JAJARAN PENASEHAT SENIOR BARU, ALAT "GREENWASH" FREEPORT

JATAM, 19 Desember 2006. Bulan November kemaren, PT Freeport Indonesia (FI), perusahaan yang memiliki catatan pelanggaran HAM dan perusakan lingkungan yang sangat buruk di lokasi tambangnya di Papua ini, berhasil merekrut penasehat-penasehat baru. Mereka dikenal sebagai orang-orang terpelajar, juga ekonom ternama dan staf ahli menteri keuangan, mantan menteri dan pejabat Komnas HAM. Beberapa diantaranya dikenal vokal terhadap hak-hak rakyat dan lingkungan.

"Memang ada pengaruhnya buat rakyat Papua ?" Begitu tanggapan beberapa mahasiswa Papua saat diberitahu bahwa PT FI berhasil merekrut orang-orang akademisi dan tokoh-tokoh ternama sebagai penasehat-penasehat senior baru.

Dengan dukungan pendanaan yang tak terbatas dari tambang emas dan tembaganya di Papua, Freeport bisa melakukan apapun. Mulai membayar tentara dan polisi mengamankan pertambangannya. Juga menggaji para tokoh ditingkat local hingga internasional untuk menjadi penasehatnya. Sebut saja mulai Henry Kissinger, Prof. Otto Soemarwoto, Dra. Mientje Roembiak, Prof. Dr. Oekan Abdullah, Prof. Dr. Achmad Ali, Dr. M. Chatib Basri, Prof. Dr. Farid Anfas Moeloek, Dr. Naffi Sanggenafa hingga HS. Dillon.

Silih berganti penasehat PT FI selama ini, ternyata tak membawa perbaikan bagi penghidupan orang Papua. Buktinya sudah hampir empat dekade rakyat Papua menjadi pelengkap penderita pertambangan PT FI. Lingkungan rusak parah, pelanggaran HAM dan pemiskinan terus berlanjut.

Freeport selalu melakukan pencitraan "hijau" atau "Greenwash" dalam setiap kesempatan dengan mengkampanyekan bahwa pertambangan mereka baik-baik saja, peduli terhadap lingkungan dan social. Seabreg gelar dan reputasi hebat yang dimiliki jajaran penasehat tersebut memperkuat legitimasi dan pencitraan Freeport. Lantas adakah pertangungjawaban social para penasehat tersebut terhadap rakyat Papua ?.

Berikut nama dan catatan beberapa penasehat baru Freeport tersebut :

HS Dillon, Dikenal sebagai sosok yang banyak menyuarakan masalah pertanian dan HAM di Indonesia. Beliau pernah menjabat menteri Pertanian dimasa kepemimpinan Gus Dur. Pernah menjadi anggota Komnas HAM, juga direktur Eksekutif Partnership for Government Reform in Indonesia.

Prof. Otto Soemarwoto. Pak Otto adalah guru besar Ekologi Unpad. Selain berkesempatan menjadi Guru Besar Tamu di Universitas California, Berkeley, AS. Pak Otto juga pernah aktif sebagai anggota Board of Directors, International Institute for Environment and Development (IIED, 1971-1978). Juga anggota Executive Board, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources, Swiss (IUCN, 1972-1976) dan anggota Commission on Ecology, Swiss (1980). Sejak bulan Agustus 2005, telah menjadi chairman the Sustainable Development Advisory Council (SDAC) yang didirikan Freeport pada tahun 2003 untuk memberikan saran dan rekomendasi bagi isu Pembagunan Berkelanjutan.

Prof. Dr. Oekan Abdullah, Kapuslit Sumber Daya Alam & Lingkungan Unpad. Bersama Pak Otto juga menjadi anggota SDAC yang didirikan Freeport.

Dr. M. Chatib Basri, Adalah ekonom yang saat ini menjabat Ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI. Lembaga ini juga melakukan riset untuk PT FI dan perusahaan tambang lainnya. Chatib juga menjabat Penasehat Menteri Keuangan RI pada kabinet SBY. Bersama Otto dan Oekan, Chatib telah lama menjadi penasehat Freeport di SDAC.

--------------------------------------------------------------------
Informasi lain terkait dengan advokasi pertambangan mineral dan energi dapat dilihat di www.jatam.org Dapatkan update informasi dari website kami dengan mendaftarkan alamat email anda sebagai anggota Info Kilat JATAM yang ada di sudut kiri bawah dalam website kami.

=======================
Luluk Uliyah
Media Publikasi JATAM
email : [EMAIL PROTECTED]
HP. 0815 9480 246
=======================


Kirim email ke