Catatan Aktivis Buruh Suratkabar Kompas

Oleh: P. Bambang Wisudo

Sejak saya disekap di pos satpam Kompas-Gramedia, Jumat (8/12) sore,
praktis waktu saya habis untuk membaca dan menjawab pesan pendek (sms)
dan telepon untuk menyatakan dukungan. Hari ini adalah hari ketujuh
sejak peristiwa memalukan itu menimpa saya. Ratusan sms dan telepon
masuk tiap hari. Belum lagi saya sempat membaca pesan melalui e-mail.
Padahal tidak mungkin lagi melihat e-mail yang masuk melalui alamat
[EMAIL PROTECTED] yang telah diblokir sejak Jumat pagi ketika desas-desus
pemecatan terhadap saya beredar.

Semua ini merupakan bukti bahwa kasus ini bukan kasus internal sebuah
perusahaan, bukan sekedar kasus pemecatan semata-mata. Ratusan
dukungan yang mengalir ini sekaligus membantah argumen yang dipakai
pejabat Kompas untuk meminta solidaritas pemimpin media massa di
Jakarta agar memblokir berita-berita manyangkus kasus ini. Kalaulah
ini bukan kasus yang menyangkut urusan publik, menyangkut nilai yang
penting dalam bermasyarakat, mana mungkin saya menerima simpati yang
begitu besar. Siapalah saya? Saya bukan siapa-siapa. Mereka bersuara
bukan karena saya seorang yang bernama Bambang tetapi karena peristiwa
penistaan yang dilakukan sebuah institusi terhormat terhadap diri
saya.
***

SAYA sadar betul bahwa sejumlah pemimpin Kompas sejak lama ingin
menyingkirkan saya karena aktivitas saya sebagai pengurus serikat
pekerja ataupun sebagai seorang wartawan sering usil menggugat sikap
Kompas dalam pemberitaan. Sahabat-sahabar yunior saya di kantor sering
mengatakan, saya punya banyak nyawa. Beberapa kali mau disingkirkan
tetapi tetap bisa lolos, dan saya tidak kapok-kapok bersuara. Ternyata
nyawa saya terbatas. Akhirnya saya dipecat.
Sejak Kompas berdiri, baru sekali ini wartawan dipecat. Itupun setelah
disekap di pos satpam selama dua jam, dipegang paksa atau dipiting,
digotong-gotong dalam jarak seratus sampai dua ratus meter. Ketika
saya berteriak-teriak, tidak ada menolong.

Saat saya menerima surat pemecatan, saat isteri saya menyampaikan
surat penolakan pemecatan tiga hari kemudian, tidak ada kata
permintaan maaf dari Kompas atas tindak kekerasan yang saya alami.
Sampai hari ini.
Yang dilakukan justru sebaliknya. Seluruh karyawan Kompas dikumpulkan,
dibriefing oleh Pemimpin Redaksi Suryopratomo, dan disuruh
mendengarkan bantahan Wakil Ketua Satpam Kariman Sinambela bahwa
mereka tidak melakukan kekerasan. Pertemuan intern itu diberitakan
oleh wartawan senior Robert Adhi KSP yang kredibilitasnya tidak
diragukan ketika menjabat sebagai wakil kepala biro di Semarang,
melalui Kompas Online. Berita itu jelas tidak berimbang, menyalahi
kode etik, dan ketika saya berkali-kali menghubungi pimpinan Kompas
untuk minta hak jawab, mereka mengabaikan. Lagi-lagi ini merupakan
blunder yang dilakukan pimpinan Kompas. Mereka seharusnya tahu kode
etik, tahu hak jawab, apalagi Pak Jakob selama bertahun-tahun selama
pemerintahan Orde Baru pernah memimpin Dewan Pers. Saya akan segera
mengadukan pelanggaran kode etik ini ke Dewan Pers.
***

MENGAPA para pejabat Kompas enggan menjelaskan langsung kepada publik
terhadap peristiwa kekerasan dan pemecatan yang erat terkait dengan
aktivitas saya sebagai pengurus serikat pekerja? Saya paham betul
betapa mereka menghadap situasi yang dilematis. Suratkabar Kompas
menjadi besar seperti sekarang karena berhasil membangun citra diri
sebagai pengemban amanat hati nurani rakyat, sebagai pembela hak asasi
manusia, dan pembela demokrasi. Kata hati, mata hati. Namun peristiwa
yang menimpa diri saya telah memutarbalikkan citra yang dibangun
selama ini. Ternyata institusi Kompas tidak lebih dan tidak kurang
memperlakukan pekerjanya seperti buruh pabrik sandal jepit. Istilah
sandal jepit pernah dipakai Pak Ojong, almarhum pendiri Kompas, untuk
membedakan antara karakteristik pabrik dan perusahaan suratkabar.

Sampai hari ini saya belum merasa dipecat dari Kompas. Saya merasa
seperti wartawan Kompas yang sedang mengambil cuti. Kalau saya kini
berjuang, mengadukan Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo ke polisi,
mengungkapkan kasus-kasus yang terkait pembungkaman serikat pekerja di
Kompas kepada publik, itu semua dalam rangka upaya saya memperjuangkan
hak-hak saya dan untuk mendorong perubahan internal Kompas dari luar.

Saya pernah memimpikan Kompas. Banyak anak muda saat ini yang juga
memimpikan bisa bekerja. Saya sama sekali tidak membenci Kompas. Akan
tetapi saya tidak suka dengan tindakan sekelompok orang yang tengah
melakukan pembusukan terhadap Kompas dari dalam, dengan menciptakan
ketakutan di ruang redaksi dan dengan memberangus kritisisme di ruang
redaksi. Pilar intelektualisme yang menjadi penyangga utama suratkabar
ini telah lama dirobohkan, digantikan dengan tuntutan loyalitas buruh
yang tidak merdeka.

Keputusan kini tinggal di tangan Pak Jakob. Apakah Pak Jakob sebagai
Pemimpin Umum Kompas mau atau tidak menarik atau merevisi
kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan manajemen Kompas, meminta
maaf kepada publik atas kekerasan dan aksi pemberangusan terhadap
kebebasan berserikat yang telah terjadi. Bila pilihan kedua yang
dipilih, inilah kematian bagi Kompas. Sikap antiunion dan sikap
antidemokrasi akan menjadi citra baru suratkabar yang pernah dihormati
di negeri ini dan akan segera mengantarkannya ke liang kubur. Saya
kira masih ada sedikit sisa waktu bagi Pak Jakob dan orang-orang
kritis di dalam untuk menyelamatkan Kompas. (P Bambang Wisudo)

Penulis adalah Sekretaris Perkumpulan Karyawan Kompas dan Ketua Divisi
Etik dan Profesi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.

Kirim email ke