Sebagai orang yang pernah menolong  Pak Rosihan Anwar mencarikan data-data 
arsip penulisan karyanya sendiri, izinkanlah saya memberi komentar. Pak Rosihan 
umurnya sekarang sudah 85 tahun, sehingga beliau banyak lupa. Tapi kalau ada 
data-data lama yang bisa dibuktikan sebagai dokumen, beliau pasti bersedia 
berdiskusi dan mengupasnya bersama-sama. Tapi sampai hari ini, saya menganggap 
beliau jujur pada argumennya sepanjang yang beliau sadari. Contoh, waktu 
Gramedia meluncurkan cetak ulang "Revolt in Pradise, karangan Ktut Tantri". 
Beliau bicara apa adanya tentang Mis Devetry yang diingatnya, termasuk 
komentarnya mengenai Bung Tomo, padahal disitu hadir juga Nyonya Bung Tomo. 
Setahu saya sekarang beliau sudah tidak sanggup lagi mencari arsip tulisamnnya 
sendiri diharian Merdeka atau Pedoman. Bagi peneliti saja sudah sukar, apa lagi 
buat orang yang sudah uzur seperti beliau kalau misalnya untuk membaca mikro 
film. Mengenai komentar beliau tentang sebuah peristiwa masa lalu
 dilihat dari kacamata sekarang, bisa saja berbeda. Dan itu sah-sah saja 
sebagai wartawan. Kalau yang berbicara adalah sejarawan jebolan akademis, baru 
masalah. 
  Terima Kasih 

Dyah Retnowulan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Recent Activity
    
      44
  New Members
  
      1
  New Photos
  
      2
  New Files

Visit Your Group 
  SPONSORED LINKS
      
   Business finances  
   Business finance online  
   Business finance training  
   Business finance course  
   Business finance schools

      Free Blogging
  Y! Web Hosting
  Share your views
  with the world.

    New web site?
  Drive traffic now.
  Get your business
  on Yahoo! search.

    Yahoo! Groups
  Start a group
  in 3 easy steps.
  Connect with others.



  .

      Saya kira yang menimbulkan pertanyaan juga adalah Sdr. Mintardjo sendiri.
Mengapa dipertanyakan  tulisan Rosihan Anwar tsb.?  Seharusnya Sdr. Mintardjo 
menyiarkan  lagi tulisan tsb. dengan komentar/tanggapan yang menurut Sdr. 
Mintardjo tidak sesuai dengan kenyataan atau suatu kebohongan. Jadi Rosihan 
Anwar harus dibelejeti seperlunya. Akan sangat berguna bagi pembaca kalau hal 
tersebut dilakukan. Bagaimana Bung Mintardjo? Jangan hanya mengemukakan 
kejanggalan-kejanggalan melulu. Saya akan berterima kasih melihat analisa 
ilmiah peneliti Yayasan Sapu Lidi. 
Terima kasih,
Dyah RW

----- Original Message ----- 
From: Lusi 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, December 11, 2006 6:11 PM
Subject: Re: [nasional-list] Tanggapan dua tulisan H Rosian Anwar Ph D (hon)


Bung Mintardjo yb.

Apa Bung bisa mengirimkan artikel dlm surat kabar Merdeka (1945) yang dimaksud 
dibawah ini?

Menimbulkan pertanyaan dari peneliti/pembaca, mengapa Rosihan Anwar tidak 
menulis liputannya tentang kisah-kisah perjuangan, keberanian serta pengorbanan 
pemuda-pemudi Surabaya, yang disiarkan satu halaman penuh dalam harian Merdeka. 
(1945) Mengapa ?

Salam hangat dan terimakasih sebelumnya.
Lusi.-



At 00:55 08.12.2006, you wrote:


Tanggapan untuk Dua tulisan H.Rosihan Anwar.
 
 
Di surat kabar Pikiran Rakyat dan Merdeka H.Rosihan Anwar Ph D (Hon) 
menyinggung mengenai sejarah perjuangan rakyat Indonesia, disini terdapat 
keanehan karena tidak akurasi nya penulisan dalam data Sejarah Republik 
Indonesia.
 
Pada surat kabar Pikiran Rakyat tgl. 22 November 2006  dengan judul “Mereka tak 
di Surabaya November 1945” dan “Bersiap dan Daulat di Bulan Desember 1945”, tgl 
4 Desember 2006, karena kejanggalan penulisannya mengundang pertanyaan:
 
“Mereka tak di Surabaya November 1945” Rosihan Anwar (RA) diminta oleh  Menteri 
Penerangan Amir Sjarifuddin segera berangkat ke Surabaya meliput pertempuran di 
front.
 
Kejanggalannya Rosihan Anwar sebagai Pelaku dan Saksi Sejarah pertempuran 
November 1945 di Surabaya, menulis korban pertempuran November 1945 di Surabaya 
mengambil data dari buku Nederlandsch Indie yang ditulis oleh Jan A Somer (2005)
 
Menimbulkan pertanyaan dari peneliti/pembaca, mengapa Rosihan Anwar tidak 
menulis liputannya tentang kisah-kisah perjuangan, keberanian serta pengorbanan 
pemuda-pemudi Surabaya, yang disiarkan satu halaman penuh dalam harian Merdeka. 
(1945) Mengapa ?
  
Bersiap dan Daulat di Bulan Desember 1945.
 
Kejanggalanya:  Rosihan Anwar sudah banyak lupa detail Peristiwa Tiga Daerah, 
tetapi masih menulis tentang Peristiwa Tiga Daerah untuk pengetahuan Sejarah 
generasi sekarang. Kejanggalan lain, Rosihan Anwar tidak menulis, 
tulisan-tulisannya tentang Peristiwa Tiga Daerah di Surat Kabar Merdeka tgl. 7 
dan 9 Januari 1946, tetapi menulis “Komentarnya (RA) tentang Peristiwa Tiga 
Daerah” dalam buku “ Java in a Time of Revolution” karangan Ben Anderson 
(1972,hal.342)……….”Mengomentari  peristiwa tadi beberapa waktu kemudian, 
wartawan Rosihan Anwar yang dekat dengan lingkungan kabinet setuju dengan 
putusan Hatta bahwa terdapat terlalu banyak kedaulatan rakyat di karesidenan 
Pekalongan dan menuduh  Sardjio dan para pembantunya telah melakukan aksi-aksi 
“kejam fasistis”. Pendapat itu khas dari pandangan pemerintah” demikian tulis 
Prof. Ben Anderson.
 
Pertanyaan : Mengapa RA tidak menulis,tulisan-tulisannya sendiri tentang 
Peristiwa Tiga Daerah  di Surat Kabar Merdeka tgl 7 dan 9 Januari 1946 ??? 
Takut kalau generasi sekarang,mengetahui fitnah keji RA pada Gerakan Tiga 
Daerah, Sardjio dkk.???. Lupa???
Kalau lupa sebaiknya RA mencari kembali tulisan-tulisannya di Surat Kabar 
Merdeka 7 dan 9 Januari 1945 dan setelah mempelajari kembali isi dan tujuan 
penulisan tsb. tulis kembali sebagai pertanggunganjawab RA pada Kedaulatan 
Rakyat dalam masa perubahan Kekuasaan dari tangan Penjajah 
    
---------------------------------
  Any questions? Get answers on any topic at Yahoo! Answers. Try it now.   

         

 Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke