*** Jawaban saya atas komentar Dhimast di milis mediacare: ### Baiklah, Pak Satrio.. Saya hanya menyesalkan, sepertinya saat ini terjadi kriminalisasi terhadap Kompas. Kompas disudutkan. Seolah-olah apa yang dikemukakan Pak Wisudo benar semua. Padahal menurut beberapa rekan Kompas, itu hanya kepiawaian memelintir kejadian saja. Saya merasa Anda sangat bersemangat sekali menyerang Kompas.
*** Saya memforward press release dan komentar tentang kasus ini sebagai pembelajaran. Saya sudah jelaskan bahwa saya sangat ingin melihat terwujudnya Kompas yang saya cintai, yang mewarisi nilai-nilai para pendiri. Tapi Anda nggak ngerti juga. Ya sudah.... ================================ ### Mestinya Anda juga, seperti sudah saya bilang sebelumnya, mengungkapkan juga siapa saja yang sekarang menyerang Kompas. Mereka adalah-- termasuk sejumlah oknum AJI-- adalah orang-orang yang selama ini memang memperlihatkan sikap permusuhan dengan Kompas. Saya heran organisasi yang mengaku profesional teriak-teriak berdemo di Jakarta sampai Makassar-- kemarin saya dengar di radio-- sampai mengancam membakar kantor. *** AJI itu organisasi resmi, yang dihargai dan diakui eksistensinya oleh Dewan Pers selain PWI dan IJTI. AJI juga satu-satunya organisasi wartawan yang berani melawan rezim Soeharto pada periode 1995-1998. AJI tidak punya permusuhan dengan Kompas atau media mana pun. Tetapi, sebagai serikat jurnalis, sudah menjadi kewajiban AJI membela kepentingan anggotanya khususnya, atau kepentingan jurnalis/kebebasan pers secara umum di Indonesia. ============================ ### Mestinya dengan kemampuan investigasi wartawan AJI--katanya lo-- Anda telisik juga, bahwa Pak Wisudo itu juga katanya sering menolak tugas. Saya tidak tau itu benar atau tidak, itu cerita teman2 Kompas. *** Kalau tidak tahu benar atau tidak, cuma dengar cerita-cerita, ya sudah. Nggak usah ngotot. Saya sudah kenal pribadi Wisudo selama belasan tahun, dan setahu saya dia bukan wartawan pemalas. Tahun 1995, ketika Soeharto sedang kuat-kuatnya, selain saya dan Dhia Prekasha Yoedha, cuma Wisudo dan Salomo Simanungkalit, wartawan Kompas yang BERANI menandatangani Deklarasi Sirnagalih dan mendirikan AJI (artinya berhadapan melawan rezim Soeharto dengan segala risikonya). Itu bukti nyata idealisme dan keberanian, bukan omong kosong dan retorika sok arif yang dinyatakan sejumlah wartawan lain. =========================== ### Kasus Jakarta-Jakarta, dan kasus-kasus yang menyakut karyawan Kompas dan diekspos besar-besaran oleh AJI, LBH Pers et, itu katanya ada kasus pemerasan juga di dalamnya. Coba deh investigasi, ungkapkan di sini-- kalao benar-- ada sejumlah nama yang disebut-sebut mendapat bayaran ratusan juta rupiah (Bahwa Anda sebut itu wajar karena orang yang dipecat mendapat kompensasi, saya setuju karena aturan Ketenagakerjaan memang begitu. Ada hitungannya malah. Akan tetapi kalo sampai meminta sampai jumlah yang tidak wajar, ya saya tidak mengerti) *** Sebagian besar orang yang terlibat dalam kasus itu saya kenal secara pribadi. Sebagian mereka adalah juga pendiri AJI. Jadi saya tahu karakter mereka. Saya bukan cuma dengar-dengar seperti Anda. Kalau Anda cuma bisa "dengar sana, dengar sini", mendingan tutup mulut. Soal jumlah kompensasi, itu kan hasil kesepakatan Kompas dengan orang bersangkutan. Tidak ada yang aneh. Tanya saja ke Kompas, kenapa mereka mau kasih kompensasi sebesar itu. ====================================== ### (Anda jangan membandingkan Wisudo dengan Albert Kuhon. Saya pernah tanya juga soal ini ke wtw senior Kompas. Jawab mereka enteng. "Kuhon lebih jantan, dia tidak cocok dengan Kompas dan diberhentikan dia terima. Wisudo lain, dia pengecut!") *** Coba Anda tanyakan pada YTH. "wartawan senior" Kompas itu, di manakah dia dan apa yang dia lakukan pada 1995 - 1998 ketika Soeharto sedang kuat-kuatnya? Apakah dia ikut aksi melawan Soeharto, seperti yang sudah dilakukan Wisudo, Salomo Simanungkalit, dll??? ====================================== ### Saya sebenarnya berharap, wartawan Kompas (pasti banyak yang ikutan) yang mau mengungkap bagaimana Mas Wisudo ini sesungguhnya. Mungkin tulisannya bagus, profesional tetapi soal etos kerja? Saya enggak tau, biarlah rekan-rekan Kompas yang cerita. *** Kan sudah saya bilang. Kalau nggak tahu mendingan diam saja. ===================================== ### Bung! wartawan di negeri ini masih orang gajian, jadi kalo kerja di satu perusahaan ya ikuti dong peraturannya, enggak bisa seenak udel. Saya membayangkan, orang-orang yang menyebarkan fitnah dan keburukan kantornya itu seperti melempari kotoran ke mukanya sendiri (maaf lo) *** Aturan perusahaan itu harus mengacu ke Undang-undang RI. Kalau aturannya melanggar UU ya boleh dipersoalkan. Karyawan ikut peraturan, tapi bukan patuh membabi buta. Wartawan kan juga dididik untuk kritis, bukan jadi beo. ================================= ### Bung Satrio, saya ingat, Anda juga kan pernah bilang tidak mau mengungkapkan berapa puluh atau ratus juta rupiah yang didapat Anda dari Kompas dulu, dengan alasan sudah ada kesepatakan dengan pimpinan Kompas. Toh, dari uang itu, seperti kata Anda, bisa membeli mobil Kijang. Rumah ? Modal kawin... (hhe..he.. kali aja lo...) Memang salahnya Kompas, tidak membawa persoalan itu buka-bukaan di pengadilan. Mestinya, Anda juga menjelaskan dong, katanya salah satu filosofi Kompas itu tidak membuka aib seseorang di muka umum, mengkritik tapi tidak menyakiti. *** Saya sudah beberapa kali ungkapkan, tapi sungguh menyedihkan, Anda TIDAK paham juga. Penyelesaian dengan kompensasi untuk saya dan Sdr. Dhia Prekasha Yoedha pada 1995 itu adalah SOLUSI POLITIK. Kompas ditekan oleh Menpen Harmoko dan PWI Pusat dan PWI Jaya (waktu itu Ketuanya Tarman Azzam), agar saya dan Yoedha disingkirkan, karena saya dan Yoedha ikut aksi-aksi anti pembreidelan Tempo, DeTik dan Editor (Juni 1994) dan mendirikan AJI. Persoalannya, saya dan Yoedha sulit disingkirkan, karena sebagai KARYAWAN dan WARTAWAN kami tidak memiliki kesalahan apapun untuk diperkarakan. Malah Pak Jakob Oetama mengakui, saya termasuk wartawan berprestasi (jelek-jelek begini, saya pernah ditugaskan meliput perang Irak 1991, Iran, Libya, Yordania, Israel/Palestina, Mesir, Libya, Bosnia-Herzegovina, Rusia, Jepang, India, Sri Lanka, Amerika, dll). Maka, wajar jika orang yang disingkirkan karena ALASAN POLITIK harus diberi kompensasi yang wajar. Kompas tidak bisa membawa kasus saya ke pengadilan karena SAYA DAN YOEDHA MEMANG TIDAK PUNYA KESALAHAN APA-APA. Jadi apa yang harus diperkarakan??? Tentu saja, di mata rezim Soeharto saya punya kesalahan besar. Yakni, ikut dalam aksi-aksi anti pembreidelan Tempo, Detik dan Editor, serta menjadi pengurus SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) yang tidak diakui Pemerintah. ========================================== ### Tapi saya berharap banyak kasus ini memang secara terbuka ke pengadilan, agar terbuka persoalan sebenarnya. Saya berharap Kompas tidak perlu lagi takut ke pengadilan.. Siapa yang salah dihukum. Jangan kayak biasanya, siapa yang salah malah mendapat bayaran... *** Salah menurut siapa? =================================== ### Sayang saya bukan pimpinan Kompas atau Komandan Satpam Gramedia. Kalau saya jadi dia saya akan balik melaporkan Pak Wisudo dengan tuduhan mencemarkan nama baik. *** Syukurlah Anda bukan pimpinan Kompas. Karena saya lihat, Anda terlalu naif untuk memahami berbagai persoalan kompleks yang dihadapi lembaga media sebesar Kompas. ======================================= ### Sama seperti Anda juga, saya-- dari kecil saya membaca Kompas-- juga tidak mengharapkan Kompas ambruk. Saya percaya, toh Bung Satrio juga berkali-kali bilang cinta Kompas dan banyak gurunya di sini (ada guru poligami gak pak di Kompas?) *** Oh, saya rasa tidak etis, jika menyebut namanya di sini.... ========================================= ### Saya malah heran Anda kerasan kerja di tempat sekarang. Eh katanya, cuma boleh nurut satu orang ya... he..he.. saya cuma denger-denger. Terus kalo ada karyawan salah disuruh push-up ya, benar enggak sih?? *** Kan Anda sudah saya beritahu, di dunia ini tidak ada tempat kerja yang sempurna. Di semua tempat ada kelebihan dan kekurangannya. Masa mesti saya ulang lagi beberapa kali supaya Anda ngerti. Orang hidup di bumi itu kakinya harus menginjak tanah, tetapi matanya harus bisa melihat ke langit tinggi. Saran saya, berhentilah "cuma denger-denger", karena saya kurang semangat menanggapinya. ### salam sahabat dimast, *** Merdeka! (kemerdekaan sejati dimulai dari pikiran) satrio ____________________________________________________________________________________ Any questions? Get answers on any topic at www.Answers.yahoo.com. Try it now.
