Tahu, enggak?!Ketika Wisudo masuk KOMPAS, koran ini
sudah besar, sudah punya nama. Sebab itu Wisudo mau
masuk. Lalu karya apa sih, yang pernah dia tulis. Jadi
dia hanya nebeng nama pada sebuah institusi yang sudah
jadi. Dia itu mau jadi wartawan atau menyibukkan
urusan dengan serikat? Kalau itu masalahnya, kenapa
gak bentuk saja LSM atau partai serikat pekerja,
ketimbang masuk Kompas lalu gak pernah kerja. Kasihan
teman-teman wartawan Kompas yang betul-betul berkarya
dan menulis. Makanya mereka semua tak bereaksi ketika
ada wartawan malas yang diberhentikan.

--- claudi teranova <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> Pro Beka!
> 
> Itu menurut loe karena loe temannya Bambang. Apa sih
> karya Bambang yang membuat heboh? Bambang itu udah
> politisasi persoalan untuk menutup soal penolakan
> dia
> ke ambon. Teman-teman di Kompas juga banyak ngga
> setuju dengan gaya Bambang? Kok orang luar kayak
> kebakaran jenggot?
> --- Beka Ulung Hapsara <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> 
> > Salam Bung dimas
> >    
> >   Nama saya beka, saya bukan wartawan manapun
> >   Saya ikut dalam pertemuan hari rabu tanggal 6
> > desember 2006 sore di lt 3 kompas, pertama untuk
> > menunjukkan solidaritas saya sebagai teman kepada
> > wisudo yang sedang tertimpa masalah ketidakadilan
> di
> > tempat kerjanya, kedua untuk menunggu bagaimana
> > keputusan top management kompas dalam mensikapi
> > problem tersebut..akhirnya kita tahu kan bagaimana
> > akhirnya..:(
> >    
> >   Satu catatan penting dalam kasus ini adalah
> wisudo
> > dipecat bukan karena ketidakprofesionalan dia
> > sebagai wartawan, tetapi lebih karena aktivitas
> dia
> > sebagai pengurus perkumpulan pekerja kompas..suatu
> > hal yang dilindungi oleh UU serikat pekerja.
> >   tetapi seperti yang mas satrio bilang, kondisi
> > seperti itulah yang ada di kompas..
> >   Pemecatan tersebut juga masih menunjukkan betapa
> > lemahnya posisi tawar pekerja/buruh di hadapan
> > majikan, meskipun sudah dilindungi oleh sekian
> > banyak UU..
> >    
> >   Saya kenal wisudo sudah cukup lama, sejak dia
> > belum pindah ke desk humaniora. Kita sering
> > kumpul-kumpul diskusi tentang situasi kekinian dan
> > bagaimana mensikapinya.
> >   bagi saya, wisudo bukan hanya sekedar wartawan
> > yang tugasnya menulis berita saja, tapi juga
> > berkontribusi pada pemecahan problem-problem
> sosial
> > yang ada sekarang ini.. memang penilaian saya ini
> > sangat subyektif, tetapi itulah yang saya rasakan
> > ketika berkawan lama dengan dia.. 
> >   
> > bung dimas, silahkan ada menilai sendiri bagaimana
> > situasi yang ada..
> >    
> >   
> > dimastakha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >           Bung, cobalah lebih balance. Anda kan
> > wartawan senior, tidak usah
> > terjadi hanya percaya satu sumber. Jika itu
> terjadi,
> > tentu memalukan
> > bukan?
> > Tanya juga teman2 di Kompas, apa yang sesungguhnya
> > terjadi.
> > Jangan terkesan Bung ada dendam terhadap Kompas?
> > Serta, apakah tempat Anda bekerja saat ini lebih
> > baik dari Kompas?
> > 
> > salam
> > dimast,
> > ikut prihatin juga
> > 
> > --- In [email protected], Satrio
> > Arismunandar
> > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > > Teman-teman,
> > > 
> > > Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu),
> > peneliti LIPI,
> > pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik
> > Indonesia), dan istri dari
> > wartawan Kompas Bambang Wisodo, via milis AIPI.
> > Isinya berkenaan
> > dengan kasus pemecatan Bambang Wisudo oleh
> manajemen
> > Kompas, terkait
> > soal serikat pekerja di Kompas. Yanu adalah rekan
> > saya di AIPI,
> > sedangkan Wisudo adalah juga rekan sesama pendiri
> > AJI (Aliansi
> > Jurnalis Independen), dan dulu juga saya pernah
> > sama-sama kerja di Kompas.
> > > 
> > > Saya sangat terkesan, bahwa menghadapi saat-saat
> > sulit dan penuh
> > tekanan, Yanu, Wisudo dan keluarga tetap tenang
> dan
> > tabah. Artinya,
> > perjuangan serikat pekerja ini bukan semata-mata
> > urusan Wisudo, tetapi
> > sejak awal sudah disadari dan didukung penuh oleh
> > istri/keluarga.
> > Tentu dengan berbagai risikonya.
> > > 
> > > Dalam kondisi ekonomi dan politik sekarang, di
> > mana nuansa
> > pragmatisme dan oportunisme, kepentingan mau enak
> > sendiri, masih
> > sangat kuat, saya merasa salut bahwa masih ada
> > orang-orang yang
> > berjuang untuk idealismenya. 
> > > 
> > > Kalau Wisudo mau hidup enak dan nyaman di
> Kompas,
> > perusahaan media
> > yang sudah sangat mapan di Indonesia (koran
> terbesar
> > dan paling
> > berpengaruh), sebetulnya bisa saja. Kompas adalah
> > salah satu dari
> > sedikit media yang menyediakan pensiun buat
> > karyawannya. Namun, Wisudo
> > memilih jalan lain, dan kini dia menanggung risiko
> > perjuangannya.
> > Yakni, dipecat oleh manajemen Kompas. 
> > > 
> > > Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian,
> > dan tidak ingin
> > menduga-duga. Yang jelas, Wisudo dkk akan terus
> > berjuang, di dalam
> > Kompas maupun di luar Kompas. Salah satu
> > alternatifnya tentu lewat
> > jalur hukum (LBH). 
> > > 
> > > Di sini saya menilai, tindakan represif terhadap
> > aspirasi karyawan
> > yang sah, seperti dialami Wisudo, tidak akan
> > menghasilkan dampak yang
> > baik bagi perusahaan. Namun, yang jauh lebih
> > merugikan Kompas
> > sebetulnya adalah masalah reputasi dan image, yang
> > terkait dengan visi
> > dan misi Kompas, yang merupakan akar keberadaan
> > perusahaan yang
> > didirikan PK Oyong (alm) dan Jakob Oetama ini. 
> > > 
> > > Bukankah Kompas adalah perusahaan media yang
> > selama ini (lihat tajuk
> > rencana/editorialnya) sering mengangkat isu-isu
> > demokratisasi,
> > keterbukaan, hak-hak asasi, dan sebagainya?
> Bukankah
> > Kompas menganut
> > dan meyakini nilai-nilai "humanisme
> transendental"?
> > Apakah itu sekadar
> > gincu, dan bukan genuine values yang dianut
> Kompas,
> > mengingat secara
> > internal ternyata nilai-nilai itu masih
> > dipertanyakan, karena tidak
> > terimplementasi? 
> > > 
> > > Jika demikian halnya, bagaimana Kompas sebagai
> > institusi dan bagian
> > utama/tulang punggung KKG (Kelompok Kompas
> Gramedia)
> > akan melangkah
> > memasuki abad baru dunia informasi dan
> globalisasi,
> > dengan segala
> > dinamika perubahan, tantangan, ancaman, jika tanpa
> > dukungan akar
> > nilai-nilai mendasar, yang memberi makna pada
> > keberadaannya? 
> > > 
> > > Selama ini, perekat yang mempertahankan keutuhan
> > KKG adalah figur
> > Pak Jakob Oetama (JO), sebagai generasi pendiri
> yang
> > memiliki wawasan
> > kuat ke depan, nasionalisme, kharisma, wibawa dan
> > intelektualitas.
> > Namun, dengan segala hormat atas kekuatan
> > manajerialnya, JO tidak akan
> > memimpin KKG selama-lamanya. 
> > > 
> > > Lalu bagaimana KKG dan Kompas akan melangkah
> jika
> > nanti ditinggalkan
> > JO, sementara core values yang menjadi landasan
> > berdirinya dan
> > suksesnya lembaga Kompas, justru mengalami erosi
> > karena
> > langkah-langkah "pragmatis-oportinistis" jangka
> > pendek? Bukan tidak
> > mungkin, langkah-langkah semacam ini akan
> diteruskan
> > oleh para
> 
=== message truncated ===


 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke