Dianggap Terkorup, Ketua DPR Berang


JAKARTA - Tudingan lembaga Transparency International Indonesia yang mengatakan 
parlemen Indonesia menempati urutan teratas lembaga terkorup membuat Ketua DPR 
Agung Laksono berang. Tudingan itu, menurut Agung, harus disertai penjelasan 
yang proporsional dan obyektif agar tidak menimbulkan salah persepsi di 
masyarakat. "Di mana letak penilaian itu, apakah sekadar persepsi masyarakat 
atau apa," ujarnya kemarin.

Agung menilai hasil survei lembaga itu tidak memiliki parameter yang jelas. Ia 
meminta masalah yang menyangkut hukum dijelaskan secara pasti. "Agar jelas mana 
yang korupsi dan mana yang tendensius," katanya. 

Namun, menurut Agung, hasil survei itu tetap akan dijadikan bahan koreksi. 
"Nanti biar tim peningkatan kinerja Dewan yang menindaklanjuti," ujarnya.

Hasil survei Transparency International Indonesia menyatakan parlemen--baik di 
tingkat pusat, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat, maupun DPRD--merupakan lembaga 
terkorup pada 2006. Dalam skala indeks korupsi itu, parlemen mendapatkan nilai 
tertinggi, yakni 4,2 dari indeks 1 sampai 5. "Tahun lalu parlemen menempati 
urutan kedua dengan nilai 4,0. Artinya, parlemen semakin korup," ujar Ketua 
Dewan Transparency International Indonesia Todung Mulya Lubis saat mengumumkan 
hasil survei "Barometer Korupsi Global 2006" di kantor Transparency 
International Indonesia, Jakarta, Sabtu lalu.

Menurut Todung, parlemen sebagai lembaga perwakilan rakyat tidak hanya diduga 
melakukan korupsi uang, tapi juga korupsi moral. Misalnya anggota parlemen 
tidak hadir dalam rapat.

Namun, Agung tidak setuju jika dugaan korupsi itu dikaitkan dengan berbagai 
program studi banding ke luar negeri yang sering dilakukan anggota Dewan. 
Sebab, kata dia, studi banding itu merupakan program resmi DPR. Menurut dia, 
banyaknya jumlah peserta studi banding yang sering kali diikuti banyak anggota 
Dewan tidak bisa dikategorikan korupsi. "Tapi ke depan akan diperbaiki," 
katanya. 

Agung balik menilai justru lahan korupsi potensial itu lekat dengan lembaga 
eksekutif dibanding legislatif. Sebab, kata dia, DPR tidak memegang dan 
mengelola anggaran. 

Karena itu, ia meminta Transparency International Indonesia terbuka dan jujur 
dalam mengungkap hasil survei itu. "Jangan separuh-separuh," kata Wakil Ketua 
Umum Golkar ini.

Penolakan juga diungkapkan Wakil Ketua DPD La Ode Ida. Dia menyatakan saat ini 
setiap penggunaan anggaran sudah dikontrol dengan ketat. Studi banding ke luar 
negeri, kata dia, perlu dilakukan untuk memasyarakatkan lembaganya. "Malah 
kunjungan ke luar negeri itu wajib karena DPD lembaga baru," ujarnya. La Ode 
khawatir, hasil survei itu akan menghancurkan lembaga legislatif yang memiliki 
fungsi pengawasan terhadap pemerintah. 

Secara terpisah, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung meminta DPR mengedepankan 
transparansi dalam setiap pembuatan kebijakan dan penyusunan anggaran. 
"Transparansi itu yang menentukan persepsi publik," katanya.

Selain itu, Akbar meminta hasil survei Transparency International Indonesia 
diselidiki lebih lanjut, apakah berdasarkan persepsi publik atau tidak. "Itu 
harus jelas," katanya. aqida s | eko aw

Sumber: Koran Tempo - Selasa, 12 Desember 2006

++++++++++

Untuk berita aktual seputar pemberantasan korupsi dan tata kelola
pemerintahan yang baik (good governance) klik
http://www.transparansi.or.id/?pilih=berita

Untuk Indonesia yang lebih baik, klik
http://www.transparansi.or.id/

Kirim email ke