Diskusi dengan anda lucuuu. 
Memang hak semua orang untuk melebelkan seseorang tetapi konsistensi itu 
penting dalam berdiskusi,
apalagi (mungkin) jika anda wartawan. Konsep segitiga terbalik tidak ada dalam 
konsep atau nalar anda.
 
Semua jadi bias. Ayo kembali soal pemecatan wartawan kompas tersebut. Ha... 
ha....
 
Dimana label yang anda sebutkan bisa berkorelasi dengan kasus tersebut, jika 
bukan hanya masalah ketenagakerjaan biasa ha... ha.... dan hak berorganisasi 
tok. Dimana warna tersebut?
 
ha.... ha....
 
 
 
 
 
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
To: [email protected]
Sent: Wed, 20 Dec 2006 3:54 PM
Subject: Balasan: Re: [mediacare] Milis mediacare dikuasai "orang-orang merah" 
- Balasan: Bung Satrio Arismunandar lebih "hijau"


Priyo husodo : 
"cuma saya agak heran apakah Satrio ini lebih "hijau" begitu?" 

kalimat itu muncul dari postingan Priyo. Dialah orang pertama yang meletakkan 
warna warni terhadap masalah ini. jadi bila dia menggolongkan seseorang 
terhadap satu warna, maka saya juga berhak untuk melabelkan seseorang juag 
terhadap warna lain. Tentu sesuai dengan keinginan saya. toh tidak ada 
ukurannya. 

Lalu soal orang-orang merah. Yang saya maksudkan mengapa tiba-tiba postingan di 
milis ini seolah-olah secara tersengaja justru mengarah pada Bung satrio? bukan 
membahas nasib Bambang wisoduh yang tengah memperjuangkan nasibnya melawan 
KOMPAS? karena memang dari awal nada postingan Bung Satrio "membela" Bambang. 
Lalu dia diserang secara beramai-ramai. Kelompok inilah yang saya golongkan 
sebagai orang-orang merah? Anda keberatan? Itu hak anda. karena dimilis ini 
saya juga punya kebebasan. 

Kalau soal masalah PHK dan tenaga kerja, tentu kita perlu berdebat lagi. Dan 
saya tidak mengenal anda sebagai salah seorang yang ahli hukum tenaga kerja di 
negara ini. Jadi saya pikir anda juga tidak ahli. jadi buat apa saya perlu 
memperdebatkan masalah PHK dan tenaga kerja kepada anda? 

Salam 

CR 

MOD:
Untuk Lae Bonar, bukankah di dunia ini penuh warna-warni pelangi? Tak cuma 
hijau dan merah saja.

[EMAIL PROTECTED] wrote:
Bung congor eh salah, corong, saya bingung membaca posting anda. Apa yang anda 
maksud orang merah?

Yang saya tahu kasus wartawan kompas yang ter-PHK, ngak ada hubungan dengan 
warna-warna pelangi, merah kuning hijau dilangit yang biru?

Kasus PHK adalah kasus Perburuhan/ketenagakerjaan biasa. Kalau ada konflik 
adalah konfik internal managemen KOMPAS sendiri, kita sebagai orang luar ngak 
bisa ikut campur. 

Hanya masalah PHKnyalah kita bisa campur itu yang benar. (semoga kamu ngak 
mudeng ya).

Dan harus anda tahu bung satrio juga aktifis dari salah satu organisasi 
kewartawanan. Maka dia punya kepentingan sebagai sesama wartawan/jurnalis/buruh 
berkerah ini.

Jadi sekali lagi biar kamu lebih pinter masalah PHK ngak ada hubungan sama 
warna pelangi ya.
Baca pernyataan sikap wartawan yang terPHK itu, bahwa ia masih mencintai KOMPAS 
sebagai Medianya, tetapi tidak sebagai sistemnya, sistem inilah yang ia ingin 
rubah sebagai aktivis serikat pekerja hal itu wajar dan harus kita dukung. JAdi 
wajar dukungan banyak datang dari serikat pekerja jurnalis dan Buruh. 

panjang27



-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
To: [email protected]
Sent: Tue, 19 Dec 2006 11:10 PM
Subject: [mediacare] Milis mediacare dikuasai "orang-orang merah" - Balasan: 
Bung Satrio Arismunandar lebih "hijau"

Buat Bung satrio. 
Agaknya Bung tidak perlu risau. Karena memang milis ini "dikuasai" orang-orang 
merah. Tidak hijau. Saya dari awal hanya pasif di milis ini. tapi lama kelamaan 
melihat Bung Satrio malah menjadi target sasaran. Padahal isu awalnya adalah 
tentang pemecatan Bambang Wisudoh. Tapi orang-orang merah ini memang seolah 
terorganisir. mereka mengalihkan perhatian dengan menyerang Bung Satrio. 
Padahal yang disuarakan Bung satrio adalah logis dan masuk akal semuanya 
tentang KOMPAS. hanya orang-orang merah yang didalamnya merasa kepanasan dan 
seolah merasa besar seluruhnya. Padahal mereka tidak sadar suatu saat bakalan 
mengalami nasib yang serupa seperti Bambang Wisudoh. Dicampakkan dan dibuang 
begitu saja setelah membela mati-matian lembaganya. 

Jadi Bung satrio lebih beruntung. karena lebih dulu memilih jalan untuk keluar 
dari komunitas orang-orang merah itu. Biarlah mereka berpikiran seperti itu. 
toh mereka hanya mampu di tahapan itu saja. Tak mampu berbuat lebih. 
Maju terus Bung. 

Priyo Husodo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalo ngomongin Bung Satrio sih, saya sangat menikmati tulisannya ketika
Perang Irak tahun 1990, menurut saya ketika itu liputan Bung Satrio termasuk
yang kudu dibaca. Liiputannya membuat saya simpati sama saddam husein.
cuman sejak itu memang tidak ada liputan yang "mengigit" dari Bung Satrio.
Di Kompas sekarang bung Wisudo termasuk yang bagus tulisannya sama seperti
liputan Maruli tobing atau rikard bagun (kok jarang nulis lagi sih). tipikal
Satrio dan Maruli hampir sama... jurnalis itu harus berpihak kepada yang
lemah betapapun yang lemah itu salah (ini cuman perasaan loh).
Tapi ketika di TV justru bung satrio kehilangan imaginasinya (?) apa mungkin
karena karakter kedua media ini berbeda?
kalo di koran kita bisa menerawang melintasi daya imaginasi kita, tapi
bahasa tv sudah begitu gamblang audio dan videonya.
cuman saya agak heran memang mengapa bung satrio lebih "hijau" gitu? ada apa
yah? atau memang bung Satrio ini sekarang menganggap hijau ini lebih lemah
sehingga perlu berpihak?
saya rasa apa yang Ging bilang cukup bijak buat aji (emang loh Ging dari
dulu tetep "cool"...) eh kabar eko item gimana yah? ada yang tahu?
denger-denger di di BBC?

salam dari rimba borneo,

ph

 
________________________________________________________________________
Check Out the new free AIM(R) Mail -- 2 GB of storage and industry-leading spam 
and email virus protection.

Kirim email ke