Teman-teman yang terhormat, Di bawah ini adalah cerita dari seorang tunanetra, yang kembali mendapatkan perlakuan diskriminatif oleh perusahaan penerbangan Indonesia. Hal seperti ini hanya terjadi di negeri Indonesia raya ini...
Salam Aria Indrawati ----- Original Message ----- From: Aris Yohanes To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, December 20, 2006 3:21 PM Subject: [mitra-jaringan] Pengalamanku Dear all, Hari ini aku mau bercerita sedikit tentang pengalamanku selama pergi ke amerika. Namun sebelumnya aku mohon maaf jika aku baru sekarang sempet nulis tentang ini. abis pertama-tama ada error dengan account di yahoo. yg kedua baru sekarang dapet kesempatan makek internet dengan agak lebih leluasa. Ok, akhirnya pada hari senin tgl 11-12-2006 aku sampai kembali di Indonesia dengan selamat setelah melewati berbagai rintangan yg melelahkan. Tapi seharusnya aku sampai pada hari minggu waktu indonesia. cuma karena ada kerusakan mesin pada saat mendarat di alasca jadi agak sedikit terlambat. Sebenernya kisah perjalananku sih kayaknya gak terlalu penting, cuma ada yang kuanggap penting. Begini, sewaktu aku berangkat pada tanggal 2-12-2006, aku pertama-tama naik garuda indonesia tujuan singapura yang terbang pada pukul 7 malam. Nah ketika check in, kami satu tunanetra dan satu kursi roda, harus terlebih dahulu menandatangani sebuah persetujuan yang inti dari isinya perusahaan penerbangan itu tidak akan bertanggung jawab bila terjadi hal-hal yg tidak diinginkan. Ada 7 poin yg harus kami patuhi. Dan bila kami telah menandatangani persyaratan itu, kami diharuskan membayar sejumlah uang. Tentu saja kami protest dan mencoret 7 poin itu dan hanya memberi tanda tangan saja tanpa menganggap poin itu ada karena waktu yg semakin mendesak. Pada saat itu saya sempat bertanya apakah semua airlines mengharuskan peraturan semacam ini. Jawaban mereka ya. Namun apa yang mereka jawab itu tidak terbukti kebenarannya, karena setelah kami check in untuk united airline dan catai phacific kami tidak diberi apapun yang harus kami tandatangani begitu juga dengan pulangnya. Ketika sekembalinya dari amerika dan tiba di singapura, kami kembali naik garuda dan kembali kami harus menandatangani persyaratan itu. Masalah yang aku kemukakan di sini adalah tentang persyaratan itu. Sudah banyak keluhan dari teman-teman pennyandang cacat lain yang mengeluhkan soal ini. Mereka berfikir bahwa ini adalah suatu tindak diskriminasi. Padahal kita sedang merintis sebuah masyarakat yang inklusi. Bagai manakah tanggapan anda sekalian mengenai hal ini? Sekian sedikit pengalaman dariku. Warm and best regards. -------------------------------------------------------------------------------- No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.15.25/593 - Release Date: 12/19/2006 1:17 PM
