Saya tahu mas Satrio hanya memforward, tapi dari sekian banyak berita yang lain, kenapa artikel ini yg dianggap menarik utk di fw? Wajar jika saya berasumsi kalau mas satrio sedikit banyak juga setuju dg sirikit. Mohon maaf jika salah.
Sekedar menulis cepat saja; beberapa kesalahan yang melatarbelakangi tulisan Sirikit: 1. Aktifis perempuan bersimpati (beda dg menghormati - siaaaappp graak!!) PSK karena PSK adalah KORBAN (perlu jiwa besar dan perhatian kepada sesama yg tulus untuk tahu bahwa PSK adalah korban. Jika anda bingung kenapa mereka korban, berarti anda belum memiliki perhatian kpd sesama). Istri yang dipoligami sebetulnya juga korban, karena itu aktifis perempuan tidak menjadikan mereka sasaran kritik. Kalau sirikit jeli, ia akan melihat bahwa sasaran kritik poligami lebih ditujukan pd laki-lakinya dibanding istri keduanya. 2. Strategi membandingkan antara PSK-istri kedua atau poligami-zinah selalu dipakai. Sudah jelas zinah dilarang dan tercela, semua orang tahu itu. Poligami menjadi diributkan justru karena sebagian orang masih menganggap itu layak sementara sebagian lainnya menganggap praktek tsb tidak etis. Menolak poligami bukan berarti setuju perzinahan. Bukan berarti setuju pelacuran. Ini strategi diametral yg keliru dan membodohi masyarakat. Tidak kalah bodoh dg logika "kalau tidak mau diperkosa jangan pakai baju yg merangsang". Padahal kalau otaknya ngeres mau pakai baju tertutup juga bisa terangsang. 3. YZ dan ME sudah mendapatkan sanksi sosial, malu, diulas infotaintment setiap hari dst. Karena itu kritik kepada mereka kurang pedas dibandingkan kepada mereka yg berpoligami. Lagipula siapa bilang tidak ada kritik kepada mereka? Saya baca banyak sekali kritik lantas tertuju pada tingkah laku anggota dewan yang di depan mempromosikan moral sementara di belakang berzinah. YZ tak punya pilihan lain selain menunduk malu krn perbuatannya. Sementara pelaku poligami? Alih-alih merasa malu, mereka berjalan dg kepala tegak dan mengemukakan sejumlah alasan pembenar mulai dari statistik sampai dalil formal yg dipakai. 4. Yang paling aneh dari tulisan Sirikit adalah dia bilang kala Ninih iklas dan ridho suaminya menikah lagi. Apakah sebagai sesama perempuan Sirikit tidak bisa melihat bahawa teh Ninih perlu pergulatan batin yg besar sebelum akhirnya menyerah kepada keadaan? Apakah dia tidak bertanya2 kenapa perkawinan kedua itu harus disembunyikan terlebih dahulu dan baru dipublikasi setelah bocor? --- In [email protected], Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Potret (Keliru) Poligami > Rabu, 13 Desember 2006 > > Kesalahan perjuangan para aktivis perempuan adalah > lebih menghormati PSK dan perempuan simpanan daripada > mereka yang mau jadi istri kedua > > Oleh Sirikit Syah > > Sahabat saya dr Nalini Agung menelepon hanya untuk > menyampaikan komentar kerasnya. "Ada tiga jokes of the > year tahun ini, laki-laki semua. Aa Gym, Yahya Zaini, > dan Akhmad Dani," katanya dengan nada jengkel. Menurut > perempuan cantik dan pintar itu, Yahya, yang tampil > bisu di sisi istrinya di hadapan publik Kamis malam > lalu, "Adalah laki-laki bertubuh besar, bernyali ciut. > Ada persoalan dengan istri, lari ke perempuan lain. > Kini ada persoalan dengan perempuan lain, berlindung > kepada istrinya." > > Tentang Aa Gym, Nalini tidak banyak berkomentar, > selain, "Ternyata, Aa Gym manusia biasa juga." Namun, > Nalini tak dapat menoleransi kepongahan suami bernama > Akhmad Dani. "Suami macam itu, kalau saya jadi Maia, > wis tak tinggal." > > Tiga lelaki "jokes of the year", istilah bagus temuan > seorang perempuan berpendidikan dan berkarir, yang > juga ibu rumah tangga yang baik. Di kalangan > pemerintah, Presiden SBY tak berkomentar sepatah > kalimat pun mengenai kasus YZ-ME, malah mempersoalkan > regulasi perkawinan poligami seolah-olah itu ancaman > nasional. > > Di lapangan, berbagai kelompok masyarakat, antara lain > mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jogjakarta, berdemo > menentang poligami. Ibu-ibu muslimat memboikot > pengajian Aa Gym. Sangat mengherankan, tak ada > masyarakat yang berdemo memprotes YZ, wakil rakyat > yang melakukan skandal seks. > > Dunia sudah terbolak-balik. Aa Gym -yang menikah > dengan uang sendiri dan mendapat rida istri- dihujani > kecaman lebih keras daripada pelaku perzinahan dan > perselingkuhan dengan menggunakan uang rakyat/negara. > > Potret Poligami > > Seperti yang dikatakan Aa Gym, poligami sudah sangat > dikelirukan maknanya. Yang melakukan misleading atas > makna poligami itu termasuk di antaranya pemerintah, > para pemimpin negara, tokoh masyarakat, aktivis > perempuan, dan media massa. Poligami telah dipotret > sebagai kejahatan dan kekerasan pada perempuan dan > anak-anak. > > Alih-alih mendengarkan penjelasan Aa Gym dan Teh > Ninih, istrinya, masyarakat lebih suka mendengarkan > sumber-sumber yang tidak layak bicara. Bagaimana kita > percaya pandangan Farhat Abbas tentang poligami? Dia > sendiri suami yang gemar mempermainkan perempuan dan > membohongi istrinya. > > Juga, mengapa mendengarkan Sandy Harun yang tak setuju > poligami atau berbagi suami? Look who¢s talking. Dia > adalah "the other woman", yang kemudian dinikahi. > Dalam status sebagai istri Djodi, dia berhubungan dan > punya anak dengan Tommy Soeharto. Dalam kata lain, > Sandy adalah pelaku poliandri, sebuah tindakan > melanggar hukum. Orang seperti itu akan kita dengar > pendapatnya? > > Kekecewaan masyarakat yang luar biasa kepada Aa Gym > sebetulnya dipicu oleh pemujaan berlebihan pada sosok > kiai muda itu. Ibu-ibu membanjiri pengajiannya dan > rela antre berbulan-bulan hanya untuk bisa mengunjungi > pesantrennya di Bandung. Aa dipandang sebagai dewa. > Ketika Aa melakukan hal yang manusiawi (bersifat > manusia), masyarakat terkejut dan patah hati. > Kebanyakan orang kecewa karena Aa sering > mendengung-dengungk an konsep keluarga sakinah. > "Sakinah apaan, bohong besar," kata sementara orang. > > Apakah keluarga sakinah tak dapat tercapai dengan > tindakan Aa menikah lagi? Apakah keluarga sakinah > tidak mungkin dialami keluarga poligami? Saya melihat > keluarga poligami Aa Gym lebih sakinah daripada banyak > keluarga nonpoligami. > > Pembelokan (bila bukan pemelintiran) makna poligami > -dari sebuah solusi menjadi tindak kejahatan- itu > hanya skala kecil upaya pemerintah untuk menutupi > amburadulnya pengelolaan negara belakangan ini. Ketua > DPR menyalahgunakan voucher pendidikan, anggota DPR > terlibat skandal seks yang videonya merebak ke seluruh > msayarakat, lumpur Sidoarjo tak tertangani, angka > kemiskinan meningkat, rakyat tak punya bahan bakar > untuk memasak, BUMN yang terus merugi atau kalau > untung dijual. > > Kekeliruan masyarakat terjadi ketika mereka selalu > membenarkan persepsinya sendiri. Di antaranya, dengan > kalimat "Mana ada perempuan mau dimadu." Kenyataannya, > banyak peremuan bersedia dimadu. Lalu, "Ya, tapi > mereka pasti tertekan dan menderita." Lagi-lagi, > sebuah upaya pembenaran antipoligami. > > Perempuan lain boleh pura-pura atau acting. Namun, > kita tak dapat menuduh Teh Ninih hipokret, bukan? Dia > dengan wajah bersinar menyatakan ikhlas dan rida > suaminya menikah lagi. Bahkan, mimik, gesture, dan > body language Ninih dan Aa selama jumpa pers > menunjukkan bahwa mereka masih saling (bahkan lebih) > mencintai. > > Saya percaya mereka telah mendapatkan hikmah. > Masyarakat tak mau menerima kenyataan itu. Mereka > menolak fakta kebenaran. Bukan Aa dan Ninih yang > hipokret, melainkan kita sendiri. > > Poligami bukan anjuran, apalagi kewajiban. Seperti > kata Aa, "Jangan menggampangkan. " Aa tentu saja sah > berpoligami karena dia bukan PNS, dia mampu, dan > memiliki ilmu serta potensi untuk berbuat adil. Banyak > laki-laki tak bertanggung jawab bersembunyi di balik > UU Perkawinan yang melarang poligami dan meneruskan > tindakan bejatnya mempermainkan perempuan tanpa status > perkawinan sah. > > Poligami yang baik dilakukan dengan cara kesepatakan > suami istri, kompromi, atau persuasi. Setiawan Djodi > berhasil mempersuasi istrinya untuk menerima kehadiran > Sandy Harun. Ray Sahetapy gagal karena Dewi Yull > memilih bercerai. > > Sebagai perempuan muslim, kita boleh stay on atau quit > dalam perkawinan poligami. Alasan quit jelas: enggan > berbagi. Alasan stay on: mencintai suami dan tak ingin > kehilangan atau tak berdaya secara ekonomi dan sosial. > > Kesalahan perjuangan para aktivis perempuan adalah > lebih menghormati PSK dan perempuan simpanan yang > independen daripada mereka yang mau jadi istri kedua. > Para istri pertama yang ikhlas, yang seharusnya > mendapat apresiasi dari kita, malah didudukkan sebagai > korban yang perlu dikasihani. > > Banyak gerakan perempuan yang didukung pemerintah > meneriakkan yel-yel antipoligami. Sitoresmi yang > menjadi istri keempat Debby Nasution dipecat dari > LSM-nya di Jogjakarta karena dianggap "tidak berdaya". > > Pada intinya, UU Perkawinan yang membatasi perkawinan > poligami hanya melindungi para istri pertama yang > enggan berbagai hak dengan sesama perempuan (padahal > diteriakkan persamaan hak dengan laki-laki). Lebih > buruk lagi, UU itu melindungi laki-laki hidung belang > yang tak mau bertanggung jawab. Itu sama tak > bertanggung jawabnya dengan laki-laki yang > berpoligami, padahal tidak mampu, tidak adil, dan tak > mendapat restu istri pertama. > > *) Penulis adalah ibu rumah tangga, aktif sebagai > pengarang. Tulisan ini diambil dari Jawa Pos edisi > Rabu, 13 Des 2006 > > > > _____________________________________________________________________ _______________ > Want to start your own business? > Learn how on Yahoo! Small Business. > http://smallbusiness.yahoo.com/r-index >
