat-saat sulit dan 
penuh
> > tekanan, Yanu, Wisudo dan keluarga tetap tenang dan tabah. 
Artinya,
> > perjuangan serikat pekerja ini bukan semata-mata urusan Wisudo, 
tetapi
> > sejak awal sudah disadari dan didukung penuh oleh istri/keluarga.
> > Tentu dengan berbagai risikonya.
> > > 
> > > Dalam kondisi ekonomi dan politik sekarang, di mana nuansa
> > pragmatisme dan oportunisme, kepentingan mau enak sendiri, masih
> > sangat kuat, saya merasa salut bahwa masih ada orang-orang yang
> > berjuang untuk idealismenya. 
> > > 
> > > Kalau Wisudo mau hidup enak dan nyaman di Kompas, perusahaan 
media
> > yang sudah sangat mapan di Indonesia (koran terbesar dan paling
> > berpengaruh) , sebetulnya bisa saja. Kompas adalah salah satu 
dari
> > sedikit media yang menyediakan pensiun buat karyawannya. Namun, 
Wisudo
> > memilih jalan lain, dan kini dia menanggung risiko perjuangannya.
> > Yakni, dipecat oleh manajemen Kompas. 
> > > 
> > > Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, dan tidak ingin
> > menduga-duga. Yang jelas, Wisudo dkk akan terus berjuang, di 
dalam
> > Kompas maupun di luar Kompas. Salah satu alternatifnya tentu 
lewat
> > jalur hukum (LBH). 
> > > 
> > > Di sini saya menilai, tindakan represif terhadap aspirasi 
karyawan
> > yang sah, seperti dialami Wisudo, tidak akan menghasilkan dampak 
yang
> > baik bagi perusahaan. Namun, yang jauh lebih merugikan Kompas
> > sebetulnya adalah masalah reputasi dan image, yang terkait 
dengan visi
> > dan misi Kompas, yang merupakan akar keberadaan perusahaan yang
> > didirikan PK Oyong (alm) dan Jakob Oetama ini. 
> > > 
> > > Bukankah Kompas adalah perusahaan media yang selama ini (lihat 
tajuk
> > rencana/editorialny a) sering mengangkat isu-isu demokratisasi,
> > keterbukaan, hak-hak asasi, dan sebagainya? Bukankah Kompas 
menganut
> > dan meyakini nilai-nilai "humanisme transendental" ? Apakah itu 
sekadar
> > gincu, dan bukan genuine values yang dianut Kompas, mengingat 
secara
> > internal ternyata nilai-nilai itu masih dipertanyakan, karena 
tidak
> > terimplementasi? 
> > > 
> > > Jika demikian halnya, bagaimana Kompas sebagai institusi dan 
bagian
> > utama/tulang punggung KKG (Kelompok Kompas Gramedia) akan 
melangkah
> > memasuki abad baru dunia informasi dan globalisasi, dengan segala
> > dinamika perubahan, tantangan, ancaman, jika tanpa dukungan akar
> > nilai-nilai mendasar, yang memberi makna pada keberadaannya? 
> > > 
> > > Selama ini, perekat yang mempertahankan keutuhan KKG adalah 
figur
> > Pak Jakob Oetama (JO), sebagai generasi pendiri yang memiliki 
wawasan
> > kuat ke depan, nasionalisme, kharisma, wibawa dan 
intelektualitas.
> > Namun, dengan segala hormat atas kekuatan manajerialnya, JO 
tidak akan
> > memimpin KKG selama-lamanya. 
> > > 
> > > Lalu bagaimana KKG dan Kompas akan melangkah jika nanti 
ditinggalkan
> > JO, sementara core values yang menjadi landasan berdirinya dan
> > suksesnya lembaga Kompas, justru mengalami erosi karena
> > langkah-langkah "pragmatis-oportini stis" jangka pendek? Bukan 
tidak
> > mungkin, langkah-langkah semacam ini akan diteruskan oleh para
> > pimpinan Kompas/KKG pasca JO nanti. Mereka adalah generasi baru, 
yang
> > mungkin kurang menghayati nilai-nilai awal yang ditanamkan 
generasi
> > pendiri.
> > > 
> > > Mempertimbangkan hal itu, saya berharap, Pak Jakob dengan 
segala
> > kearifannya, sebagai figur yang menjadi panutan dan dihormati di 
KKG
> > dan Kompas, dapat ikut campur tangan melakukan intervensi. 
Karena yang
> > dipertaruhkan di sini BUKAN cuma nasib Wisudo, Yanu dan keluarga,
> > tetapi nasib dan survivabilitas dari KKG, Kompas, dan nilai-nilai
> > luhur (core values) yang selama ini dianut, diyakini, dihayati, 
dan
> > terbukti telah membesarkan Kompas.
> > > 
> > > Selain itu, yang dipertaruhkan bahkan juga bukan nasib sekian 
ribu
> > karyawan Kompas dan KKG, tetapi jutaan stakeholders yang 
berkaitan
> > dengan keberadaan institusi media besar ini, termasuk para 
pembaca
> > Kompas di seluruh pelosok Indonesia. Peran media sangat penting 
untuk
> > kemajuan negeri ini. Peran vital media seperti Kompas masih amat
> > dibutuhkan, untuk ikut menggalang dukungan dari jutaan rakyat
> > Indonesia -- yakni, mereka yang masih punya idealisme dan niat 
baik--
> > untuk bersama-sama menyelamatkan Indonesia. 
> > > 
> > > Sekali lagi, saya berharap, agar Pak Jakob, yang saya anggap 
sebagai
> > salah satu guru saya dalam ilmu jurnalistik dan wawasan 
kewartawanan,
> > bersedia untuk turun tangan langsung, demi kebaikan dan 
kelangsungan
> > institusi KKG dan Kompas, beserta nilai-nilai luhur yang selama 
ini
> > memberi makna pada keberadannya. 
> > > 
> > > 
> > > Wasalam,
> > > Satrio Arismunandar
> > > 
> > > (mantan jurnalis Kompas, yang dibesarkan di Kompas pada 1988-
1995,
> > dan selama itu banyak belajar tentang ilmu jurnalistik dan 
kearifan
> > dari guru-guru saya di Kompas)
> > > 
> > > 
> > >
> > ============ ========= ========= ========= ========= =========
> ========= =======
> > > (dari milis AIPI, ditulis oleh Yanu:)
> > > 
> > > Saya ucapakan Terimakasih atas dukungan yang
> > > diberikan Mas Rio terhadap saya dan keluarga.
> > > Perlakukan yang diberikan jajaran manajement Kompas
> > > terhadap suami saya, adalah satu resiko yang sudah
> > > kami hitung sejak lama. Perjuangan suami saya Wis
> > > (Bambang Wisudo) tentang pemilikan saham karyaam
> > > bukanlah perjuangan yang dilakukan dalam hitungan
> > > hari. 
> > > Delapan tahun sudah, ia dan teman-temannya di
> > > Perkumpulan karyawan Kompas melakukan perjuangannya
> > > untuk menuntut mengembalian saham 20% yang diambil
> > > oleh perusahaan tanpa sepengetahuan karyawan. Selama
> > > itu pula, kami sudah terbiasa dengan berbagai
> > > kebijakan dari management Kompas untuk melakukan
> > > berbagai penjegalan atas apa yang diperjuangkan suami
> > > saya dan kawan-kawan. 
> > > Berkaca dari kasus Albert Kuhon, Mas Rio dan Mas
> > > Yudha, saya sadar betul bahwa pemecatan terhadap suami
> > > saya bukan tidak mungkin akan terjadi. Namun perlakuan
> > > dan tindakan para jajaran pimpinan kompas yang
> > > menggunakan cara-cara kekerasan yang brutal dan
> > > primitif adalah jauh dari banyangan kami. 
> > > Sebagai salah satu pilar demokrasi sekaligus
> > > intitusi yang menyuarakan serta menggembar-gemborka n
> > > persoalan HAM dan Demokrasi maka tidak sepantasnya
> > > Kompas melakukan tindakan brutal dan primitif (dengan
> > > melakukan penyeretan dan penyekapan) dalam proses
> > > pemutusan hubungan kerja. Bahkan sejauh yang saya
> > > tahu, pemecatan terhadap buruh linting di pabrik 
> > > rokokpun masih dilakukan cara-cara yang sangat sopan. 
> > > Sungguh suatu hal yang sangat ironis bagi Kompas
> > > yang bangga dengan logonya "Menyuarakan Amanat Hati
> > > Nurani Rakyat", perlakuan dan tindakan terhadap
> > > karyawannya justru jauh dari apa yang selama ini
> > > ditulis besar-besar di bawah kata KOMPAS.
> > > Jika saya sedih terhadap kasus suami saya, itu
> > > bukanlah karena suami saya dipecat dari Kompas tapi
> > > justru karena gambaran Kompas sebagai media tempat
> > > suami saya berkarya selama ini adalah Kompas telah
> > > mengkhianati dari nilai-nilainya sendiri. Kompas yang
> > > impikan oleh suami saya, yang pernah menjadi cita-cita
> > > suami saya, ternyata tidak lebih dan tidak kurang
> > > dibandingkan pabrik sandal jepit. 
> > > Saya justru bangga bahwa karena ditengah
> > > gemerlapnya fasilitas materi yang bisa dinikmati
> > > wartawan kompas, suami saya masih kukuh untuk
> > > menyatakan kebenaran, untuk menggugat hak-hak karyawan
> > > yang telah dirampas oleh perusahaan. Dengan itu pula
> > > kami dapat tetap melangkah dengan kepala tegak dan
> > > hati ringan saat kami meninggalkan kantor Kompas malam
> > > itu, karena Kompas tidak lebih dan tidak kurang
> > > dibandingkan pabrik sandal jepit.
> > > Salam
> > > Yanu (Istri Bambang Wisudo)
> > > 
> > > 
> > > 
> > >
> > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> > > Any questions? Get answers on any topic at www.Answers. 
yahoo.com. 
> > Try it now.
> > >
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> >  
> >
> 
_____________________________________________________________________
_______________
> > Do you Yahoo!?
> > Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
> > http://new.mail.yahoo.com
> >
>


Kirim email ke