Pak Ambon dan Pak Chandra yth, saya kira tidak akan terjadi kudeta. Sebab 
SBY-JK kedua-duanya adalah tokoh asli rejim orde baru, dan kedua-duanya adalah 
kader-kader Suharto. Yang satu punya bedil, yang lain punya duit. Jadi kudeta 
melawan siapa? Yang terjadi ribut-ribut antara SBY dan JK itu kan rebutan 
rejeki internal saja, yang mudah direkonsiliasikan.
   
  Kalau sekarang ini dimarakkan lagi isu-isu anti komunis, itu adalah lagu lama 
diputar kembali. Pada jamannya Suharto, kalau ada gerakan demokratis, ada 
ide/pikiran yang berbeda dengan penguasa, ada ide nasionalisme kerakyatan, 
apalagi ada oposisi terhadap politik orba - langsung dicap komunis, dan harus 
digebuk. Padahal komunis/pki sudah dibasmi tanpa ampun dan tanpa mengindahkan 
norma-norma HAM. Pemutar lagu lama tersebut antara lain Taufik Ismail.
   
  Pak Ambon dan Pak Chandra, menurut pendapat saya tidak akan ada kudeta. Yang 
ada hanya isu-isu untuk menakut-nakuti rakyat dengan "gendruwo komunis" demi 
lestarinya Orba Jilid II. Tapi rakyat sudah tahu gendruwonya adalah Orba yang 
ada di mana-mana.
   
  J.Surendro
   
   
  --- In [EMAIL PROTECTED], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Bila kudeta terjadi lagi di Indonesia bukan bermaksud memperbaiki kehidupan 
rakyat yang sekarang miskin melarat, tetapi bertujuan memperbaiki kedudukan dan 
kehidupan golongan yang tidak kebagian rejeki selama ini.

----- Original Message ----- 
From: T Chandra 
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[email protected] 
Sent: Friday, December 15, 2006 10:54 PM
Subject: [mediacare] Re: [HKSIS] Taufiq Ismail:: Komunis Telah Membantai 120 
Juta Orang di 70 Negara



Naga-naganya di zaman "demokrasi" ini ada yang kebelet banget supaya ada sikon 
mirip
1965 dulu. "Massa" digerakkan, anti-komunisme marak, baju ijo siap hadang. 

Lalu sasarannya siapa? Soekarno atau yang mirip dia tidak ada. PKI juga belum 
nongol juga. (Jelas bener banyak yang mimpi ada lagi PKI, biar bisa dituduh mau 
kudeta,
terus "rakyat" digerakan, parang dan golok, juga senjata api otomatik lantas 
"bekerja".

Tapi kan latar belakang sejarah lain banget Perang dingin berubah jadi perang 
lawan terorisme. Jadi apa-apaan nih? Yg ada kelompok penggede pembantu AS dan 
para jawara NII. Apa iya yah, AS dan Wahabi berselingkuh mau menguasai, atau 
memecah NKRI, bagi-bagi kekuasaan? Paranoid kebangeten nih! Liat persetubuhan 
YZ & ME aja yuuk.

TCh

samiaji [EMAIL PROTECTED] wrote:
Taufiq Ismail:: Komunis Telah Membantai 120 Juta Orang di 70 Negara 
Jumat, 15 Desember 2006 
Banyak pemuda keblinger dan tak paham komunisme tapi tiba-tiba gandrung dengan 
paham ini. Padahal sejarah mencatat, Komunis telah membantai 120 juta orang di 
70 negara
Hidayatullah.com--Ramai-ramai isu bangkitnya Komunis Gaya Baru (KGB), membuat 
penyair dan penulis buku Taufiq Ismail ikut bicara. Menurutnya, saat ini banyak 
kalangan muda kampus yang sedikit keblinger karena ketidaktahuan akan sejarah 
PKI dan Komunis.
"Saya sarankan kepada kalangan muda agar rajin membaca buku-buku sejarah. Agar 
mereka tak mudah melupakan sejarah, " katanya kepada www.hidayatullah.com saat 
dihubungi melalui telpon, Kamis, (14/12) kemarin.
Penulis buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensi Lekra PKI ini membenarkan jika 
saat ini ada usaha pembangkitan sisa-sisa kaum komunis dengan berbaju HAM. 
Sayangnya, menurut Taufiq, banyak kalangan mahasiswa yang justru menjadi 
kepanjangan tangan komunis dan membela-belanya karena ketidakpahaman akan 
sejarah. Itulah sebabnya kaum komunis memanfaatkan kampus dan LSM-LSM yang 
mengaku pembela HAM sebagai wadah dan tempat untuk hidup kembali.
Dalam bukunya yang berjudul Katastrofi Mendunia, Taufiq memaparkan data sejarah 
(kualitatif maupun kuantitatif) tentang kekejaman "palu arit" di seluruh jagad. 
"Tidak ada satu pun partai politik lain yang dapat menandingi rekor pembantaian 
yang dilakukan mereka itu, yang masuk secara terselubung mau pun berjelas-jelas 
dalam program kerja mereka, yaitu perebutan kekuasaan secara revolusi berdarah 
lewat pertentangan kelas menuju diktator proletariat, baik di abad 20 ini mau 
pun di abad-abad sebelumnya, " jelasnya.
Taufiq mengutip buku Dr. Stephane Courtois berjudul "Black Book of Communism; 
Crimes, Terror, Repression" yang diterbitkan Harvard Universty Press (2000). 
Mengejutkan, Curtois menemukan bukti bahwa ideologi komunis telah menyebabkan 
tewasnya 120 juta manusia di 70 negara.
Bercak darah yang ditinggalkan partai Marxis-Leninis-Maois antara lain meliputi 
Kaukasia, Ukraina, Polandia, Yugoslavia, Azerbaijan, Yaman, Kongo, Mozambique, 
Ghana, Kuba, juga tersebar di benua Eropa, Asia, Afrika dan Amerika, termasuk 
Indonesia.
Sekadar menyebut contoh, di Burundi, Afrika, pemerintah Marxis membantai 
160.000 orang. Ketika Yugoslavia jatuh ke cengkeraman komunis di akhir Perang 
Dunia II, partisan Marxis anak buah Joseph Tito membantai 500.000 orang.
Dalai Lama di Newsweek pada Oktober 1987 menyebutkan, rezim Marxis 
mengambil-alih Tibet dan sejuta penduduk telah dihabisi di RRC. Di Mozambique, 
akibat kelompok komunis, 900.000 rakyat mati dalam perang saudara. Data-data 
lain teramat banyak.
Taufiq juga mengutip data angka Iosef Dyadkin (publikasi Samizdat) yang 
menemukan 52,1 juta rakyat Rusia dibantai rezim Marxis. Anthony Lutz menemukan, 
60 juta rakyat Cina dihabisi pemerintahnya. James Nihan mencatat, 105 juta dan 
Rummel dalam Religion and Society Report mencatat sorban 95,2 juta orang untuk 
seluruh dunia.
Jika diambil rata-rata, akibat ideologi Marxis-Leninis-Maois, keempat sumber di 
atas diperoleh pembulatan angka 100 juta.
Itulah sebabnya Taufiq mengaku heran banyak kalangan muda--yang tak paham 
sejarah-- begitu simpati pada Komunis yang sering bersandar di lembaga-lembaga 
advokasi atau HAM. "HAM itu baik, tetapi dalam membela HAM itu menyembunyikan 
agenda 'terselubung' karena ada bau propaganda komunis," ujarnya.
Taufiq adalah salah satu saksi sejarah yang mengalami hiruk-pikuk kekejaman PKI 
sekitar tahun 1965. "Mata kami tidak bisa dikelabui bahwa di belakang kalian 
(LSM yang mengaku pejuang HAM) ada 'penyusup', yakni orang-orang PKI," 
tambahnya. [cha,pam] 

Jumat, 15 Desember 2006 
Banyak pemuda keblinge dan tak paham komunisme tapi tiba-tiba gandrung dengan 
paham ini. Padahal sejarah mencatat, Komunis telah membantai 120 juta orang di 
70 negara
Hidayatullah.com--Ramai-ramai isu bangkitnya Komunis Gaya Baru (KGB), membuat 
penyair dan penulis buku Taufiq Ismail ikut bicara. Menurutnya, saat ini banyak 
kalangan muda kampus yang sedikit keblinger karena ketidaktahuan akan sejarah 
PKI dan Komunis.
"Saya sarankan kepada kalangan muda agar rajin membaca buku-buku sejarah. Agar 
mereka tak mudah melupakan sejarah, " katanya kepada www.hidayatullah.com saat 
dihubungi melalui telpon, Kamis, (14/12) kemarin.
Penulis buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensi Lekra PKI ini membenarkan jika 
saat ini ada usaha pembangkitan sisa-sisa kaum komunis dengan berbaju HAM. 
Sayangnya, menurut Taufiq, banyak kalangan mahasiswa yang justru menjadi 
kepanjangan tangan komunis dan membela-belanya karena ketidakpahaman akan 
sejarah. Itulah sebabnya kaum komunis memanfaatkan kampus dan LSM-LSM yang 
mengaku pembela HAM sebagai wadah dan tempat untuk hidup kembali.
Dalam bukunya yang berjudul Katastrofi Mendunia, Taufiq memaparkan data sejarah 
(kualitatif maupun kuantitatif) tentang kekejaman "palu arit" di seluruh jagad. 
"Tidak ada satu pun partai politik lain yang dapat menandingi rekor pembantaian 
yang dilakukan mereka itu, yang masuk secara terselubung mau pun berjelas-jelas 
dalam program kerja mereka, yaitu perebutan kekuasaan secara revolusi berdarah 
lewat pertentangan kelas menuju diktator proletariat, baik di abad 20 ini mau 
pun di abad-abad sebelumnya, " jelasnya.
Taufiq mengutip buku Dr. Stephane Courtois berjudul "Black Book of Communism; 
Crimes, Terror, Repression" yang diterbitkan Harvard Universty Press (2000). 
Mengejutkan, Curtois menemukan bukti bahwa ideologi komunis telah menyebabkan 
tewasnya 120 juta manusia di 70 negara.
Bercak darah yang ditinggalkan partai Marxis-Leninis-Maois antara lain meliputi 
Kaukasia, Ukraina, Polandia, Yugoslavia, Azerbaijan, Yaman, Kongo, Mozambique, 
Ghana, Kuba, juga tersebar di benua Eropa, Asia, Afrika dan Amerika, termasuk 
Indonesia.
Sekadar menyebut contoh, di Burundi, Afrika, pemerintah Marxis membantai 
160.000 orang. Ketika Yugoslavia jatuh ke cengkeraman komunis di akhir Perang 
Dunia II, partisan Marxis anak buah Joseph Tito membantai 500.000 orang.
Dalai Lama di Newsweek pada Oktober 1987 menyebutkan, rezim Marxis 
mengambil-alih Tibet dan sejuta penduduk telah dihabisi di RRC. Di Mozambique, 
akibat kelompok komunis, 900.000 rakyat mati dalam perang saudara. Data-data 
lain teramat banyak.
Taufiq juga mengutip data angka Iosef Dyadkin (publikasi Samizdat) yang 
menemukan 52,1 juta rakyat Rusia dibantai rezim Marxis. Anthony Lutz menemukan, 
60 juta rakyat Cina dihabisi pemerintahnya. James Nihan mencatat, 105 juta dan 
Rummel dalam Religion and Society Report mencatat sorban 95,2 juta orang untuk 
seluruh dunia.
Jika diambil rata-rata, akibat ideologi Marxis-Leninis-Maois, keempat sumber di 
atas diperoleh pembulatan angka 100 juta.
Itulah sebabnya Taufiq mengaku heran banyak kalangan muda--yang tak paham 
sejarah-- begitu simpati pada Komunis yang sering bersandar di lembaga-lembaga 
advokasi atau HAM. "HAM itu baik, tetapi dalam membela HAM itu menyembunyikan 
agenda 'terselubung' karena ada bau propaganda komunis," ujarnya.
Taufiq adalah salah satu saksi sejarah yang mengalami hiruk-pikuk kekejaman PKI 
sekitar tahun 1965. "Mata kami tidak bisa dikelabui bahwa di belakang kalian 
(LSM yang mengaku pejuang HAM) ada 'penyusup', yakni orang-orang PKI," 
tambahnya. [cha,pam] 




 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke