Saya tidak tahu apa motif dibalik posting artikel ini oleh Pak Satrio. Bukannya Sirikit Syah itu memang perempuan yang Pro Poligami. Logika berpikir ibu Sirikit ini aneh, ujug-ujug malah menyalahkan perempuan (Istri Pertama). Bukannya Sebagai perempuan, we have to empower other women, regardless their status istri pertama, istri kedua, pelacur, istri simpanan.... dll.
Problem sebenarnya - manajemen syahwat (pada kasus Yahya Zaini & AA Gym)& management kekuasaan (pada kasus Dani Ahmad) malah tidak disentuh. Kalau soal nama-nama lain yang disebutkan seperti Sandy- Setiawan-Tommy (poligamy is not the issue, the real issue between them is power and money). Ps: Kalau soal Sitoresmi, yah anehlah mosok Rifka Anissa dipakai untuk mengkampanyekan poligami... kalau mau mengkampanyekan poligami pakai nama sendiri aja *Menghela Nafas Panjang* Ms. Cruush --- In [email protected], Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Potret (Keliru) Poligami > Rabu, 13 Desember 2006 > > Kesalahan perjuangan para aktivis perempuan adalah > lebih menghormati PSK dan perempuan simpanan daripada > mereka yang mau jadi istri kedua > > Oleh Sirikit Syah > > Sahabat saya dr Nalini Agung menelepon hanya untuk > menyampaikan komentar kerasnya. "Ada tiga jokes of the > year tahun ini, laki-laki semua. Aa Gym, Yahya Zaini, > dan Akhmad Dani," katanya dengan nada jengkel. Menurut > perempuan cantik dan pintar itu, Yahya, yang tampil > bisu di sisi istrinya di hadapan publik Kamis malam > lalu, "Adalah laki-laki bertubuh besar, bernyali ciut. > Ada persoalan dengan istri, lari ke perempuan lain. > Kini ada persoalan dengan perempuan lain, berlindung > kepada istrinya." > > Tentang Aa Gym, Nalini tidak banyak berkomentar, > selain, "Ternyata, Aa Gym manusia biasa juga." Namun, > Nalini tak dapat menoleransi kepongahan suami bernama > Akhmad Dani. "Suami macam itu, kalau saya jadi Maia, > wis tak tinggal." > > Tiga lelaki "jokes of the year", istilah bagus temuan > seorang perempuan berpendidikan dan berkarir, yang > juga ibu rumah tangga yang baik. Di kalangan > pemerintah, Presiden SBY tak berkomentar sepatah > kalimat pun mengenai kasus YZ-ME, malah mempersoalkan > regulasi perkawinan poligami seolah-olah itu ancaman > nasional. > > Di lapangan, berbagai kelompok masyarakat, antara lain > mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jogjakarta, berdemo > menentang poligami. Ibu-ibu muslimat memboikot > pengajian Aa Gym. Sangat mengherankan, tak ada > masyarakat yang berdemo memprotes YZ, wakil rakyat > yang melakukan skandal seks. > > Dunia sudah terbolak-balik. Aa Gym -yang menikah > dengan uang sendiri dan mendapat rida istri- dihujani > kecaman lebih keras daripada pelaku perzinahan dan > perselingkuhan dengan menggunakan uang rakyat/negara. > > Potret Poligami > > Seperti yang dikatakan Aa Gym, poligami sudah sangat > dikelirukan maknanya. Yang melakukan misleading atas > makna poligami itu termasuk di antaranya pemerintah, > para pemimpin negara, tokoh masyarakat, aktivis > perempuan, dan media massa. Poligami telah dipotret > sebagai kejahatan dan kekerasan pada perempuan dan > anak-anak. > > Alih-alih mendengarkan penjelasan Aa Gym dan Teh > Ninih, istrinya, masyarakat lebih suka mendengarkan > sumber-sumber yang tidak layak bicara. Bagaimana kita > percaya pandangan Farhat Abbas tentang poligami? Dia > sendiri suami yang gemar mempermainkan perempuan dan > membohongi istrinya. > > Juga, mengapa mendengarkan Sandy Harun yang tak setuju > poligami atau berbagi suami? Look who¢s talking. Dia > adalah "the other woman", yang kemudian dinikahi. > Dalam status sebagai istri Djodi, dia berhubungan dan > punya anak dengan Tommy Soeharto. Dalam kata lain, > Sandy adalah pelaku poliandri, sebuah tindakan > melanggar hukum. Orang seperti itu akan kita dengar > pendapatnya? > > Kekecewaan masyarakat yang luar biasa kepada Aa Gym > sebetulnya dipicu oleh pemujaan berlebihan pada sosok > kiai muda itu. Ibu-ibu membanjiri pengajiannya dan > rela antre berbulan-bulan hanya untuk bisa mengunjungi > pesantrennya di Bandung. Aa dipandang sebagai dewa. > Ketika Aa melakukan hal yang manusiawi (bersifat > manusia), masyarakat terkejut dan patah hati. > Kebanyakan orang kecewa karena Aa sering > mendengung-dengungk an konsep keluarga sakinah. > "Sakinah apaan, bohong besar," kata sementara orang. > > Apakah keluarga sakinah tak dapat tercapai dengan > tindakan Aa menikah lagi? Apakah keluarga sakinah > tidak mungkin dialami keluarga poligami? Saya melihat > keluarga poligami Aa Gym lebih sakinah daripada banyak > keluarga nonpoligami. > > Pembelokan (bila bukan pemelintiran) makna poligami > -dari sebuah solusi menjadi tindak kejahatan- itu > hanya skala kecil upaya pemerintah untuk menutupi > amburadulnya pengelolaan negara belakangan ini. Ketua > DPR menyalahgunakan voucher pendidikan, anggota DPR > terlibat skandal seks yang videonya merebak ke seluruh > msayarakat, lumpur Sidoarjo tak tertangani, angka > kemiskinan meningkat, rakyat tak punya bahan bakar > untuk memasak, BUMN yang terus merugi atau kalau > untung dijual. > > Kekeliruan masyarakat terjadi ketika mereka selalu > membenarkan persepsinya sendiri. Di antaranya, dengan > kalimat "Mana ada perempuan mau dimadu." Kenyataannya, > banyak peremuan bersedia dimadu. Lalu, "Ya, tapi > mereka pasti tertekan dan menderita." Lagi-lagi, > sebuah upaya pembenaran antipoligami. > > Perempuan lain boleh pura-pura atau acting. Namun, > kita tak dapat menuduh Teh Ninih hipokret, bukan? Dia > dengan wajah bersinar menyatakan ikhlas dan rida > suaminya menikah lagi. Bahkan, mimik, gesture, dan > body language Ninih dan Aa selama jumpa pers > menunjukkan bahwa mereka masih saling (bahkan lebih) > mencintai. > > Saya percaya mereka telah mendapatkan hikmah. > Masyarakat tak mau menerima kenyataan itu. Mereka > menolak fakta kebenaran. Bukan Aa dan Ninih yang > hipokret, melainkan kita sendiri. > > Poligami bukan anjuran, apalagi kewajiban. Seperti > kata Aa, "Jangan menggampangkan. " Aa tentu saja sah > berpoligami karena dia bukan PNS, dia mampu, dan > memiliki ilmu serta potensi untuk berbuat adil. Banyak > laki-laki tak bertanggung jawab bersembunyi di balik > UU Perkawinan yang melarang poligami dan meneruskan > tindakan bejatnya mempermainkan perempuan tanpa status > perkawinan sah. > > Poligami yang baik dilakukan dengan cara kesepatakan > suami istri, kompromi, atau persuasi. Setiawan Djodi > berhasil mempersuasi istrinya untuk menerima kehadiran > Sandy Harun. Ray Sahetapy gagal karena Dewi Yull > memilih bercerai. > > Sebagai perempuan muslim, kita boleh stay on atau quit > dalam perkawinan poligami. Alasan quit jelas: enggan > berbagi. Alasan stay on: mencintai suami dan tak ingin > kehilangan atau tak berdaya secara ekonomi dan sosial. > > Kesalahan perjuangan para aktivis perempuan adalah > lebih menghormati PSK dan perempuan simpanan yang > independen daripada mereka yang mau jadi istri kedua. > Para istri pertama yang ikhlas, yang seharusnya > mendapat apresiasi dari kita, malah didudukkan sebagai > korban yang perlu dikasihani. > > Banyak gerakan perempuan yang didukung pemerintah > meneriakkan yel-yel antipoligami. Sitoresmi yang > menjadi istri keempat Debby Nasution dipecat dari > LSM-nya di Jogjakarta karena dianggap "tidak berdaya". > > Pada intinya, UU Perkawinan yang membatasi perkawinan > poligami hanya melindungi para istri pertama yang > enggan berbagai hak dengan sesama perempuan (padahal > diteriakkan persamaan hak dengan laki-laki). Lebih > buruk lagi, UU itu melindungi laki-laki hidung belang > yang tak mau bertanggung jawab. Itu sama tak > bertanggung jawabnya dengan laki-laki yang > berpoligami, padahal tidak mampu, tidak adil, dan tak > mendapat restu istri pertama. > > *) Penulis adalah ibu rumah tangga, aktif sebagai > pengarang. Tulisan ini diambil dari Jawa Pos edisi > Rabu, 13 Des 2006 > > > > ____________________________________________________________________________________ > Want to start your own business? > Learn how on Yahoo! Small Business. > http://smallbusiness.yahoo.com/r-index >
