Artikel di bawah ini mungkin bisa menyadarkan Indonebia yang dulu pernah menyarankan agar umat Islam di seluruh Indonesia menebangi pepohonan yang katanya bisa mengganggu sinyal saat berdoa untuk Allah....... _____________________________________________ Belajarlah Menghargai Tanaman Patriana Tan, eksekutif dari Paragon Singapura, tiada habisnya mengagumi tanaman kurma di kota Dubai. "Di sini hujan hanya tiga kali dalam setahun, tetapi kota ini relatif hijau. Hebat," ujar Patriana di Dubai, pekan lalu. Ia tidak berlebihan sebab untuk ukuran daerah padang pasir, Dubai luar biasa. Pohon kurma dan beberapa jenis tanaman lain tampak tegak dan tumbuh sehat di seluruh penjuru kota. Rumput dan kembang setinggi 30 sentimeter menghiasi hampir seluruh taman, bulevar, dan trotoar. Tanaman-tanaman tersebut seperti menjadi sabuk hijau yang mengokohkan kota. Saleh Al Hamidy, warga negara Irak yang bekerja sebagai "perawat" sejumlah pohon kurma di seberang Ibn Battuta Mall, Sharjah (20 kilometer dari Dubai), menuturkan tidak mudah menanam tanaman di daerah padang pasir. Air sulit, hujan hanya turun pada musim dingin. Itu pun hanya beberapa kali dan debitnya tidak berarti. Untunglah Uni Emirat Arab mempunyai komitmen kuat kepada lingkungan. Hampir seluruh kebutuhan air negeri itu diperoleh dari penyulingan air laut. Maka air dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kehidupan, termasuk untuk penanaman dan perawatan pohon. Pengaliran air Bagaimana agar rumput, kembang, pohon kurma, dan tanaman bisa tumbuh? Ada beberapa cara untuk itu. Ada yang membuat galian 1 meter sampai 2 meter, lalu dipasang plastik khusus sehingga air yang disiram dari atas tidak merembes ke mana-mana. Ada yang memasang pipa di permukaan dan 15 sentimeter di bawah permukaan tanah. Air itu bisa dialirkan kalau dibutuhkan. Pengaliran air itulah yang membuat tanaman, rumput hijau, dan kembang aneka warna bisa tumbuh subur. Di berbagai jalan di kota Dubai, Sharjah, dan Abu Dhabi, Anda akan mudah menemukan pohon kurma berbuah banyak. Warga pun terkesan tidak ingin mengambil sehingga kurma itu dibiarkan berguguran. Bahkan, di beberapa tempat dibuat kali kecil, di mana air hasil sulingan dimanfaatkan untuk berperahu di kawasan mal dan hotel. Bagi kalangan pengusaha, pohon kurma selalu menjadi pilihan untuk ditanam di depan, samping, atau belakang kantornya. Para pengembang Dubai, misalnya, selalu menanam sampai 200 pohon kurma di sekeliling mal atau gedung perkantoran. Kurma yang tumbuh sehat akan mewarnai mal dan menguatkan kekhasan negara-negara Arab. "Meski negara-negara Arab akrab dengan pohon kurma, tetapi tidak meremehkan proses penanamannya. Pohonnya bisa tumbuh, tetapi belum tentu sehat, belum tentu berbuah banyak dan manis," ujar Mohammad Suyuti, penggemar tanaman kurma di Dubai. Suyuti menyatakan, harga pohon, proses penanaman, dan pemeliharaan pohon kurma cukup mahal. Satu pohon kurma bisa minta ongkos hingga (sama dengan) Rp 25 juta. Kalau sebuah mal menanam 300 pohon, uang yang dikeluarkan untuk pohon kurma ini saja mencapai Rp 7,5 miliar. Bukan main. Anggaran pengadaan pohon kurma ini bisa lebih besar lagi kalau di seluruh kota ditanami 40.000 pohon. Anggarannya bisa mencapai satu triliun rupiah. Anggaran sebesar itu memang tampak amat besar. Akan tetapi, untuk ukuran Dubai, yang kaya minyak bumi dan menjadi salah satu kota paling diminati para pelancong dunia, anggaran sebesar itu tidak ada artinya sama sekali. Dubai pun kini sudah bisa tersenyum karena kotanya dikelilingi pohon hijau. Manja Kota-kota di Indonesia hendaknya memetik hikmah dari pergulatan Dubai menghijaukan kotanya. Di negeri ini tanah amat subur. Kapan saja siang atau malam, kemarau atau hujanpohon atau bibit bisa ditanam dan hampir semuanya tumbuh subur. Tidak perlu menggunakan pipa air dan sebagainya. Akan tetapi, mungkin karena alamnya yang subur, sebagian kecil masyarakat menjadi "manja", tak terpanggil bekerja lebih untuk menghasilkan kawasan hijau. Padahal, harga bibit/pohon di Indonesia amat murah. Pula, jika Anda pelit, tidak ingin membeli bibit, cukup menanam biji mangga dan pepaya. Maka tak lama kemudian pohon mangga sudah tumbuh subur. DKI Jakarta boleh disebut salah satu kota di Indonesia yang mencintai tanaman. Akan tetapi, kecintaan terhadap tanaman itu terus tergerus oleh ekspansi manusia, industri, dan infrastruktur. Situ, kawasan konservasi air, dan daerah hijau terus dibabat. Demikian hebatnya hajaran terhadap tanaman hijau sehingga DKI Jakarta tega mengurangi daerah hijau di Jalan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin. Tega pula membabati pohon di jalur-jalur monorel. Kawasan Sunter dan Senayan yang mestinya dijaga, jangan sampai diterkam manusia, ternyata dilepas. Sebagian Senayan dan Sunter sudah sarat bangunan. Inilah salah satu aspek yang menyebabkan keinginan memiliki 13 persen areal hijau di Jakarta semakin suram. Jangankan 13 persen, mencapai 11 persen areal hijau saja rasanya sulit. Dulu Presiden pertama RI Soekarno pernah berkeinginan menjadikan Jakarta seperti Washington DC, Paris, dan Helsinki yang lebih dari 35 persen arealnya untuk kawasan pepohonan atau ruang terbuka hijau. Harapan Soekarno tidak muluk- muluk sebab Jakarta kemudian mempunyai kawasan hijau di Monas, Senayan, Lapangan Banteng, Menteng, Kuningan, Karet, Sunter, dan sebagainya. Akan tetapi, bangsa kita tampaknya kurang konsisten merawat kawasan hijau. Satu per satu kawasan hijau berubah menjadi hutan beton. Ini kenyataan yang sangat menyedihkan. (abun sanda) http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0612/20/metro/3187031.htm
__________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
