Kolom IBRAHIM ISA
Menjelang Natal  -- Jum'at, 15 Desember 2006

24 Tahun  Berdirinya Di  12, Rue de Vaugirard  75006 Paris:
'RESTORAN INDONESIA PARIS'

BUKAN SEBARANG RESTORAN
Kemarin pagi aku menilpun Suyoso, Pimpinan Restoran Indonesia, Paris. 
Seorang pekerja   mengangkat tilpun di seberang sana menyatakan: 'Mr
Suyoso is not here', katanya dalam bahasa Inggris berlogat Perancis.
Tolong sampaikan kepada Mr Suyoso ada tilpun dari Amsterdam, jawabku .
Anda siapa tanyanya dalam bahasa 'Franglais' – Perancis/Inggris.
Bilang saja dari Isa, Amsterdam.
Malamnya Suyoso menilpun aku. 'Ada apa Oom', tanyanya kepadaku. Suyoso
sudah lama kukenal baik. Ia menyapa aku selalu dengan sebutan  'Oom
Isa'. Suyoso agak tegang. Ada  apa kok  pagi-pagi ada tilpun dari
Amsterdam, fikirnya.  Aku bilang bahwa tidak ada apa-apa yang istimewa. 
'Hanya ingin menyampaikan  'SELAMAT ULANG TAHUN'  kepada kalian,
pengusaha dan  para karyawan RESTORAN INDONESIA PARIS' . 
'Ooh, itu. Ya, terima kasih ya , Oom', jawab Suyoso dengan nada lega
dan gembira.
Kawan-kawan Restoran Indonesia Paris, tidak mengadakan kegiatan khusus
berkenaan dengan hari '14 Desember',  yaitu hari berdirinya restoran
mereka 24 tahun yang lalu. Tetapi, tahun depan mereka merancangkan
akan mengadakan peringatan itu. Ya, pantaslah. Karena, bukankah tahun
depan Restoran Indonesia Paris genap berkiprah  25  tahun lamanya.
Sebuah  restoran yang mereka bangun dengan jerih payah serta cucuran
keringat,  melalui kerja keras banting tulang, siang malam terus
menerus. Suatu perjuangan hidup-mati untuk survive dan  dengan
demikian menciptakan syarat untuk meneruskan cita-cita pengabdian
kepada tanah air dan rakyat.

*   *   *

Mengapa  perlu sekali ditulis lagi,  tentang Restoran Indonesia Paris?
Aku sebenarnya tak ada rencana untuk menulis tentang itu. Niat untuk
menulis, baru muncul  sesudah terbaca tulisan JJ. Kusni, salah seorang
pendiri Restoran Indonesia Paris,  --  Sebuah tulisan yang cukup
lengkap untuk  mengingatkan pembaca bahwa tanggal 14  Desember tahun
ini, Restoran Indonesia Paris, memasuki tahun ke-24. Barulah kuingat
lagi, bahwa  sudah 24 tahun restoran itu berdiri.  Suatu prestasi!
Suatu kinerja teladan dari kaum intelektuil dan budayawan Indonesia
yang terpaksa terdampar di luarnegeri karena paspornya dicabut dan
hak-hak kewarganegaraannya direnggutkan oleh rezim militer Indonesia
yang angkara murka. <Baca tulisan JJ Kusni di media internet, berjudul
 'KOPERASI DAN PUSAT KEBUDAYAAN "RESTORAN INDONESIA PARIS": 
24 TAHUN'>.

Aku tegaskan bahwa  perlu menulis lagi tentang Restoran Indonesia
Paris, karena bagiku dan banyak kawan seperjuangan, kawan-kawan dari
Restoran Indonesia Paris, yang dipandu oleh Umar Said, dengan
solidaritas dari kaum demokrat dan peduli HAM oang-orang Perancis, 
merupakan suri teladan. Semangat kawan-kawan itu, memanifestasikan
jiwa  yang  pantang menyerah terhadap  'nasib' yang dipaksakan pada
mereka oleh kekerasan telanjang,  dipaksa menjadi insan tanpa 
identitas, kecuali 'cap' yang dicorengkan ORBA pada mereka: Sebagai
'orang yang terlibat' atau 'berindikasi', bahkan sebagai 'orang-orang
yang bermasalah'. Sungguh teramat kejam tindakan baidab itu!
Orba di bawah Jendral Suharto bermimpi dengan mencabut paspor
kawan-kawan itu,  dengan membikin mereka menjadi orang-orang
'stateless', orang-orang 'tanpa identitas' yang 'kelayaban' di luar
negeri,  bahwa dengan tindakannya itu --  Orba berilusi  akan bisa 
mematahkan jiwa bebas  mandiri, jiwa berlawan  yang patriotik cinta
air dan keadilan dari kawan-kawan itu. 
Orba dan pendukungnya melését, kecelé,  seratus persen melongo
menyadari kemudian,  bahwa kawan-kawan itu bahkan semakin memperkokoh
tekad untuk survive. Dengan berani dan tegar melawan 'vonis' Orba
untuk menjadikan mereka semacam 'orang-orang pariah'. 
Mereka menyingsingkan lengan baju, 'bercancut taliwondo',
'ber-rawé-rawé rantas, malang-malang putung',  melaksanakan prakarsa
membangun restoran Indonesia mulai dari nol. Hanya dengan modal
semangat juang dan jiwa pantang menyerah,  dengan modal dengkul dan
keringat,  dengan memperkokoh semangat gotong-royong dan 
kekolektifan, akhirnya berhasillah kawan-kawan itu  membangun 
Restoran Indonesia Paris.  
JJ. Kusni yang khusus menulis mengenai 24 tahun berdirinya Restoran
Indonesia, dengan tepat sekali mengatakan bahwa apa yang dilakukan
oleh kawan-kawan itu selama 24 tahun ini, menghadapi
intimidasi,diskriminasi dan fitnah Orba, adalah suatu usaha dan
kegiatan yang MEMBELA MARTABAT DIRI DAN INDONESIA'.
Restoran Indonesia Paris  bukan sebarang restoran tulisku. 
Memang demikianlah adanya. Bukan sekadar suatu usaha untuk mencari
nafkah,  supaya bisa survive dan agar tidak tergantung dari tunjangan
sosial pemerintah Perancis.
RESTORAN INDONESIA telah menjadi salah satu tempat penting dimana
berlangsung kegiatan kebudayaan Indonesia yang teratur dan bermutu.
Dikunjungi oleh banyak orang dan tokoh nasional Perancis maupun
internasional yang peduli Indonesia dan peduli HAM. Lihatlah 
nama-nama dari sebagian dari mereka-mereka yang pernah mengunjungi
Restoran Indonesia Paris.
Mereka itu adalah a.l. : Madame Mitterand (Istri mantan Presiden
Perancis Mitterand).  
Ramos Horta, salah seorang pemimpin perjuangan kemerdekaaan Timor
Timur, yang kini menjadi PM Timor Leste.
Jacky Ully, Kapolda Sulsel
Halba R. Nugroho, Kapolda Kalsel.

Menteri Negara Yusril Ihza Mahendra &  istri (mudanya) Rika Kato .
Goenawan Mohamad,
Penyair dan budayawan Indonesia. 
Almarhum Munir
Kontras, YBLHI .
Moh. A. Irsan 
Mantan Dubes Indonesia di Negeri Belanda. 
Yuli Mumpuni
Atase Pers KBRI Paris. 
Andreas Sitepu
Diplomat Nomor Dua KBRI Paris. 
Revrisond Baswir,
Pengajar Univ. Gadjah Mada.: Komentarnya: Restoran Indonesia adalah
meeting point yang menampung seluruh gagasan yang berseliweran di
Indonesia. Semoga semuanya bermanfaat bagi penghormatan terhadap
kemanusiaan.

Joesoef Isak , Pramoedya A.Toer dan Maimoenah
Komentarnya: Senang makan di sini, bebas merokok, hidangan mantap dan
suasana ramah. Bahwa restoran ini diselenggarakan oleh orang-orang
pelarian menterjemahkan kenyataan bahwa masih ada orang Indonesia yang
bisa bertahan di luarnegeri dengan mandiri -- suatu contoh untuk
orang-orang Indonesia lainnya. Bahwa orang-orang penting menjadi
langganan restoran ini tak lain dari penghargaan terhadap usaha yang
ulet dan pendekatan manusiawi antara sesama.

Asvi Warman Adam,
Sejarawan, Peneliti LIPI Jakarta: Komentarnya: Melarang orang makan
adalah melanggar hak asasi. Mudah-mudahan pelanggaran itu tidak
terulang lagi.

*   *   *

Tulisanku ini, selain menyampaikan kepada kawan-kawan Restoran
Indonesia Paris, ucapan Selamat Hari Ultah, juga, ini penting sekali,
bagi pembaca untuk selalu diingat-ingat dikenangkan betapa usaha mulya
telah berhasil direalisasi oleh warga-negara Indonesia yang selama 32
tahun lebih oleh Orba, dianggap 'orang bermasalah'.
Timbullah lagi pertanyaan kapan pemerintah akan mengkoreksi kesalahan
serius Orba menjadikan banyak orang Indonesia yang ketika itu ada
diluar negeri,  sebagai 'orang-orang stateless'. Kapan hendak
merehabilitasi nama baik para warganegara Indonesia yang tak bersalah
yang telah direnggut hak-hak kewarganegaraan dan hak-hak politiknya,
yang jumlahnya meliputi duapuluh jutaan di Indonesia. 

Pengkoreksian kesalahan serius Orba itu, tak bisa hanya dengan
membagi-bagi formulir dan memberikan paspor RI yang baru.
Pengkoreksian itu hanya sah dan bisa diterima, bila pemerintah dengan
jujur mengakui kesalahan-kesalahan serius Orba melanggar HAM, minta
maaf atas kesalahan tsb serta mengkorekasinya melalui suatu
rehabilitasi nasional dan selanjutnya merealisasi cita-cita
REKONSILIASI NASIONAL 
Sayang UU-KKR yang masih mengidap kekurangan-kekuranganpun, sudah
dibatalkan pula.

*   *   *

Restoran Indonesia Paris telah menegakkan lambang perlawanan terhadap
ketidak-adilan, menegakkan tradisi cinta tanah air yang patriotik,
yang benar dan adil.
Sekali lagi SELAMAT BERULANG TAHUN!

*   *   *






Kirim email ke