Saya kira yang menimbulkan pertanyaan juga adalah Sdr. Mintardjo sendiri. Mengapa dipertanyakan tulisan Rosihan Anwar tsb.? Seharusnya Sdr. Mintardjo menyiarkan lagi tulisan tsb. dengan komentar/tanggapan yang menurut Sdr. Mintardjo tidak sesuai dengan kenyataan atau suatu kebohongan. Jadi Rosihan Anwar harus dibelejeti seperlunya. Akan sangat berguna bagi pembaca kalau hal tersebut dilakukan. Bagaimana Bung Mintardjo? Jangan hanya mengemukakan kejanggalan-kejanggalan melulu. Saya akan berterima kasih melihat analisa ilmiah peneliti Yayasan Sapu Lidi. Terima kasih, Dyah RW
----- Original Message ----- From: Lusi To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, December 11, 2006 6:11 PM Subject: Re: [nasional-list] Tanggapan dua tulisan H Rosian Anwar Ph D (hon) Bung Mintardjo yb. Apa Bung bisa mengirimkan artikel dlm surat kabar Merdeka (1945) yang dimaksud dibawah ini? Menimbulkan pertanyaan dari peneliti/pembaca, mengapa Rosihan Anwar tidak menulis liputannya tentang kisah-kisah perjuangan, keberanian serta pengorbanan pemuda-pemudi Surabaya, yang disiarkan satu halaman penuh dalam harian Merdeka. (1945) Mengapa ? Salam hangat dan terimakasih sebelumnya. Lusi.- At 00:55 08.12.2006, you wrote: Tanggapan untuk Dua tulisan H.Rosihan Anwar. Di surat kabar Pikiran Rakyat dan Merdeka H.Rosihan Anwar Ph D (Hon) menyinggung mengenai sejarah perjuangan rakyat Indonesia, disini terdapat keanehan karena tidak akurasi nya penulisan dalam data Sejarah Republik Indonesia. Pada surat kabar Pikiran Rakyat tgl. 22 November 2006 dengan judul Mereka tak di Surabaya November 1945 dan Bersiap dan Daulat di Bulan Desember 1945, tgl 4 Desember 2006, karena kejanggalan penulisannya mengundang pertanyaan: Mereka tak di Surabaya November 1945 Rosihan Anwar (RA) diminta oleh Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin segera berangkat ke Surabaya meliput pertempuran di front. Kejanggalannya Rosihan Anwar sebagai Pelaku dan Saksi Sejarah pertempuran November 1945 di Surabaya, menulis korban pertempuran November 1945 di Surabaya mengambil data dari buku Nederlandsch Indie yang ditulis oleh Jan A Somer (2005) Menimbulkan pertanyaan dari peneliti/pembaca, mengapa Rosihan Anwar tidak menulis liputannya tentang kisah-kisah perjuangan, keberanian serta pengorbanan pemuda-pemudi Surabaya, yang disiarkan satu halaman penuh dalam harian Merdeka. (1945) Mengapa ? Bersiap dan Daulat di Bulan Desember 1945. Kejanggalanya: Rosihan Anwar sudah banyak lupa detail Peristiwa Tiga Daerah, tetapi masih menulis tentang Peristiwa Tiga Daerah untuk pengetahuan Sejarah generasi sekarang. Kejanggalan lain, Rosihan Anwar tidak menulis, tulisan-tulisannya tentang Peristiwa Tiga Daerah di Surat Kabar Merdeka tgl. 7 dan 9 Januari 1946, tetapi menulis Komentarnya (RA) tentang Peristiwa Tiga Daerah dalam buku Java in a Time of Revolution karangan Ben Anderson (1972,hal.342) .Mengomentari peristiwa tadi beberapa waktu kemudian, wartawan Rosihan Anwar yang dekat dengan lingkungan kabinet setuju dengan putusan Hatta bahwa terdapat terlalu banyak kedaulatan rakyat di karesidenan Pekalongan dan menuduh Sardjio dan para pembantunya telah melakukan aksi-aksi kejam fasistis. Pendapat itu khas dari pandangan pemerintah demikian tulis Prof. Ben Anderson. Pertanyaan : Mengapa RA tidak menulis,tulisan-tulisannya sendiri tentang Peristiwa Tiga Daerah di Surat Kabar Merdeka tgl 7 dan 9 Januari 1946 ??? Takut kalau generasi sekarang,mengetahui fitnah keji RA pada Gerakan Tiga Daerah, Sardjio dkk.???. Lupa??? Kalau lupa sebaiknya RA mencari kembali tulisan-tulisannya di Surat Kabar Merdeka 7 dan 9 Januari 1945 dan setelah mempelajari kembali isi dan tujuan penulisan tsb. tulis kembali sebagai pertanggunganjawab RA pada Kedaulatan Rakyat dalam masa perubahan Kekuasaan dari tangan Penjajah dan aparat kekuasaannya ke tangan Rakyat. Sebagai bahan banding tulisan RA Bersiap dan Daulat di Bulan Desember 1945 tentang Gerakan Tiga Daerah dan Sardjio dkk dengan fitnah keji RA pada Gerakan Tiga Daerah dan Sardjio dkk.di Surat Kabar Merdeka tgl 7 dan 9 Januari 1945 saya tulis di bawah ini. Saya diminta mewakili Yayasan Sapu Lidi memberi Kata Pengantar Buku Yang Berlawan tulisan Imam Soedjono,yang diterbitkan oleh Resist Book, Yogyakarta, Januari 2006. Dalam menanggapi Bab IV (Penggulingan Kekuasaan Lokal dan Revolusi Sosial) di Daerah Brebes, Tegal dan Pemalang (Wilayah Karesidenan Pekalongan) saya kemukakan: Imam Soedjono dengan secara terinci menguraikan Aksi Penggulingan Kekuasaan yang disebut Peristiwa Tiga Daerah. Namun demikian dia belum bisa membuka misteri Peristiwa Tiga Daerah yang sebenarnya masih bisa dicari, karena masih ada pelaku sejarah, informan Penumpasan Peristiwa Tiga Daerah yang masih hidup. Wartawan Surat Kabar Merdeka pada waktu itu, Rosihan Anwar, masih dapat dimintai keterangan kebenaran berita di Surat Kabar Merdeka tanggal 7 dan 9 Januari 1946. Pada tanggal 7 Januari 1946, Surat Kabar Merdeka memberikan berita yang diambil dari Kantor Berita Antara tertanggal 6 Januari 1945 dengan judul NICA Terboeka Kedoknya : Komplotan gelap dengan van der Plas sebagai promotornya mengatjaukan derah Pekalongan. Pada tanggal 9 Januari 1946, Surat Kabar ini memberitakan laporan dari Seorang Pembantoe kita jang menjaksikan sendiri peristiwa keboesoekan di daerah terseboet dengan judul Terbongkarnya Rahasia NICA di Pekalongan yang isinya antara lain bercerita tentang Pembanterasan tipoe moeslihat komplotan NICA di Pekalongan. Gerakan jang mengatjaukan masjarakat dibasmi T.K.R. Sardjio, kepala gerombolan pengchianat, 31/2 Hari djadi residen. Kedua berita yang sarat dengan rekayasa, manipulasi, imajinasi dan fitnah tersebut dijadikan legitimasi penumpasan Peristiwa Tiga Daerah dan dijadikan dasar oleh Kejaksaan Agung RI untuk melakukan penangkapan para pengikut Gerakan Tiga Daerah. Laporan pertanggungjawaban Ch.O van der Plas (sebagai Kepala Pemerintahan Sipil di Nederland Indie) tertanggal: Batavia, 6 januari 1946 kepada Pemerintah Belanda, mengatakan: Bersangkutan dengan ini saya menyatakan kepada Excellentie yang terhormat, bahwa saya tidak tahu-menahu mengenai keadaan di Tegal, Pemalang dan Brebes kecuali apa yang saya dengar dari Kolonel Abdul Kadir, tidak ada agen-agen saya di sana (maupun di tempat lain), tidak membagi uang, maupun cetakan (kecuali pamflet-pamflet yang ditaburkan dari Australia di masa perang). Saya tidak mengenal para pemimpin yang disebut dengan huruf inisial mereka. Permintaan bantuan dan dukungan, ditulis dengan tinta tak tampak ditujukan kepada NEFIS dan agen-agennya, yang akan dimasukkan ke daerah terjajah pada masa perang, karena dianggap perlu. Kemungkinan ini adalah kegiatan NEFIS, melihat pangkat sersan dalam NICA. Sadar atau tidak Redaksi Merdeka telah menjadi alat operandi Nederland Forces Intelligent Service (NEFIS), melindungi Pangreh Praja yang lalim dan korup, memfitnah Gerakan Tiga Daerah sebagai Pengkianat Bangsa yang dipromotori oleh van der Plas. (NICA). Pengadilan Negeri Pekalongan, yang diberi wewenang mengadili Peristiwa Tiga Daerah oleh Kejaksaan Agung RI, telah memutuskan bahwa Peristiwa Tiga Daerah tidak terbukti ada hubungannya dengan NICA, tetapi tahanan Peristiwa Tiga Daerah tetap tidak dibebaskan, masih terus dicarikan tuduhan-tuduhan lain. Demikian tanggapan saya tentang dua tulisan RA di Pikiran Rakyat tgl. 22 November 2006 dan 4 Desember 2006 dan Kata Pengantar saya pada Buku Yang Berlawan Bab IV Penggulingan Kekuasaan Lokal dan Revolusi Sosial di daerah Brebes, Tegal dan Pemalang di wilayah Karesidenan Pekalongan. S.Mintardjo. Peneliti Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Yayasan Sapu Lidi. Catatan: 1. Kantor Berita Antara meminta maaf atas penyebaran berita bohong tsb. dan memuat Riwayat Perjuangan Sardjio dan Kamijaya. --------------------------------- Any questions? Get answers on any topic at Yahoo! Answers. Try it now.
