Benerkah wisudoh bersandiwarah?
22 des 2006,kamis

Pihak keamanan menegurnya, 
lalu dia dibawa ke pos petugas keamanan. 
Saat digandeng, dia menjatuhkan diri. 
"Tapi diberitakan dia disandera 
setelah diwawancarai radio swasta," katanya. 
RUDY PRASETYO | WAHYU MURYADI
 
Koran Tempo, 21 Desember 2006
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>


Hmm,inihlah yang kusengbutken,buat si Aries.

Ati atilah kamu merilisken laporan,

JANGAN ADA TENDENSIUS SEPIHAK HAJAH.

Lalu kau bacaklah,alesan kompas memecat si paulus inih.

Kerana di bawah inih, ada keterangan,

WISUDOH ENGGAK DIPERKOSAH,

MELAENKEN DIAH PURA PURA TERJATOH?


Jadi tulunglah,wartawa aries nan piawai inih,

Bisak menempatken keberaniannyah pada posisi

Sak urang kesatriah yang bukan bayaran uler ijoh.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>



Kompas Didemo Ratusan Orang
 
JAKARTA - Lebih dari 300 orang yang tergabung dalam Komite Anti 
Pemberangusan Serikat Pekerja (Kompas) berdemo di depan kantor 
Kompas di Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, kemarin. Mereka menuntut 
Bambang Wisudo, wartawan Kompas yang dipecat, dipekerjakan kembali.
 
Dalam aksi tersebut, komite, yang terdiri atas gabungan puluhan 
lembaga swadaya masyarakat, ini melakukan orasi di atas truk. "Kami 
mengutuk aksi kekerasan dan penyanderaan terhadap Bambang Wisudo," 
kata Hendrik Sirait, koordinator lapangan.
 
Selama aksi berlangsung, mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dan 
meneriakkan yel-yel dan lagu-lagu perjuangan aksi solidaritas untuk 
Bambang Wisudo. Mereka juga mengusung spanduk, bendera, dan karton 
dengan aneka tulisan, seperti "Kembalikan Kompas yang dulu" 
dan "Stop kekerasan di Kompas".
 
Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo mengatakan saat ini pihaknya 
sedang mengajukan proses pemecatan terhadap Bambang Wisudo ke 
Departemen Tenaga Kerja. "Dia dinilai bertindak di luar batas 
kepatutan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut Kompas," 
ujarnya.
 
Seperti diberitakan sebelumnya, Bambang Wisudo dipecat oleh 
manajemen Kompas setelah memperjuangkan berdirinya serikat pekerja 
dan pembagian saham 20 persen untuk karyawan.
 
Menurut Suryopratomo, berita itu tak benar. Serikat pekerja di 
Kompas masih eksis sampai sekarang. Soal saham 20 persen untuk 
karyawan itu sudah disepakati bersama. "Kekerasan yang diembuskan ke 
luar, itu juga tidak benar," katanya. Itu semua, menurut dia, bisa 
dilihat dari CCTV.
 
Kronologinya, pada 7 Desember lalu, dia menempelkan surat pribadi 
kepada Jakob Oetama, Pemimpin Umum Kompas, tentang permintaan untuk 
tidak dimutasi ke Ambon. "Mutasi itu berlaku bagi 56 wartawan Kompas 
yang lain," ujarnya.
 
Mengenai mutasi, dia malah mengajukan keberatan ke bagian sumber 
daya manusia agar dimutasi ke Garut, bukan ke Ambon, dan meminta 
waktu hanya tiga bulan. "Itu tidak mungkin," ujarnya. Tapi keesokan 
harinya, dia menempelkan selebaran surat pribadi dari Jakob Oetama 
itu di seluruh gedung Kompas.
 
Pihak keamanan menegurnya, lalu dia dibawa ke pos petugas keamanan. 
Saat digandeng, dia menjatuhkan diri. "Tapi diberitakan dia 
disandera setelah diwawancarai radio swasta," katanya. RUDY PRASETYO 
| WAHYU MURYADI
 
Koran Tempo, 21 Desember 2006
        Wed Dec 20, 2006 4:59 pm 

 Show Message Option 
________________________________________


Kirim email ke